Mas Wisnu,
 
Buat saya tadinya, siapa saja yang menang tidaklah menjadi
soal, tetapi saya agak alergi kalau ORANG LAMA yang 
memegang tampuk Pemerintahan ataupun dekat dengan kekuasaan.

Kenapa ?

Karena kalau Masyarakat nantinya menuntut dituntaskannya
masalah KKN, beberapa Tokoh Lama akan merasa 'kikuk'
disebabkan akan bersinggungannya masalah KKN dengan
mereka yang dulu dekat dengan kekuasaan.

Disamping itu saya yakin orang sudah capek melihat ulah
dari Orang2 Lama tersebut. Biarkan Orang Baru yang ber-ulah,
saya yakin dengan perangkat UU dan TAP-MPR yang baru nanti,
paling tidak Orang Baru tidak akan ber-ulah 'sejorok'
Orang Lama. Iya kan ?

Mengenai pertanyaan anda tentang serangan/hujatan yang
ada terhadap Golkar, saya hanya bisa mengatakan rasa
kekagetan saya melihat pertanyaan anda itu.

Sebagai orang yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat
tidak suka dengan gaya Orde Baru dan Golkar-nya sejak 
tahun 1970-an, saya sungguh heran melihat ada pihak yang
mempertanyakan masalah hujatan (baik etis maupun tidak)
terhadap Golkar. Saya malah berpikir bahwa Golkar memang
pantas untuk menerimanya. Dan saya juga setuju bahwa
adalah tugas Pimpinan Golkar untuk membersihkan kesan 
yang berkembang seperti ini ditengah-tengah masyarakat. 
Terlihat bagaimana Akbar Tanjung dan Marzuki Darusman 
berupaya untuk paling tidak me-minimize masalah2 hujatan 
ini. Dan kelihatannya pekerjaan mereka dengan Tim-nya 
agak berhasil.

Masalah pencalonan Gus Dur hingga kini buat saya masih
merupakan 'MISTERI', apakah ada maksud2 tertentu yang
terkandung dibalik ini semua. Mudah-mudahan saja tidak
ada, tetapi efek dari ini semua akan membuat perpecahan
suara dikubu Non-Habibie. 

Menurut saya, baik Mega maupun Gus Dur harus memutuskan 
segera siapa yang akan maju dalam perebutan suara nanti.
Ini adalah untuk membulatnya suara kubu "Non-Habibie".

Dan suara terbanyak akan diraih oleh Presiden RI ke-4.
Selamat !
 
Ini sekedar analisa saya, mungkin benar, mungkin salah.


Salam,
bRidWaN 

 

At 08:23 AM 10/12/99 +0700, Wisnu Ali Martono wrote:
>On Mon, 11 Oct 1999, bRidWaN wrote:
>
>> Kalau yang kaya beginian sih bukan permainan cantik deh,
>> terlalu kelihatan dan terlalu 'kasar' (menurut saya lho).
>
>WAM:
>Saya tunjukkan subyektivitas penilaian anda, Bung Ridwan.
>Jika ulama yang terang2an mendukung Habibie anda sebut sebeagai _bermain
>kasar_,  lantas label apa yang akan anda berikan pada beberapa ulama yang
>tempo hari (di bawah pemandu koor Matori) mengatakan mendukung pencalonan
>Mega? Saya berharap anda juga akan mengecam ulama2 ini, supaya anda dapat
>dianggap obyektif. Jika demikian, lantas apa bedanya kelompok PDI-P yang
>juga ingin mencari legitimasi di kalangan umat Islam, dan Golkar? 
>
>Saya setuju bahwa ungkapan itu syah-syah saja. Tidak melanggar hukum apa
>pun. Jadi, kenapa mesti diributkan? 
> 
>> DPP Golkar benar2 mau di-'pojok'-in dengan cara2 ini,
>> selain dengan cara2 lainnya, seperti pemunculan Habibie
>> di-TVRI dalam ajang debat kemarin ini.
>
>WAM:
>Itu lah bedanya Habibie dan Mega. 
>Habibie sama sekali tidak gentar berhadapan dengan mereka yang selama ini
>dikenal selalu memojokkan dia. Mega? Belum apa-apa sudah paranoid.
> 
>> Mengenai 'yang mengejutkan', kayanya mode seperti itu
>> sudah dimulai sejak sebelum Pemilu dimulai, kan ?
>> Saya ingat sekali 2-3 hari sebelum Pemilu dimulai,
>> sebuah Organisasi mengeluarkan Pernyataan-nya,
>> yang dinilai ingin menggembosi Partai tertentu.
>> Padahal masa kampanye kala itu sudah usai.
>
>WAM:
>Maksud anda, edaran MUI untuk tidak memilih PDI-P, kan?
>Saya tahu, cara seperti ini secara politik tidak etis. Tapi, anda juga
>mesti tahu, cara2 yang sama juga dilakukan terhadap Golkar. Jika anda
>ingin mengecam cara yang tidak etis itu, anda juga mesti mengecam orang2
>yang secara tidak etis pula memojokkan Golkar. Itu baru obyektif. 
>
>Jika anda keberatan partai anda dipojokkan seperti itu, tapi anda tidak
>keberatan orang lain memojokkan partai lain, anda hipokrit. 
>
>Berapa banyak orang hipokrit yang ada sekarang ini? Buanyak sekali. Dan
>tidak banyak orang yang berani menunjukkan hipokritas ini. Saya yang
>mencoba bersikap fair, dengan mengenakan tolok ukur yang sama untuk semua
>partai, sering dituduh membela Golkar. 
> 
>Bahwa MUI mengatakan caleg PDI-P banyak diisi orang2 non-Islam, itu adalah
>suatu fakta. Dan jika MUI mengatakan fakta itu secara terang2an, terus apa
>salahnya MUI? Seperti halnya PDI-P yang mengatakan _fakta_ tentang
>kasus Bank Bali,  apa ada orang yang menyalahkan PDI-P? Andai PDI-P merasa
>apa yang dikemukakan MUI itu tidak benar, tuntut saja MUI. 
>
>> Mengenai pemahaman politiknya, mungkin belum bisa
>> dikatakan terlalu parah. Namun ada hal-hal 'non-teknis'
>> lainnya yang turut berbicara.
>
>WAM:
>Hal-hal non-teknis itu apa? 
>Bicara terus terang saja lah. Ini forum demokratis kok mas. 
>Bukan jamannya lagi kita takut bicara.
>
>
>> Ini menurut saya lho Mas....:)
>> 
>> Salam,
>> bRidWaN 
 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke