From: Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
>WAM:
>Saya sudah agak besar sehingga bisa melihat kesusahan di
>mana-mana. Termasuk keluarga saya (meski tidak sesusah para pengemis waktu
>itu). Pengemis sekarang _jauh lebih baik_ keadaannya dibanding dengan
>pengemis waktu Sukarno. Dulu, yang namanya pengemis itu berpakaian compang
>camping. Mengemisnya juga minta nasi. Sedang sekarang, banyak pengemis
>yang penghasilannya melebihi gaji pegawai negeri. Jadi, jika kita mau
>fair, sesusah2nya sekarang, masih lebih susah lagi jamannya Sukarno.
>
>Jika begitu masalahnya, masih debatable. Artinya belum tentu anda
>benar. Juga, saya bisa salah.
Saya kira demikian pula, artinya masih debatable, karena kalau berbicara
dalam konteks "siapa yang lebih bikin bangkrut negara" saya masih
mengatakan lebih parah Soeharto, namun kalau berbicara soal "lebih susah
mana" ya jelas lebih susah zaman Soekarno, itu sih anak SD juga tahu.
>> pemerintahan Soekarno 1945-1966 memang tidak sepenuhnya memberikan kebaikan
>> bagi kehidupan (ekonomi) bangsa, namun bukankah kalau dipikir-dipikir
>> selama 20 tahun itu sebenarnya tidak terjadi perbaikan ekonomi apapun,
>> artinya (maaf Bung Wisnu) apakah sebelumnya anda bisa makan nasi lalu
>> kemudian gara-gara 'politik mercusuar'-nya Soekarno anda terpaksa makan
>> bulgur?
>
>WAM:
>Tidak hanya saya. Masih untung saya makan bulgur. Ada yang lebih parah
>lagi.
Apakah kondisi ini dikarenakan 'politik mercusuar' tsb, atau memang sejak
awal sudah begitu?
>> Analogi ini saya masukkan dalam kerangka pemerintahan Soeharto,
>> dimana selama 30 tahun dari 1968-1998 (beliau baru jadi Presiden tahun
>> 1968, sebelumnya cuman pengemban amanat dan Pejabat Presiden) terjadi
>> pembangunan ekonomi dan kenaikan kesejahteraan, semua orang bisa makan
>> nasi, Supermi, bistik, Kentucky, McDonald's, dan sebagainya, lalu karena
>> hutang yang begiiiitu banyak tiba-tiba negara jadi kere dan orang terpaksa
>> makan nasi aking. Saya melihat dari komparasi kedua pemerintahan ini, dari
>
>WAM:
>Saya meragukan analogi anda.
>Di mana orang makan nasi aking? Apakah mereka tadinya makan nasi? Berapa
>banyak manusia yang terpaksa seperti itu?
Mungkin analogi saya terlalu ekstrem....mungkin yang lebih tepat adalah
dulunya bisa beli Big Mac + Fries + Coca-cola namun sekarang cuman bisa
makan nasi. Mungkin untuk kondisi ini cukup banyak yang 'terpaksa' seperti
itu.
>> sini bisa dilihat, sebetulnya siapa yang lebih bikin bangkrut negara,
>> Soekarno (yang memang dari sononya negara sudah kere jadi lebih kere) atau
>> Soeharto (negara kere dibikin kaya lalu dibikin kere lagi)? Atau mungkin
>
>WAM:
>Kita _pokrol2an_) dikit.
>Daripada dari kere menjadi lebih kere (jaman Sukarno), ya mending dari
>kere menjadi kaya, lalu kere lagi (jaman Suharto).
Jika demikian pendapat anda, baiklah.
>Apakah benar kita kere sewaktu baru merdeka?
>Banyak yang mengatakan _tidak_. Benar bahwa kita dibikin lebih kere oleh
>Sukarno.
Wah entah ya bung...Indonesia waktu baru merdeka punya apa saja? Ada pabrik
nggak? Toko? Apotek? Restoran? Lalu bagaimana dengan pabrik, toko, apotek,
restoran yang harus gulung tikar karena tidak mampu membayar
hutang-hutangnya karena kok tiba-tiba dolarnya mahal sekali....
>> Bung Wisnu hanya melihat dari tingkat kesejahteraan anda sendiri dahulu
>> dan sekarang? Mohon Bung Wisnu tanggapi dengan obyektif, saya tidak
>> berpretensi bahwa saya pribadi tahu penderitaan waktu itu, tetapi cukup
>> banyak cerita dari ibu dan kakek-nenek saya tentang Indonesia di bawah
>> Soekarno.
>
>WAM:
>Saya bercermin dari keadaan keluarga saya dan lingkungan yang saya lihat.
>Dalam kedua masa itu, keluarga saya tidak pernah berdekatan dengan
>kekuasaan. Jadi, saya tidak akan bias menilai keduanya. Buat saya,
>keduanya punya segi positif dan negatif masing2.
>
>Jika kakek-nenek anda berdekatan dengan Sukarno, tentu saja cuma cerita
>bagus yang akan anda dengar.
Betulkah? Andaikata benar kakek-nenek saya dekat dengan Soekarno, apakah
anda bisa memastikan bahwa apa yang saya dengar hanya cerita-cerita bagus?
Saya juga tidak bisa memastikan bahwa keadaan keluarga anda dan lingkungan
serta ketidakdekatan anda dan keluarga anda dengan kekuasaan menciptakan
penilaian anda yang obyektif dan tidak bias. Saya tidak akan tahu bagaimana
kehidupan orang-orang kere, dan anda tidak akan tahu bagaimana kehidupan
orang-orang borju.
>> Keras, tetapi ironisnya benar, bahwa menurut saya popularitas Megawati
>> Soekarnoputri tidak bisa dilepaskan dari kharisma ayahnya. Berbeda dengan
>> mantan presiden Soeharto, cuma anak petani bisa memegang kendali negara
>> berpenduduk kelima terbesar selama 30 tahun, siapa bapaknya coba?
>> Analoginya sama seperti ketika mbak Tutut sempat menjadi Menteri Sosial,
>> dia mengatakan bahwa dalam konteks ini dia bekerja sebagai Siti Hardiyanti
>> Indra Rukmana pribadi, tapi ya mana bisa orang mengabaikan fakta bahwa dia
>> anaknya Bos Besar?!?
>
>WAM:
>Itu lah tidak fairnya.
>Jika seseorang itu terkait dengan Suharto, serta merta dicap jelek.
>Sementara kalau orang itu terkait dengan Sukarno, yang nampak cuma
>kebagusannya. Kenapa kita tidak bisa fair dalam menilai seseorang?
>Ketika saya mencoba bersikap fair, sumpah serapah yang saya terima.
Kalau begitu boleh dong saya minta pendapat Bung Wisnu, tolong anda
sebutkan kebaikan dan kejelekan dari masing-masing mantan Presiden RI kita
ini. Untuk rekan-rekan yang lainnya, mari kita coba melakukan penilaian
yang obyektif tanpa prasangka, dan menghormati dan menghargai pendapat
orang lain. Terima kasih.
Wassalam,
Paladin A.
ICQ 50753984
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!