Terima kasih Bung Yap, anda rupanya menangkap apa yang
saya maksudkan. Dari awal sebelum Pemilu saya rada
bingung soalnya melihat kerancuan yang terjadi ini.
Dalam hidup ini, kita harus berpegang pada
"OMONGAN dan JANJI" kita. Kalau kita sendiri sudah
tidak menghargai Omongan/Janji kita, siapa lagi
yang akan menghargai kita ?
Buat rekan2 disini, Selamat berakhir pekan.
Salam,
bRidWaN
At 09:09 AM 8/14/99 JAVT, Yap C. Young wrote:
>Ah bung Iwans (eh Bung Sam) ini candanya keterusan yaah...
>
>Sam wrote:
>>Ah jangan apriori dululah. Kalau banyak yang bingung ya wajar saja. Wong
>>kita baru merdeka satu tahun kok maunya serba jelas. Nggak mungkin itu.
>
>Masak kita dibilang baru merdeka satu tahun. Kalau begitu selama ini kemana
>aja?? Apa benar para politisi itu baru merdeka satu tahun dan perlu
>dimaklumi kalau mereka menebar ketidak jelasan sebagai refleksi kebingungan
>dirinya?? Apa sih indikasi kemerdekaan itu?? Emang perlu berapa tahun agar
>sesuatunya serba jelas? Kebayang nggak, berapa harga ketidak jelasan itu
>yang harus ditanggung rakyat?
>
>Lalu katanya "Memangnya orang dilarang untuk berbeda pendapat."
>Sebagai wartawan yang beruntung mengenyam Strata 2, mestinya bung Sam tahu
>dong kapan saatnya boleh beda pendapat. Ada bedanya antara beda pendapat
>dengan pengingkaran, kan? Apakah beda pendapat itu merupakan tujuan atau
>cara berdemokrasi? Apakah demokrasi masih mengijinkan beda pendapat setelah
>suatu keputusan bersama diambil?
>
>Lalu tentang simulasi bung Ridwan, dengan tegas bung Sam bilang SALAH,
>dengan kekhawatiran timbulnya kebuntuan politik.
>
>Kalau salah, mengapa dibanyak negara demokrasi, logikanya bung Ridwan itulah
>yang dijalankan? Apakah mereka tidak tahu salah satu risikonya : kebuntuan
>politik? Mengapa mereka selalu memberi kesempatan pemenang Pemilu untuk
>membentuk pemerintahan dengan tenggat waktu tertentu? Apakah mereka belum
>tahu tentang pembentukan ini ada strategi power sharing, penyatuan visi dan
>program, yang memungkinkan dukungan suara parlemen mayoritas bagi
>pemerintahan?
>Apakah mereka belum paham tentang koalisi, aliansi, pembentukan poros,
>kaukus, kontak langsung dengan key person, menggunakan jasa mediasi dan lain
>lain dalam menggalang dukungan mayoritas parlemen?
>Mengapa juga tidak ada keributan ketika hampir setiap Pemilu Partainya Ehud
>Barak memenangkan Pemilu tetapi gagal membentuk Pemerintahan, kecuali yang
>sekarang ini?
>Mengapa pula ada tradisi demokrasi, dimana Calon Pemimpin Pemerintahan
>mengembalikan mandat karena gagal membentuk pemerintahan?
>Apakah bukan ini esensi demokrasi yang menawarkan pergantian pemerintahan
>secara damai?
>Apa yang kita khawatirkan kalau Pemenang Pemilu diberi kesempatan untuk
>membentuk Pemerintahan, lalu pemerintahan itu dimintakan persetujuan
>Parlemen?
>Bolehkah kita menjatuhkan hukuman berdasarkan suatu kekhawatiran?
>
>Tentang pemungutan suara bertingkat bung Sam menulis:
>
>>Kalau kemudian ternyata hasilnya adalah A dipilih 194 dan B dipilih
>> >182,serta ada 325 orang yang abstain. Maka barulah kita boleh >menyatakan
>>bahwa A adalah calon pilihan kita semua.
>
>Pertanyaannya:
>Apakah ada jaminan dalam setiap pengambilan keputusan berikutnya yang 325
>itu abstain terus??? Kalau tidak, berarti model pemilihan ini tidak
>menyelesaikan kekhawatiran kebuntuan politik dong! Jadi untuk apa ini
>dilakukan?
>
>Tentang ujian dan debat sebelum pengambilan suara, pertanyaannya apakah
>orang yang pandai debat dan bagus nilai ujiannya dijamin pasti lebih mampu
>menjadi Presiden? Kalau ya, mengapa banyak bintang kelas yang hanya mediocre
>saja dalam kehidupan nyata dimasyarakat? Apakah parameter dan materi ujian
>dan perdebatan ini dijamin sesuai dengan aspirasi rakyat? Siapa yang
>menetapkan? Apakah mereka bebas kepentingan individu atau kelompok? Apakah
>ujian dan debat ini lebih tinggi kualitasnya daripada Pemilu?
