From: Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>

>> ----- Original Message -----
>> From: <[EMAIL PROTECTED]>
>> To: <[EMAIL PROTECTED]>
>> Sent: Monday, October 18, 1999 10:30 PM
>> Subject: Re: Re: [Kuli Tinta] Suara ya suara
> 
>> 
>> Sejarah membuktikan, Sukarno tidak mewariskan kebangkrutan. Hutang
>> tinggalan rejim sukarno haya US$2.5billion (total). Inipun untuk biaya
>> Perjuangan Merebut Irian Barat dari tangan Belanda. Bandingkan, Rejim
>> Suharto mewariskan hutang Pemerintah US$60billion dan Hutang Swasta pada
>> ekonomi kita sebesar US$80billion.
>
>Bung, anda sudah lahir waktu Sukarno bikin bangkrut negara ini?
>Saya bisa merasakan _enaknya_ makan bulgur dua kali sehari, berlauk
>terasi.
>
>Jangan hanya bicara angka. 
>Jelas nilai riil 2,5 milyar dollar tahun 65 tidak jauh dari 60 milyar
>dollar saat ini. Apalagi, tingkat kesejahteraan umum saat ini jelas amat
>lebih baik dari tahun 1965. (Kalau anda waktu itu belum lahir, tidak usah
>kasih komentar lah. Anda tidak tahu penderitaan waktu itu). 

Maaf Bung Wisnu, saya memang belum lahir waktu itu, tetapi orangtua saya
sudah, dan saya ingin menanggapi ini secara obyektif. Saya tidak akan
menyinggung kehidupan pribadi di masa lalu, kita bisa memastikan bahwa
pemerintahan Soekarno dan Soeharto sama-sama mewarisi kebangkrutan, tetapi
yang menjadi pikiran saya bukan masalah nominal, namun istilahnya "which is
the lesser of two evils?", 'setan' mana yang lebih baik? Bila kita lihat,
pemerintahan Soekarno 1945-1966 memang tidak sepenuhnya memberikan kebaikan
bagi kehidupan (ekonomi) bangsa, namun bukankah kalau dipikir-dipikir
selama 20 tahun itu sebenarnya tidak terjadi perbaikan ekonomi apapun,
artinya (maaf Bung Wisnu) apakah sebelumnya anda bisa makan nasi lalu
kemudian gara-gara 'politik mercusuar'-nya Soekarno anda terpaksa makan
bulgur? Analogi ini saya masukkan dalam kerangka pemerintahan Soeharto,
dimana selama 30 tahun dari 1968-1998 (beliau baru jadi Presiden tahun
1968, sebelumnya cuman pengemban amanat dan Pejabat Presiden) terjadi
pembangunan ekonomi dan kenaikan kesejahteraan, semua orang bisa makan
nasi, Supermi, bistik, Kentucky, McDonald's, dan sebagainya, lalu karena
hutang yang begiiiitu banyak tiba-tiba negara jadi kere dan orang terpaksa
makan nasi aking. Saya melihat dari komparasi kedua pemerintahan ini, dari
sini bisa dilihat, sebetulnya siapa yang lebih bikin bangkrut negara,
Soekarno (yang memang dari sononya negara sudah kere jadi lebih kere) atau
Soeharto (negara kere dibikin kaya lalu dibikin kere lagi)? Atau mungkin
Bung Wisnu hanya melihat dari tingkat kesejahteraan anda sendiri dahulu dan
sekarang? Mohon Bung Wisnu tanggapi dengan obyektif, saya tidak berpretensi
bahwa saya pribadi tahu penderitaan waktu itu, tetapi cukup banyak cerita
dari ibu dan kakek-nenek saya tentang Indonesia di bawah Soekarno.

>> Mega bukan apa-apa tanpa BK. Kalau dia anak orang biasa enggak ada deh yang
>> mau liat dia. Lihat aja kalau ada acara ke Blitar. Itu bukti bapaknya yang
>> dikagumi orang. Sampai sekarang gambar BK masih sering muncul berdampingan
>> dengan gambar putrinya.
>
>Andaikata Mega ini cuma anak penjual jamu, nggak bakalan dia dilihat
>orang.

Keras, tetapi ironisnya benar, bahwa menurut saya popularitas Megawati
Soekarnoputri tidak bisa dilepaskan dari kharisma ayahnya. Berbeda dengan
mantan presiden Soeharto, cuma anak petani bisa memegang kendali negara
berpenduduk kelima terbesar selama 30 tahun, siapa bapaknya coba?
Analoginya sama seperti ketika mbak Tutut sempat menjadi Menteri Sosial,
dia mengatakan bahwa dalam konteks ini dia bekerja sebagai Siti Hardiyanti
Indra Rukmana pribadi, tapi ya mana bisa orang mengabaikan fakta bahwa dia
anaknya Bos Besar?!?


Wassalam,

Paladin A.
ICQ 50753984


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke