On Friday, 14 April 2000 Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kejadian sosial pembantaian orang Islam di Maluku ( Halmahera) oleh orang
> Kristen di awal tahun ini sungguh mengerikan. Tentunya untuk orang yang
> mendapat informasi. Kejadian tersebut adalah kelanjutan persoalan
> bantai-membantai yang amat kusut dan sulit pemecahannya. Alhamdulillah
> kejadian-kejadian tersebut kelihatannya ( dari jakarta ) sudah agak reda
> menuju penyelesaian Insyaallah.
Kata Thamrin Amal Tamagola, di Maluku Utara justru Islam diatas angin. Apa
bener ya?
Anehnya yang akan dijihadi Laskar Jihad justru utara. Nggak nyambung. Tapi
sudahlah, mereka sudah akan pulang kerumah masing masing. Setidaknya begitu
komprominya dengan Polisi Bogor.
> Demo Pasukan
> Jihad kemarin, meskipun mengerikan ( tidak bagi saya), tapi jauh lebih
> tertib dari demo-nya Forkot yang selalu ugal-ugalan dan kampungan itu,
> haruslah dipahami sebagai hak politik orang Islam dalam mengontrol
> pemerintah agar menggunakan waktu dan kesabaran semua pihak secara
> bertanggung jawab.
Apa bener tidak ada yang mengkondisikan sehingga demonya tertib? Bahkan
saking tertibnya menjadi lebih mirip karnaval. Boleh juga lain kali kalau
tahu jadwal demonya laskar jihad, maunya ada yang mengundang group turis
untuk menikmati peristiwa budaya yang menarik ini.
Menurut feeling saya, baik Laskar Jihad, FPI, Forkot maupun Famred sama sama
ada yang membuat skenarionya, ada produsernya, dan pentas itu adalah hasil
kerja keras sekelompok orang dibalik layar dengan anggaran biaya yang tidak
kecil. Penggerakan massa, apalagi pakai seragam khas dan akomodasi, terlalu
spektakuler untuk dibilang spontanitas. Makanya polisi ketawa aja melihat
demo Laskar Jihad. Lain lagi dengan demonya Forkot dan Famred. Nampaknya
mereka nggak punya dan nggak diberi akses untuk berdiskusi dengan penguasa,
jadi mereka mainkan skenario frontal. Makanya polisi perlu menyiapkan bom
air dan gas air mata. Itu cuma beda lakon, dan membuat politik semakin
memuakkan!
>
> ISOLASI dilakukan sebagai langkah darurat. Apakah langkah seperti ini
> menganggap masyarakat masih belum dewasa ? Menganggap masyarakat belum
bisa
> memakai otaknya ? Jawaban saya terang pula. YA. Masyarakat yang bisa
> membalas dendam pada orang lain yang tidak ada hubunganya, adalah
> masyarakat yang masih kekanak-kanakan dan tidak bisa memakai otaknya
secara
> benar. Mana yang salah mana yang tidak salah , sesuatu yang mestinya
> terang, menjadi tergantung provokator. Sikap ini adalah sikap
> kekanak-kanakan pula.
Sama kekanak kanakannya orang yang tak berani menindak orang yang nyata
nyata salah.
Atau yang lempar batu sembunyi tangan. Lempar batu sembunyi tangan
kelihatannya perlu dilakukan agar tidak kehilangan muka, karena yang
dilempar batu adalah yang tadinya didukung, misalnya. Jadi ya orang lain
saja disuruh melempar, lalu dijelaskan diforum resmi arti lemparan itu,
sehingga kalaupun penjelasannya nggak nyambung, tetap nggak ada risiko.
Tetap friend. Inilah mungkin yang dibilang politik cantik, canggih dan
sahih.
By the way, Kalau benar Pemerintah (Islam) Indonesia, menganggap masyarakat
yang mayoritas pemeluk Islam ini belum dewasa, kekanak kanakan dan belum
bisa memakai otaknya, lalu apakah itu bukan pelecehan terhadap pemeluk
Islam?
Mungkin bukan itu jawabnya! Coba dipikir sekali lagi.
By the way juga, kalau para pemegang kedaulatan rakyat di DPR dan MPR merasa
Presiden sudah menyalahi aturan, mengapa nggak dilakukan IMPEACHMENT lalu
dipecat dalam SULB MPR? Kan sudah ada mekanisme bakunya? Menggunakan wacana
debat publik hanya membuang energi dan menampakkan ketololan yang memang
sudah lama diketahui masyarakat awam. Semua yang menyatakan menentang
pencabutan Tap MPR itu hanya berhenti pada pernyataan bahwa pendapat GD itu
salah, titik Tanpa tindak lanjut. Padahal kebanyakan mereka anggota
legislatif, artinya kalau mereka sadar akan hak konstitusinya, tahu cara
yang lebih elegan menyelesaikan masalah di Senayan. Bukan cuma berani
ngecaprak dimedia massa. Kalau mau lebih halus, datangi Istana, bicara
langsung pada GD agar mencabut pernyataannya. Tetapi dua duanya nggak
dilakukan. Bingung ya?
Sekali lagi GD menunjukkan kebesaran dirinya, jauh lebih besar dari mereka
yang merasa mendukungnya. Disini nampak siapa membonceng siapa, siapa takut
siapa, siapa lebih besar dari siapa. Dengan memasang MW pada posisi ban
serep, dia yakin benar tidak satu pihakpun berani menjatuhkannya, apapun
yang dilakukannya, karena dia tahu benar siapa mereka.
Apa gitu ya?
yap
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!