Ah, biasa saja. Itu namanya mengganti strategi marketing. Kalau dulu
penetrasi pasar-nya utopis-idealistik; ternyata gagal hasilnya untuk
menentukan positioning di masyarakat. Sekarang berganti menjadi
dinamis-realistik, yg mampu menembus segmentasi konsumen yang lebih membumi.
Sesederhana itu kok.
Kegagalan ini terutama disebabkan tim research & development partai ybs
kurang mampu utk menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka tidak bisa seperti
saingannya, yg telah dengan berhasil memperhitungkan bahwa jumlah rakyat
Indonesia yg lebih concern pada simbol/tokoh/mimpi jauh lebih besar drpd
mereka yg kritis terhadap program/caleg/pengurus partai ybs.
Ngomong-ngomong, yang Anda sebut itu Amien Rais ya ? Kalau berpendapat
jangan lempar batu sembunyi tangan, dong.
CS
----- Original Message -----
From: bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, October 03, 1999 7:00 PM
Itulah kalau Agama dikaitkan dengan Politik...... Dulu ketika Partai2 baru
mau bermunculan, ada Tokoh yang jelas bilang bahwa tidak akan membuat Partai
Islam, dan itu dibuktikan dengan didirikannya sebuah Partai yang terdidir
dari kalangan yang berbeda Agama. Tetapi ketika perolehan suaranya minim,
Tokoh ini asyik giat bersekutu dengan partai lainnya dengan bernafaskan
Agama. Nah, apakah ini tidak membingungkan ? Salam, bRidWaN
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!