Wah saya terpaksa melanggar janji nih.....

Anda benar Bung bahwa Mega telah melanggar kesepakatan keluarga.
Namun, kehadiran Mega ke pentas politik tampaknya mempunyai andil
untuk memunculkan rekayasa politik Orba ke permukaan.

Bung ketka Guruh bersedia mencalonkan diri sebagai Presiden pada
jamannya pemerintahan Orba apakah dia sebagai orang biasa ataukah
anggota DPR yang mewakili parpol, golongan, atau utusan tertentu?
Ataukah otak saya yang agak kacau nih Bung. Habis, tiba-tiba
muncul diotak saya Guntur di Jawa Timur strees berat karena
mobilnya mengalami kecelakaan pada saat kampanye dan orang
dekatnya meninggal dalam kecelakaan itu. Juga, Sukma dengan
gerakan masa marhaennya itu maya atau nyata ya...

Saya agak lupa nih Bung, itu Guntur, Guruh, sukma anaknya
Soekarno atau Guntur, Guruh, Sukma yang lain ya.... atau mungkin
ada rekan lain yang bisa membantu untuk menyegarkan kembali
ingatan saya disamping Bung Harman?.


----- Original Message -----
From: harman <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 22 October 1999 11:30
Subject: RE: Re: [Kuli Tinta] Suara ya suara


Betul sekali, memang sebelum surjadi mendatangi Mega, Surjadi cs
terlebih
dahulu mendatangi Guntur, Guruh, Sukama tapi mereka menolak
Guntur menolak
karena ia tidak mau ayahnya di jadikan komoditas politik dan
Guntur pun
menyadari bahwa mereka hanya akan memanfaatkan popularitas
ayahnya. Lebih
jauh lagi ketika Sukarno di Istana negara bogor, Ia pernah
berpesan kepada
seorang wartawan asing yang sangat dekat dengannya dan ia
menyampaikan satu
wasiat ke anak-anak nya melalui wartawan tsb. sukarno mengatakan
bahwa ia
tidak ingin anak-anaknya itu memepunyai cita-cita untuk jadi
presiden karena
" Begitu berat nya tuga seorang Presiden " dan juga terjun dalam
politik
praktis. Nah, dari sini kita bisa melihat diantara anak-anaknya
ternyata
Megawati-lah yg membangkang dari pesan ayahandanya, dan
sebagaimana yg kita
lihat karena pembangkangan Mega nama Sukarno kembali dijadikan
bulan-bulanan
lawan politiknya, jadi jgn salahkan lawan politiknya tapi
salahkan mega yg
membangkang dari pesan sang ayah. Hingga akhir SU MPR Mega cs tak
berdaya
bahkan hanya memperolah kursi No.2 dan itu pun sebetulnya Poros
tengah dan
Golkar tidak terlalu berambisi untuk jabatan tersebut, tampilnya
Hamzah
hanya untuk meramaikan suasana dan menegangkan urat syaraf Mega
cs saja.
Tapi inilah ganjaran dari pembangkangan seorang anak terhadap
pesan ayahnya.
Guntur adalah anak yang taat pada ayahnya, meski PDIP berupaya
untuk
mengajaknya ia bersikukuh tidak terjun dlm poitik praktis dan
mendukung
secara moral Megawati, itupun mungkin karena faktor persaudaraan.

-----Original Message-----
From: Wisnu Ali Martono [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Friday, October 22, 1999 9:57 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Re: [Kuli Tinta] Suara ya suara



> Kalau hanya mengandalkan nama besar Bung Karno,
> kenapa justru hanya Mega yang eksis ?  Kenapa bukan Guruh,
Guntur,
> Rahmawati atau Sukmawati ?  Ini menunjukan bahwa Megawatipun
memiliki
> kualitas tersendiri.  Nama besar bapaknya memang mempengaruhi
tetapi
> sebesar apa pengaruhnya ?   Kualitatif ?  Kuantitatif ?  Saya
tidak tahu.


> Diruntut satu-satu yok.

> Lihat kembali gimana Mega sampe bisa jadi ketum PDI (belum pake
'P')
> beberapa tahun yang lalu. Abis itu baru tanya lagi kenapa bukan
Guruh,
> Guntur, atau yang lain.

> Riev

WAM:
Guntur, Guruh, Sukma tidak _eksis_ karena mereka tidak mau ketika
ditarik
oleh PDI. Beda dengan Mega. Jadi, nggak ada urusannya kenapa Mega
eksis
dengan kualitas kepemimpinannya.











______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke