On Wed, 4 Aug 1999, GIGIH NUSANTARA wrote:
>
> Melakukan penyanggahan-penyanggahan dengan menggunakan fakta-fakta yang
> dicari dengan sekenanya, orang Jawa bilang, adalah 'srekalan'. Ini
> lebih pantas untuk memuaskan diri sendiri, daripada menyelesaikan
> masalah. Sebaiknya berpikir rada ilmiah, dan 'asal comot' agar bisa
> membuat srekalan-srekalan.
>
> Aku tidak bisa menemukan 10, tapi cara yang satu ini yang membuat orang
> patah arang berdiskusi dengan Anda, Komkom.
>
Anda betul sekali pak Gigih, soalnya saya juga udah bosan mendengar
istilah-istilah pilihan rakyat, dukungan terbanyak rakyat, dsb.dsb. Dan
tulisan terdahulu saya sudah saya katakan bahwa masalah ini(muaranya
bermula dari siapa yang seharusnya jadi presiden, siapa yang mendapat
dukungan terluas) sudah dibolak balik berkali-kali, masing-masing punya
argument sendiri. Setiap argumen ada benarnya, tapi ada juga salahnya.
Barangkali pak Gigih sudah tidak ingin mendengar lagi penjelasan saya
tentang siapa dukungan rakyat, karena pak Gigih juga sudah punya alasan
sendiri.
Masalahnya sekarang bagaimana kita menghargai perbedaan yang ada, bukan
memaksakan perbedaan jadi persamaan. Nanti kita jadi otoriter.
PS:
Saya pribadi sangat tidak menginginkan ada yang patah arang bila diskusi
dengan saya, asalkan kita saling menghormati. Lain ceritanya kalau tidak
saling menghargai. Ya nggak??? Pak Gigih. Plus mungkin candaan saya di
milis ini sering terkesan serius dan menyinggung perasaan orang lain.
Salam
Regar's
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!