Instrument untuk menstabilkan moneter memang banyak. Yang anda sebutkan itu,
umumnya pada institutional development, merupakan kebijakan jangka panjang
yang memang harus dilakukan BI (sufficient condition). Tapi, dalam jangka
pendek, apa yang dapat dilakukan BI untuk menjaga kurs Rupiah? Apakah
pembenahan manajemen perbankan dan penyempurnaan sistem itu bisa selesai
dalam satu malam? Lalu, apa yang bisa dilakukan BI pada setiap kali Habibie
bikin ulah dan menggoncangkan kestabilan moneter, khususnya pasar uang yang
tipis dan volatile? Tidak lain dan tidak bukan: Intervensi! Kalau tidak,
kita akan menonton kurs rupiah yang gila-gilaan lagi (necessary condition).

Jadi, dalam jangka pendek ada DUA hal yang bisa dilakukan agar kurs Rupiah
bisa lebih stabil:

PERTAMA, intervensi BI setiap kali kebijakan politik Habibie membuat ulah
yang menggoncangkan kepercayaan pasar. Ini memang MAHAL biayanya dan at the
cost of the people, artinya pada setiap intervensi BI itu ada opportunity
cost yang harus ditanggung; paling tidak, ada piring sebagian orang
Indonesia yang harus kosong.

KEDUA, supaya BI tidak harus intervensi, yang bikin ulah itu (Habibie) harus
stop bikin ulah. Jalan terbaik, dia tidak membuat kebijakan publik yang
strategis. Biarkan saja pemerintahan baru yang dalam waktu dekat ini akan
terbentuk, yang akan menjalankan kebijakan2 strategis. Habibie cukup
menjalankan kegiatan kenegaraan sehari-hari dan menjaga kecukupan pangan,
titik! Yang lebih bagus lagi, Habibie menyatakan diri bahwa ia hanyalah akan
mengantarkan Indonesia dalam transisi demokrasi dari Orde Baru ke
pemerintahan baru hasil Pemilu 1999. Cantik sekali! Pasar akan dapat signal
positif dan Habibie akan dikenang lebih baik.

Nah, manakah yang lebih possible? Bila alternative kedua tampaknya tidak
mungkin, maka BI tidak punya pilihan lain lagi: ia harus intervensi.
Mudah-mudahan cadangan devisa masih cukup.

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
_________________________________________________
E-mail: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Visit http://come.to/forma-kub

-----Original Message-----
From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 12 September 1999 8:10
Subject: Re: [Kuli Tinta] Timlo


>Bung Martin, saya suka sekali posting Anda ini. Rupanya harus bertanya
>dengan gaya itu untuk membuat Anda 'menyanyi'....
>Terimakasih friend.
>
>Butir ketiga itu yang lebih ingin saya dengar, ternyata saya masih boleh
>punya harapan.
>
>Kalau untuk butir keempat, saya masih agak konservatif, karena sering kita
>nggak cukup membuat judgement hanya dengan melihat permukaannya. It's a
>matter of comprehensiveness, man. Saya belum berani populis.
>
>Kalau yang kedua, masih bisa didiskusikan lebih lanjut, karena intervensi
>bukan satu satunya instrument yang dipunyai BI untuk menstabilkan moneter.
>Penyempurnaan sistem dan effektivitas pengawasan merupakan safe guard yang
>lebih 'murah' karena bersifat preventif, daripada intervensi yang lebih
>bernada pemadam kebakaran.
>Misalnya redifinisi kerahasiaan bank, khususnya dalam law enforcement dalam
>masalah yang berbau korupsi atau kolusi. Jangan sampai kerahasiaan Bank ini
>terlalu normatif seperti sekarang ini, hanya dapat diberikan datanya kepada
>para penyidik setelah seseorang dijadikan terdakwa. Ini kan bisa menjadikan
>kerahasiaan bank sebagai tembok pelindung koruptor. Padahal justru lalu
>lintas uang di bank ini yang sering menjadi indikator kunci untuk mendapat
>data obyektif siapa terlibat apa. Mengapa tidak 'sedikit dilonggarkan'
tanpa
>mengorbankan prudential banking system kita.
>Ini contoh kecil saja bung.
>Dengan melakukan sedikit realignment pada sistem perbankan, mungkin
>penelusuran effektivitas 150 triliun BLBI dan pemanfaatan sekian milyard
>dollar loan dari CGI, IMF, WB, ADB dan lainnya akan lebih mudah dilakukan
>dan hasilnya lebih transparan. Ini kan bagian dari public accountability
BI.
>Gimana bung Martin, rakyat berhak tahu yang begini kan?
>Dan saya berharap hal hal itu keluar dari pintu ruang kerja pak Deputy
>Senior.
>
>Have a nice Sunday.
>
>Yap
>
>>From: "Martin Manurung" <[EMAIL PROTECTED]>
>>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>>Subject: Re: [Kuli Tinta] Timlo
>>Date: Sat, 11 Sep 1999 00:19:06 +0700
>>
>>First of all, Pak Anwar bukan "mantan Dekan", tapi ia masih Dekan FEUI.
>>Karena Senat Guru Besar FEUI tetap mempertahankan Pak Anwar sebagai Dekan.
>>
>>Kedua, saya malah balik bertanya; "Apakah yang bisa dilakukan BI selain
>>intervensi Rupiah?". Tidak ada! Yang mengobok-obok ekonomi kita ini kan
>>para
>>penguasa politik. Ketika hasil Pemilu menggembirakan karena dimenangkan
>>oleh
>>partai yang dianggap reformis, rupiah menguat (sekali). Lalu, kembali
>>melemah, karena skandal Bank Bali yang melibatkan banyak petinggi negara.
>>Kepercayaan jatuh, rupiah anjlok. BI, sebagai bank sentral yang ditugasi
>>menjaga tingkat kurs, harus intervensi. Kalau tidak, keanjlokan rupiah
akan
>>mengejutkan banyak orang (pelaku pasar) dan malah akan menimbulkan biaya
>>yang lebih besar (daripada biaya intervensi). Lalu, ada lagi masalah Timor
>>Timur yang buat rupiah turun. Untungnya, ada faktor positif dari pengakuan
>>Rudy Ramli yang bisa menolong rupiah untuk tidak terus menerus mengalami
>>tekanan kepercayaan. Jadi, ini bukan masalah ekonomi lagi, tetapi sudah
>>politik. Ketidakpercayaan pasar pada rejim sekarang ini sudah betul-betul
>>membuat pasar menjadi volatile karena semuanya pada "deg-degan".
>>
>>Ketiga, apa yang bisa kita harapkan dari --hanya seorang-- Anwar Nasution?
>>Paling tidak, dialah yang pertama kali membuka, bahwa alur rekening
skandal
>>Bank Bali itu jatuh ke pejabat-pejabat. Dia lah yang membuka pintu BI
untuk
>>diaudit, padahal Gub BI saja masih menolak. Dia pula yang pertama kali
>>mendesak agar polisi dan jaksa segera bertindak karena PwC tidak akan
>>mungkin mengusut skandal Bank Bali. Saya ingat kata-katanya, "PwC itu
tidak
>>mungkin 'mengaudit' catatan harian Rudy Ramli. Yang harus mengusut itu
>>polisi, jaksa". Tapi apa yang sikap Gub BI Sjahril Sabirin? Nothing!!
>>Kecuali hanya memainkan kata-kata. Sebagai --hanya-- Deputy Senior, saya
>>pikir, Pak Anwar sudah memainkan peranannya dengan baik. Dia memang tidak
>>punya cukup kekuasaan untuk membuat perubahan yang lebih signifikan.
Karena
>>itu, ketika ia akan diangkat menjadi Deputy Senior, saya sudah bertanya,
>>"Pak, apakah jabatan itu tidak terlalu rendah?". Dijawab beliau, "Ya,
>>mungkin. Tapi, itulah pengabdian. Anggap saja saya sebagai 'advanced
group'
>>yang akan meminimalisir kebobrokan yang nantinya diwariskan pada
>>pemerintahan baru. Saya sudah terlalu tua untuk jadi pro-status quo!".
>>
>>Keempat, kalau anda tidak tahu apakan habibie mencari popularitas atau
>>tidak, wah itu peralatan indera anda mungkin sudah harus disensitifkan
>>lagi,
>>ha..ha..ha.. just joking.
>>
>>Kelima, bagaimanapun, saya akan tetap sampaikan "pesan" anda ini pada Pak
>>Anwar.


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke