Lho, nangis itu khan perlu mbah, jadi tidak memprihatinkan. Kalau ada orang
menangis, berarti orang itu kembali pada perwujudan aslinya, yaitu manusia
lemah yang tidak punya apa-apa. Bahwa kekuasaan, kemampuan, kekayaan, dan
el-el, hanya titipan sementara dari Yang Maha Kuasa. Bayi lahir, juga
langsung cengeer. Khan gitu to. Jadi, permainan belum cantik kalau tidak
disertai nangis. Maka, mari menangis rame-rame, menangisi sistem yang kurang
paas. Kalau Presiden yang terpilih nanti, bukan orang yang kita kagumi,
bukan pilihan kita, mari rame-rame menangis. Lebih baik menangisi system
yang salah, daripada menangisi pahlawan-pahlawan muda. Lebih siip lagi kalau
kita mampu duduk tertib dan menangis bersama puluhan ribu sesama kita. Ayo
nangiis.    

> ----------
> From:         mBah Soeloyo[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent:         Tuesday, October 12, 1999 5:48 AM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Re: [Kuli Tinta] permainan cantik
> 
> ----- Original Message -----
> From: 裼 <[EMAIL PROTECTED]>
> To: Kuli Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, October 11, 1999 7:58 AM
> Subject: [Kuli Tinta] permainan cantik
> > [SCTV] Menjelang Rapim Golkar, para ulama berdatangan
> untuk
> > menyatakan dukungannya kepada penacalonan BJH. Mereka
> mengatakan
> > bahwa mereka tidak akan mendukung Golkar bila Golkar tidak
> > mencalonkan BJH.
> >  Bung Ridwan, inilah yang dinamakan permainan cantik,
> demokratis
> > dan sah.
> > Yang agak mengejutkan adalah pernyataan mereka secara
> terbuka
> > bahwa kenaikan Mega sebagai presiden akan menyebabkan umat
> Islam dipinggirkan [SCTV].
> > Apakah sedemikian parah seperti itu pemahaman politik
> ditingkat
> > masa?  Wah.. gawat....
> > Kalau Bung WAM yang educated sih saya bisa memaklumi
> karena
> > beliau mempunyai argumentasi ilmiah dan fakta yang
> mendukung
> > serta mempunyai kearifan untuk mengatalkan apa yang harus
> > dikatakan dan kepada siapa harus dikatakan.
> >
> > 繚
> > (prihatin terhadap pengkotakan seperti Orba)
> >
> yang lebih memprihatinkan lagi ada ulama kondang yang
> menyebutkan
> bahwa banyak kyai nangis bila mega jadi presiden.....
> (tapi kadang memang aneh manusia itu. ada yang nangis karena
> sakit, karena merasa sangat lucu, karena terharu bahkan
> karena
> saking gembiranya)
> nah sekarang dengan banyaknya kothak-kothak itu yang
> mewadahi
> jenis-jenis ulama... tinggal diperhatikan yang nangis itu
> karena apa?
> mungkin jadi benar bahwa merosot atau unggulnya suatu ajaran
> kebaikan itu sangat bergantung sikap dan perbuatan sementara
> penghulunya.
> 
> mBahSoel
> --------
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke