On Mon, 11 Oct 1999, bRidWaN wrote:

> Kalau yang kaya beginian sih bukan permainan cantik deh,
> terlalu kelihatan dan terlalu 'kasar' (menurut saya lho).

WAM:
Saya tunjukkan subyektivitas penilaian anda, Bung Ridwan.
Jika ulama yang terang2an mendukung Habibie anda sebut sebeagai _bermain
kasar_,  lantas label apa yang akan anda berikan pada beberapa ulama yang
tempo hari (di bawah pemandu koor Matori) mengatakan mendukung pencalonan
Mega? Saya berharap anda juga akan mengecam ulama2 ini, supaya anda dapat
dianggap obyektif. Jika demikian, lantas apa bedanya kelompok PDI-P yang
juga ingin mencari legitimasi di kalangan umat Islam, dan Golkar? 

Saya setuju bahwa ungkapan itu syah-syah saja. Tidak melanggar hukum apa
pun. Jadi, kenapa mesti diributkan? 
 
> DPP Golkar benar2 mau di-'pojok'-in dengan cara2 ini,
> selain dengan cara2 lainnya, seperti pemunculan Habibie
> di-TVRI dalam ajang debat kemarin ini.

WAM:
Itu lah bedanya Habibie dan Mega. 
Habibie sama sekali tidak gentar berhadapan dengan mereka yang selama ini
dikenal selalu memojokkan dia. Mega? Belum apa-apa sudah paranoid.
 
> Mengenai 'yang mengejutkan', kayanya mode seperti itu
> sudah dimulai sejak sebelum Pemilu dimulai, kan ?
> Saya ingat sekali 2-3 hari sebelum Pemilu dimulai,
> sebuah Organisasi mengeluarkan Pernyataan-nya,
> yang dinilai ingin menggembosi Partai tertentu.
> Padahal masa kampanye kala itu sudah usai.

WAM:
Maksud anda, edaran MUI untuk tidak memilih PDI-P, kan?
Saya tahu, cara seperti ini secara politik tidak etis. Tapi, anda juga
mesti tahu, cara2 yang sama juga dilakukan terhadap Golkar. Jika anda
ingin mengecam cara yang tidak etis itu, anda juga mesti mengecam orang2
yang secara tidak etis pula memojokkan Golkar. Itu baru obyektif. 

Jika anda keberatan partai anda dipojokkan seperti itu, tapi anda tidak
keberatan orang lain memojokkan partai lain, anda hipokrit. 

Berapa banyak orang hipokrit yang ada sekarang ini? Buanyak sekali. Dan
tidak banyak orang yang berani menunjukkan hipokritas ini. Saya yang
mencoba bersikap fair, dengan mengenakan tolok ukur yang sama untuk semua
partai, sering dituduh membela Golkar. 
 
Bahwa MUI mengatakan caleg PDI-P banyak diisi orang2 non-Islam, itu adalah
suatu fakta. Dan jika MUI mengatakan fakta itu secara terang2an, terus apa
salahnya MUI? Seperti halnya PDI-P yang mengatakan _fakta_ tentang
kasus Bank Bali,  apa ada orang yang menyalahkan PDI-P? Andai PDI-P merasa
apa yang dikemukakan MUI itu tidak benar, tuntut saja MUI. 

> Mengenai pemahaman politiknya, mungkin belum bisa
> dikatakan terlalu parah. Namun ada hal-hal 'non-teknis'
> lainnya yang turut berbicara.

WAM:
Hal-hal non-teknis itu apa? 
Bicara terus terang saja lah. Ini forum demokratis kok mas. 
Bukan jamannya lagi kita takut bicara.


> Ini menurut saya lho Mas....:)
> 
> Salam,
> bRidWaN 


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke