Kejadian sosial pembantaian orang Islam di Maluku ( Halmahera) oleh orang
Kristen di awal tahun ini sungguh mengerikan. Tentunya untuk orang yang
mendapat informasi. Kejadian tersebut adalah kelanjutan persoalan
bantai-membantai yang amat kusut dan sulit pemecahannya. Alhamdulillah
kejadian-kejadian tersebut kelihatannya ( dari jakarta ) sudah agak reda
menuju penyelesaian Insyaallah.
Informasi kejadian yang mengerikan itu sungguh berbahaya bila digunakan
untuk memperburuk keadaan. Misalnya jika digunakan untuk menghasut muslimin
di Jawa untuk membeci Orang Kristen. Pemerintah membuat ISOLASI . Isolasi
informasi, watawan dilarang meliput,dsb. Juga isolasi fisik. Kedatangan /
kepergian penduduk diawasi dan dihalangi.Kebebasan informasi, kebebasan pers
, kebebasan bergerak dsb. menjadi tidak relevan , mengingat kepentingan
yang jauh lebih besar. Tentunya semua itu dengan pengertian bahwa waktu
akan dipakai untuk membenahi keadaan dengan adil dan cepat. Demo Pasukan
Jihad kemarin, meskipun mengerikan ( tidak bagi saya), tapi jauh lebih
tertib dari demo-nya Forkot yang selalu ugal-ugalan dan kampungan itu,
haruslah dipahami sebagai hak politik orang Islam dalam mengontrol
pemerintah agar menggunakan waktu dan kesabaran semua pihak secara
bertanggung jawab.
ISOLASI dilakukan sebagai langkah darurat. Apakah langkah seperti ini
menganggap masyarakat masih belum dewasa ? Menganggap masyarakat belum bisa
memakai otaknya ? Jawaban saya terang pula. YA. Masyarakat yang bisa
membalas dendam pada orang lain yang tidak ada hubunganya, adalah
masyarakat yang masih kekanak-kanakan dan tidak bisa memakai otaknya secara
benar. Mana yang salah mana yang tidak salah , sesuatu yang mestinya
terang, menjadi tergantung provokator. Sikap ini adalah sikap
kekanak-kanakan pula.
Tap MPR no. XXV mengenai larangan ajaran marxisme-leninisme adalah juga
ISOLASI. Isolasi yang ini juga menganggap masyarakat kita sebagai belum
dewasa. Seperti nonton Film, masyarakat dianggap belum berumur 17 tahun.
Ajaran marxisme pada dataran intelek, adalah cara pandang filosofis terhadap
manusia , sejarah, dan cara membalik keadaan. Pada dataran awam ( seperti di
Indonesia ini ) yang tersisa amat mungkin adalah cuma hasutan, kebencian
pada tuhan dan agama, dan kebencian pada orang lain, masalah baru.
Yang jadi masalah dan perdebatan adalah bukan masalah pada dataran
inteletuilnya ( yang kata Magnis Suseno , Kompas 14/4, adalah mudah
dikalahkan ). Yang dimasalahkan adalah apakah isolasi marxisme sudah
waktunya dilonggarkan "sekarang" ini. Ekonomi masih terseok-seok.
Kesalah-pahaman masih gampang terjadi. Kesatuan kebangsaan masih amat encer.
Ngurusi gaji aja masih seperti Srimulat. Kok nambah-nambah masalah...... Kan
bisa tambah keteter.
Besok lusa aja deh...!
Wassalam
Abdullah Hasan.
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!