Tambah lagi ya....

Kepala Desa se Wonosari DIY berdemonstrasi menuntut
kenaikan gaji.

Horotoyonoh...., gimana nih Bung Yap.


----- Original Message -----
From: che <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, April 14, 2000 3:57 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain)


Hi-hi si Bung Hasan kayaknya sewot banget sama paman
janggut,
barangkali rumahnya kebanjiran air mata gara-gara
menangis
terus-terusan. Nangisi PDIP serta nangisi nasib guru.

Guru rupanya sekarang sudah sadar, enggak tau apakah
itu dipengaruhi
paman Jenggot atau benar-benar kepepet. Sehingga
menggunakan
senjatanya orang-orang Marxis yakni boycott dan
mogok(sebenarnya sih
enggak perlu ajaran Marx, kondisi obyektif akan
terbentuk dengan
sendirinya, kisah orang Samin di Blora misalnya).
Barangkali
guru-guru itu sedang Nyamin he.he..

Bung Hasan, ajaran Marx yang diterapkan dan terbuka
pada kritik
sebenarnya bisa menghasilkan sesuatu yang baik.
Kapitalisme yang
dianut Bung Hasan sampai sekarang bisa hidup karena dia
terbuka dan
berani menerima kritik serta memperbaiki diri. Demikian
juga Marx
yang sudah jadi sosialisme seperti di Eropa. Bahkan
Amerika pun
secara enggak sadar telah menerapkan sosialisme.
Komunis RRC, Vietnam
adalah Marxisme yang telah mengalami koreksi.

Islam yang ditafsirkan punya apa pun di dalamnya, juga
bisa
menyejahterakan bila dia terbuka terhadap koreksi,
serta kritik. Dia
akan busuk dengan sendirinya bila kebal koreksi atau
kritik, macam
komunisme dulu.

Perkara orang tua itu ya biar saja, mereka sebentar
lagi akan
tergusur oleh waktu dan akan jadi situs arkeologis.

Semoga rumahnya tambah banjir
chevia






- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke