herannya,
kalau mengulang yang baik-baik, semisal mencontoh
pergerakan para wali-sanga dalam menyebarkan faham
baru melalui media sosial-budaya, kesenian dan kesantunan
terhadap pemerintah (dulu mah penguasa ya?) kok tidak
ada yang merintis? padahal dari pelajaran itu dapatlah
disarikan fundamental (sumber sukses lho kalau menurut
koh yap) bangsa besar ini, yang cinta akan kebudayaan
dan kesenian bernilai luhur (tengok saja eksistensi saudara-2
kita di pulau dewata)
sekarang ini demi disebut demokratis, adap kesantunan
terhadap pemerintahan yang telah (notabene) dipilih
sendiri kok rasanya hilang entah kemana.
semua serba kepingin frontal. ada pembahasan komunisme,
tahu-tahu ada front anti komunisme indonesia. ada masalah
sara, tahu-tahu muncul AMIN muncul FPI dll.
presiden melempar ide-ide, tahu-tahu bermunculan tolakan
yang "mathok onggrok", pokoke ora, pokoknya tidak!
presiden rasan-rasan bahwa ada pangdam yang mau
mretheli kekuatan lembaga presiden, tahu-tahu pada
sibuk sendiri, sehingga kelihatan sendiri pangdam yang
dimaksud, tanpa disebutkan nama lebih dahulu... hahaa
(kalau yang ini mah keluar konteks... dan merupakan cara
unik seorang presiden yang konon, dirasani oleh mbak
che, diharapkan segi kelemahan fisiknya menonjol)
dll.
ngesoel
-----------
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!