>
>Bung Sam, ajarin kite dooong.
>
>
>>From: Sam <[EMAIL PROTECTED]>
>>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>>To: [EMAIL PROTECTED]
>>Subject: Re: [Kuli Tinta] Poros bingungnya Amien Rais....?
>>Date: Sat, 14 Aug 1999 16:51:16 +0700
>>
>>bRidWaN wrote:
>> >
>> > Betul bung Yap, kayanya para tokoh2 yang sering ngomong2
>> > meramaikan sembari membuat bingung, masih rada2 terbawa
>> > era jaman dahulu kala....masih kuno....atau belagak kuno ?
>>
>>Ah jangan apriori dululah. Kalau banyak yang bingung ya wajar saja. Wong
>>kita baru merdeka satu tahun kok maunya serba jelas. Nggak mungkin itu.
>>Jadi kalau banyak orang bingung sekarang ini ya wajar-wajar saja toh.
>>Saya kira pelaku politiknya sendiri tidak seperti itu. Bagaimanapun
>>mereka politikus bukan, pasti punya kepentingan sendiri-sendiri.
>>
>> > Apalagi bila musyawarah untuk mufakat dikaitkan dengan
>> > 'BULAT' (bukan LONJONG), ini yang berabe.....
>>
>>Saya paling tidak suka dengan kata-kata mufakat. Memangnya orang
>>dilarang untuk berbeda pendapat. Apa bedanya dengan jaman sebelum
>>merdeka.
>>
>> > Seharusnya menurut saya seperti ini kira2 pemilihan Presiden :
>> >
>> > A mendapat suara 194
>> > B mendapat suara 182
>> > C mendapat suara 168
>> > D mendapat suara 157
>> >
>> > Yang menang kan seharusnya si A...
>> > Betul ngga sih ??
>>
>>Salah ! Kalau calonnya empat orang salah ! Dari sisi jumlah suara,
>>mungkin dia menang, tetapi menangnya adalah minoritas. Artinya, kalau si
>>B, C dan D menggabungkan suaranya maka si A jelas nggak punya arti
>>apa-apa. Mungkin si A bisa memimpin, tetapi kepemimpinannya tidak akan
>>efektif karena semua kebijakannya di tingkat pengambilan keputusan akan
>>dijegal, dan buntutnya adalah kebuntuan politik !
>>
>>Yang benar adalah -- dengan asumsi Bung bRidwan -- maka sebelum diadakan
>>pemilihan terhadap empat calon maka mesti ditetapkan dulu suara minimal
>>yang mesti dicapai seorang calon. Atau calon-calon tersebut diuji dulu
>>di depan para pemilih dengan membuka debat terbuka berbentuk tanya jawab
>>agar para calon pemilih bisa mempertimbangkan pilihannya kembali.
>>
>>Lantas adakan pemilihan lagi, sampai nantinya tinggal dua calon terbesar
>>yang memenuhi syarat minimal. Misalkan dalam contoh Bung Ridwan tadi
>>maka A dan B adalah dua suara terbesar. Maka C dan D harus berbesar hati
>>untuk menyingkir (katakan saja suara minimal yang mesti dicapai adalah
>>180 suara) dan pilihan tinggal A (dengan pendukung 194) dan B (dengan
>>pendukung 182).
>>
>>Mereka berdua (A dan B) harus dipilih oleh 168 suara (mantan pemilih C)
>>dan 157 suara (mantan pemilih D). Jadi ada 325 suara yang diperebutkan.
>>Dan tidak tertutup kemungkinan ada yang abstain nantinya.
>>
>>Kalau kemudian ternyata hasilnya adalah A dipilih 194 dan B dipilih 182,
>>serta ada 325 orang yang abstain. Maka barulah kita boleh menyatakan
>>bahwa A adalah calon pilihan kita semua.
>>
>>Dan itulah yang selama ini lazim diterapkan pada berbagai organisasi
>>dimanapun di dunia.
>>
>>Terkecuali A, B, C dan D dipilih langsung ! Dan tidak ada mekanisme
>>pemilihan bertingkat sebagaimana aturan UUD 1945 kita.
>>
>>Dulu karena melalui pemilihan langsung, saya juga menjadi Ketua Senat
>>Mahasiswa dengan suara minoritas. Saya dipilih dengan 245 suara, pesaing
>>terdekat saya 180 suara, rangking tiga 120 suara, rangking empat 80
>>suara sampai rangking ketujuh. Bila suara saya dibandingkan dengan
>>gabungan suara kedua sampai ketujuh maka saya hanya didukung kurang dari
>>20 % suara, belum termasuk yang tidak ikut memilih alias abstain !
>>
>>Dan begitulah demokrasi di jalankan.
>>
>>Karena itu bila Megawati ingin jadi Presiden tanpa perlu repot-repot
>>negosiasi maka adakan amandemen UUD 1945 secepatnya. Presiden bisa
>>dipilih langsung, dan mungkin Sri Bintang Pamungkas akan mendapat suara
>>yang cukup besar, mungkin mengalahkan Amien Rais.
>>
>>Yang terjadi sekarang inikan tidak begitu. Pemilih Golkar dan PPP,
>>sebagai contoh. Apa dalam benak pemilihnya sudah terbayangkan bahwa
>>dengan memilih Golkar dan PPP maka mereka juga sekaligus memilih Calon
>>Presiden Akbar Tandjung atau Hamzah Haz. Kan nggak begitu toh ?
>>
>>Atau mungkin saya yang keliru. Silahkan dilanjutkan ....
>>
>>Lam Salam,
>>
>>
>>S a m
>>
>>
>> >
>> > Salam,
>> > bRidWaN
>> >
>> > > ----------
>> > >From: Yap C. Young
>> > >To: [EMAIL PROTECTED]
>> > >Subject: Re: [Kuli Tinta] Poros bingungnya Amien Rais....?
>> > >Date: Wednesday, August 04, 1999 9:21PM
>> > >
>> > >Saya kira nggak masalah kalau memang Mas Amien bersama poros tengah-nya
>>maju
>> > >terus mengusulkan Gus Dur sebagai Capres. Itu baik saja.
>> > >Justru disini bakal teruji, siapa sebenarnya yang mendapat dukungan
>>terbesar
>> > >suara MPR, dan sekaligus kita lihat korelasi antara suara MPR dan suara
>> > >rakyat.
>> > >
>> > >Yang agak membingungkan adalah pernyataan Prof Ryas Rasyid : Pemilihan
>> > >Capres harus diulang sampai salah satu calon mendapat suara minimal
>>351,
>> > >untuk menjamin kestabilan Pemerintahan.
>> > >Angka 351 ini juga terus diulang-ulang oleh mas Amien.
>> > >
>> > >Kalau capresnya lebih dari 2 mengapa angka 351 masih disakralkan juga?
>> > >Bukankah yang penting suara terbanyak, yaitu lebih banyak dibanding
>>capres
>> > >lainnya.
>> > >
>> > >Kalau soal stabilitas Pemerintahan, kan bisa dimanajemeni melalui
>>pembagian
>> > >portofolio Pemerintahan antar parpol yang punya wakil di DPR, sehingga
>> > >menjamin dukungan untuk Pemerintah di DPR lebih dari setengahnya.
>>Itupun
>> > >idealnya ada sebagian yang kritis, sehingga kalau kebijakan Pemerintah
>> > >memang salah, DPR tetap mampu mengoreksinya. Bukan menjadi loyalitas
>> > >fanatik.
>> > >
>> > >Walaupun aturan demokrasi di Indonesia ini agak berbeda dengan
>>pemahaman
>> > >demokrasi didunia, ya sudahlah, kita kan maunya begitu.
>> > >
>> > >Semua pihak sebaiknya besar hati agar urusan pergantian pemerintahan
>>ini
>> > >selesai dan kita dapat berharap segala krisis dapat diakhiri satu
>>persatu.
>> > >
>> > >Semoga yang terbaik yang terjadi di Indonesia.
>> > >
>> > >Yap.
>> > >
>> > >>From: "Mas Kojen" <[EMAIL PROTECTED]>
>> > >>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>> > >>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>> > >>Subject: [Kuli Tinta] Poros bingungnya Amien Rais....?
>> > >>Date: Tue, 3 Aug 1999 10:18:13 +0700
>> > >>
>> > >>Assalamu'alaikum wr .wb
>> > >>
>> > >>Poros "bingungnya" Amien Rais mencalonkan Gus Dur sebagai Presiden
>> > >>dengan maksud menarik PKB dari PDI-P dan menyeret PPP dari Golkar.
>> > >>Apa yang diperbuat Amien ini saya kira tidak disokong oleh pengikut
>> > >>PAN dan Amienpun telah mengkhianati para pemilih PAN yang memilih
>> > >>PAN waktu pemilu. Untunglah Mattori Abdul Jalil dari PKB dan
>> > >>Sekjennya Muahaimin Iskandar tidak begitu "buta" saja untuk
>> > >>meninggalkan PDI-P yang memang telah meraih suara terbanyak dalam
>> > >>pemilu, sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa Ibu Mega dari PDI-P
>> > >>adalah pilihan rakyat terbanyak untuk menjabat Presiden negeri ini.
>> > >>
>> > >>
>> > >>Tindakan Mattori dan Muhaimin ini adalah tindakan yang tepat dan
>> > >>saya kira juga tidak akan mengkhianati pemilih PKB sendiri. Dengan
>> > >>mendukung Ibu Mega PKB telah bertindak yang tepat pada waktu yang
>> > >>tepat dengan pilihan yang juga tepat pula.
>> > >>
>> > >>Wassalamu'alaikum wr.wb
>> > >>
>> > >>Mas Kojen
>> >
>> >
>> > ______________________________________________________________________
>> > If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
>> > To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
>> > To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>> >
>> > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>>
>>______________________________________________________________________
>>If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
>>To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
>>To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>>
>>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
>______________________________________________________________________
>If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
>To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!