Kalu begitu, masyarakat itu memang kasihan ya Bung.
Kalau Pemilu para wakil partai mengemis suaranya, namun setelah
Pemilu maka tongkat edtafet berpindah. Dan, setelah pemerintahan
terbentuk dan program dijalankan maka masyarakat itu di pentung
dengan tongkat itu agar membayar pajak, paling tidak untuk
membayar pajak yang meningkat dengan besar sekali dalam satu
tahun terakhir ini.
Kasihan bener rakyat tolol seperti Paijo itu.....
��
----- Original Message -----
From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 18 October 1999 03:04
Subject: Re: [Kuli Tinta] Soedjono C Atmonegoro
Masyarakat boleh menilai apa saja, tetapi setelah berakhirnya
Pemilu, maka
kedaulatan telah beralih kepada 700 anggota MPR, dan menurut
perhitungan
yang sangat sahih, BJ Habibie akan memenangkan voting Pemilihan
Presiden
dalam suatu proses demokrasi yang konstitusional.
Jangan kemana mana, kami akan kembali setelah beberapa commercial
pendukung
acara ini....
Yap
>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Soedjono C Atmonegoro
>Date: Sun, 17 Oct 1999 19:37:10 +0700
>
>Kalau begitu, topiknya memang sudah beralih ke realita didalam
>dan diluar gedung MPR.
>
>Seandainya saja semua TV Swasta mau menyiarkan debat terbuka
>antara para pakar dibelakang Presiden Habibie dan para pakar
yang
>bukan berasal dari partai maka debat itu akan memiliki daya jual
>tinggi bila digelar sebelum 20 Oktober 1999 dan didahului oleh
>pemberitahuan sebelumnya secara gencar.
>
>Para pakar di belakang Presiden Habibie bisa dihadirkan Prof
>Suni, Marwah, Sumego, Fortuna Anwar, Umar Juoro, Fachry Ali,
>Dawam Ragardjo, Jimli. Sedang para pakar non partai bisa
>dihadirkan Rizal Ramli, Sri Mulyani, Syahrir, Mochtar
Pabotinggi,
>Anggito, Sobari, Riswanda, Cornelis Lay, Looby, dan Sahetapy.
>(satu lagi dosen UI di bidang hukum internasional yang pernah
>membahas kasus Timtim di TV, maaf namanya lupa)
>
>Dari dua debat yang diselengarakan oleh RCTI dan SCTV secara
>terpisah masyarakat sungguh memperoleh pelajaran yang berharga.
>bahkan RCTI masih bisa menjual ulang program itu.
>
>Seandainya, itu bisa terjadi maka itu bisa menjadi sebuah
>peristiwa besar dimana para pakar dibelakang pembuat
>kebijaksanaan presiden dihadapkan dengan para ilmuwan atau
>pengamat yang mempunyai nama dan independen. Biarlah masyarakat
>yang menilai. Paling tidak biar rakyat mempunyai acuan untuk
>menilai wakil-wakil mereka di MPR.
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!