Memberi suara kepada TNI hanya untuk jatah pimpinan
dewan, dan itu pun cuma di DPRD DKI. Dan apalah
artinya seorang ketua, yang cuma sendiri, ketika pada
saat pemungutan suara, mereka yang reformis
menyuarakan yang lain, sesuai dengan hati nurani
rakyat yang diwakilinya.

Terlalu membesar-besarkan soal mengangkat TNI sebagai
ketua, lalu menganggap bahwa nanti suara dewan (DPRD
DKI) adalah suara tentara, benar-benar pemikiran bodoh
belaka.

Seandainya nanti sang ketua (TNI) tadi melakukan
perbuatan yang mengecewakan para reformis, apa
repotnya untuk menurunkannya? Bukankah suara yang akan
menjaga hati nurani masih cukup? Dan rasanya, dari
jumlah suara yang didapat sang ketua tersebut, bahkan
berlebihan kalau cuma dari PDI Perjuangan saja. Pasti
ada yang dari kelompok lain. Kenapa yang kelihatan di
pelupuk mata Anda hanya soal PDI Perjuangan saja?
Apakah Anda pernah punya pengalaman yang traumatis
oleh mereka ini?

=====

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke