Bung Yap,

Lebih baik anda jangan kecewa dengan hasil pilihan anda, ingat lho...dalam
PEMILU itu anda sama sekali bukan memilih presiden, tapi milih caleg,
moga-moga anda tidak tertipu. Konstitusi kita memang begitu.

Makanya harus dibedakan memilih Megawati dengan Memilih PDIP, Saya
khawatir bung Yap ini pun nggak tahu caleg yang di pilihnya(maaf lho,
hanya menduga).

Kalau mau benar-benar fair, kenapa presiden nggak dipilih langsung oleh
rakyat aja?. 

Tentang suara yang 82% pemilih PDIP, kemungkinan mereka belum memahami
seperti apa itu reformasi dan tuntutan-tuntutannya, atau kalaupun mereka
tahu mungkin mereka nggak peduli dengan tuntutan-tuntutan yang bikin
mereka pusing itu. Atau bisa juga mereka lebih percaya kepada
partai-partai yang sudah lama eksis, seperti PDIP, P. Golkar, PPP.

Kegagalan partai-partai reformis meraup suara mereka sudah tentu masalah
waktu yang sempit, sehingga belum sempat bersosialisasi dengan rakyat
secara maksimal. 

Tapi harap diperhatikan bung Suara(pendapat) seorang pakar hukum tentang
UUD'45 bobotnya jelas beda dengan suara(pendapat) seorang tukang becak.
Walaupun secara demokrasi suara mereka sama, yaitu masing-masing satu(1). 

On Fri, 18 Jun 1999, Yap C.Young wrote:

> Ooooh begitu, saya kira digugat oleh yang kalah.
> Mengapa menggugatnya setelah permainan selesai?
> 
> Padahal sejak sebelum Pemilu Megawati sudah wanita.
> Dan kualitasnya juga sudah ketahuan sebelum Pemilu.
> 
> Saya nggak sependapat kalau dikatakan yang menggugat status wanitanya 
> kelompok Islam, karena kalau ada survey mayoritas pemilih PDI-P saya kira 
> adalah umat Islam. To make more precise, yang menggugat itu adalah orang 
> yang kebetulah beragama Islam dan khawatir kepentingannya terganggu kalau 
> Megawati jadi Presiden. Kata Anda demi kepentingan semua jadi mungkin. Udah 
> lupa?
> 
> Tentang kualitas, itu kan tergantung parameternya.
> Parameter Pemilu yang mana yang tidak dipenuhi Megawati?
> Kalau ada kan sudah di dis duluan.
> 
> Kalau dikatakan 82% pemilihnya berpendidikan SMP kebawah, lha kok orang yang 
> dibilang pintar itu nggak mampu meraup suara mereka?
> Padahal suara seorang yang nggak tamat SD itu dalam Pemilu kita sama 
> harganya dengan seorang S1-S2-S3-S teller. Siapa dong yang tidak 
> berkualitas? Atau siapa sih yang Anda bilang berkualitas itu?
> 
> Dikampung saya, kalau tim sepakbola tarkam pak lurah kalah oleh RT lain, 
> juga cuma dua kok gendangnya. Kalau nggak tawuran ya diulang, sampai timnya 
> pak lurah menang.
> Pernah diulang 17 kali, dan tetap kalah. Yaaa tawuranlah. He..he..he.
> 
> Eh, saya bukan pendukung Megawati lho. Saya cuma penentang ketidak adilan. 
> Believe me, baby.
> 
> 
> >From: "Raja Komkom S." <[EMAIL PROTECTED]>
> >Bung Yap,
> >
> >Megawati digugat statusnya oleh kelompok Islam ....
> >Megawati digugat kualitasnya oleh yang lain.....
> >
> >Jadi masalah yang paling utama bukan gender, tapi kualitas ....
> >
> >
> >______________________________________________________________________
> >To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> 
> 
> ______________________________________________________
> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
> 


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke