Bung Martin, saya suka sekali posting Anda ini. Rupanya harus bertanya 
dengan gaya itu untuk membuat Anda 'menyanyi'....
Terimakasih friend.

Butir ketiga itu yang lebih ingin saya dengar, ternyata saya masih boleh 
punya harapan.

Kalau untuk butir keempat, saya masih agak konservatif, karena sering kita 
nggak cukup membuat judgement hanya dengan melihat permukaannya. It's a 
matter of comprehensiveness, man. Saya belum berani populis.

Kalau yang kedua, masih bisa didiskusikan lebih lanjut, karena intervensi 
bukan satu satunya instrument yang dipunyai BI untuk menstabilkan moneter.
Penyempurnaan sistem dan effektivitas pengawasan merupakan safe guard yang 
lebih 'murah' karena bersifat preventif, daripada intervensi yang lebih 
bernada pemadam kebakaran.
Misalnya redifinisi kerahasiaan bank, khususnya dalam law enforcement dalam 
masalah yang berbau korupsi atau kolusi. Jangan sampai kerahasiaan Bank ini 
terlalu normatif seperti sekarang ini, hanya dapat diberikan datanya kepada 
para penyidik setelah seseorang dijadikan terdakwa. Ini kan bisa menjadikan 
kerahasiaan bank sebagai tembok pelindung koruptor. Padahal justru lalu 
lintas uang di bank ini yang sering menjadi indikator kunci untuk mendapat 
data obyektif siapa terlibat apa. Mengapa tidak 'sedikit dilonggarkan' tanpa 
mengorbankan prudential banking system kita.
Ini contoh kecil saja bung.
Dengan melakukan sedikit realignment pada sistem perbankan, mungkin 
penelusuran effektivitas 150 triliun BLBI dan pemanfaatan sekian milyard 
dollar loan dari CGI, IMF, WB, ADB dan lainnya akan lebih mudah dilakukan 
dan hasilnya lebih transparan. Ini kan bagian dari public accountability BI.
Gimana bung Martin, rakyat berhak tahu yang begini kan?
Dan saya berharap hal hal itu keluar dari pintu ruang kerja pak Deputy 
Senior.

Have a nice Sunday.

Yap

>From: "Martin Manurung" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Timlo
>Date: Sat, 11 Sep 1999 00:19:06 +0700
>
>First of all, Pak Anwar bukan "mantan Dekan", tapi ia masih Dekan FEUI.
>Karena Senat Guru Besar FEUI tetap mempertahankan Pak Anwar sebagai Dekan.
>
>Kedua, saya malah balik bertanya; "Apakah yang bisa dilakukan BI selain
>intervensi Rupiah?". Tidak ada! Yang mengobok-obok ekonomi kita ini kan 
>para
>penguasa politik. Ketika hasil Pemilu menggembirakan karena dimenangkan 
>oleh
>partai yang dianggap reformis, rupiah menguat (sekali). Lalu, kembali
>melemah, karena skandal Bank Bali yang melibatkan banyak petinggi negara.
>Kepercayaan jatuh, rupiah anjlok. BI, sebagai bank sentral yang ditugasi
>menjaga tingkat kurs, harus intervensi. Kalau tidak, keanjlokan rupiah akan
>mengejutkan banyak orang (pelaku pasar) dan malah akan menimbulkan biaya
>yang lebih besar (daripada biaya intervensi). Lalu, ada lagi masalah Timor
>Timur yang buat rupiah turun. Untungnya, ada faktor positif dari pengakuan
>Rudy Ramli yang bisa menolong rupiah untuk tidak terus menerus mengalami
>tekanan kepercayaan. Jadi, ini bukan masalah ekonomi lagi, tetapi sudah
>politik. Ketidakpercayaan pasar pada rejim sekarang ini sudah betul-betul
>membuat pasar menjadi volatile karena semuanya pada "deg-degan".
>
>Ketiga, apa yang bisa kita harapkan dari --hanya seorang-- Anwar Nasution?
>Paling tidak, dialah yang pertama kali membuka, bahwa alur rekening skandal
>Bank Bali itu jatuh ke pejabat-pejabat. Dia lah yang membuka pintu BI untuk
>diaudit, padahal Gub BI saja masih menolak. Dia pula yang pertama kali
>mendesak agar polisi dan jaksa segera bertindak karena PwC tidak akan
>mungkin mengusut skandal Bank Bali. Saya ingat kata-katanya, "PwC itu tidak
>mungkin 'mengaudit' catatan harian Rudy Ramli. Yang harus mengusut itu
>polisi, jaksa". Tapi apa yang sikap Gub BI Sjahril Sabirin? Nothing!!
>Kecuali hanya memainkan kata-kata. Sebagai --hanya-- Deputy Senior, saya
>pikir, Pak Anwar sudah memainkan peranannya dengan baik. Dia memang tidak
>punya cukup kekuasaan untuk membuat perubahan yang lebih signifikan. Karena
>itu, ketika ia akan diangkat menjadi Deputy Senior, saya sudah bertanya,
>"Pak, apakah jabatan itu tidak terlalu rendah?". Dijawab beliau, "Ya,
>mungkin. Tapi, itulah pengabdian. Anggap saja saya sebagai 'advanced group'
>yang akan meminimalisir kebobrokan yang nantinya diwariskan pada
>pemerintahan baru. Saya sudah terlalu tua untuk jadi pro-status quo!".
>
>Keempat, kalau anda tidak tahu apakan habibie mencari popularitas atau
>tidak, wah itu peralatan indera anda mungkin sudah harus disensitifkan 
>lagi,
>ha..ha..ha.. just joking.
>
>Kelima, bagaimanapun, saya akan tetap sampaikan "pesan" anda ini pada Pak
>Anwar.
>
>Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke