waduh, nggak tahan juga aku untuk bertahan di milist ini....
hehee....
lha gimana wong ada partner Sang Begawan Panca Sona alias
Pabu Sacilat gini.... cuman ya itu, kalau bliouw memakai analisis
yang tuinggi-tuinggi, sampai muncul kecerdasan emosional,
kecerdasan intelektual (kalau siasat muslihat namanya termasuk
apa mas?), hingga Falsafah Guru Silat, maka aku akan memperkenalkan
FALSAFAH NGADHUK LABUR, kebiasaan yang dibawa-bawa oleh
para buruh bangunan atau kuli-bangunan, yag nota bene jauh sekali
golongannya dengan kuli-tinta, tentunya.
Labur adalah istilah bahasa jawa untuk adhukan semen, pasir, kerikil
untuk bikin beton atau tembok (beton dalam bahasa jawa arti lainnya
malah biji nangka... hahaa.. nek direbus, digarami dikit...
kebul-kebul
guriiiih bikin sumber bau kentut....)
lho lantas hubungannya apa dengan keramaian posting di kuli-tinta ini?
tak lain, aku ambil dari hikmah TOLERANSINYA. Toleransi yang oleh
pukulun wisnu am, salah sekali kalau diartikan sebagai kerukunan.
maksudnya?
ya memang terlalu jauh barangkali antara LABUR dengan TOLERANSI.
namun bila kita jeli mengamati hasil bangunan dari seton labur
(misalnya)
kemudian kita telusuri ke belakang sampai ketika tukang bangunan
kepala,
menyuruh dan kemudian menginspeksi kernetnya mengaduk labur,
barangkali akan menarik perhatian bagi orang-orang semisal mas aswat,
koh yap, om mbin dan lek marto. kalau buat mas pabu, sudah jelas
faham.
apalagi mas yanto (J Sujanto), (wah terimakasih lho mas kiriman kajian
numeriknya.... sampai nggak sempat membalas).
betapa tidak sesuatu bangunan (ambil sebuah pilar BTN lah yang semakin
jarang dibangun) yang kokoh kuat itu berasal dari adukan yang lembek
setengah cair. itupun waktu meramunya penuh dengan toleransi,
bergantung
mood-nya tukang bangunan kepala. yah memang ada patokan agak baku,
misalnya pasir 3 semen 1 kerikil 1/2..... tetapi itu masih pakai
kira-kira,
toleransi. ada undhak-udhunnya, tidak harus sekian, tak harus kaku...
sekali
lagi bergantung mood-nya tukang bangunan kepala.
apalagi ketika mengaduknya dengan air.. bener-bener kentara prinsip
toleransi itu. bila misalnya tukang kepala merasa hasil adukannya
terlalu
encer, maka dia kan menyuruh kernetnya menambah pasir dan semen.
bila terlalu "akas" (kurang air) dia menyuruh kernet menambah air.
tetapi
apa yang dia lakukan ketika menghentikan penambahan air atau semen?
tak ada nilai baku, tak ada keharusan. yang muncul hanya: "dah...
cukup..
cukup.." sambil mengetesnya dengan sekop atau cangkul. makanya,
untuk membangun indonesia baru yang kokoh.. mengapa kita tak meniru
LABUR hasil adukan KERNET BANGUNAN atas inspeksi TUKANG KEPALA?.....
nuwun,
mBah Soeloyo
Moderator ML JOWO WOJOSETO
SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
SOYO TUWO SOYO REKOSO.....
langganan: [EMAIL PROTECTED];
berhenti: [EMAIL PROTECTED]
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!