usil ah!
----- Original Message -----
From: Yap <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, April 14, 2000 11:21 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain)
koh yap:
Secara naluriah katanya berurutan begitu mas. Mungkin saja ada
perkecualian,
misalnya ada yang bilang: sugih durung karuan sombong didisikno. Ini
kan
positipnya dibilang cerminan PD, tetapi nggak urung menyisakan tanya
bagi
sebagian yang kurang memahami konteks budayanya. Self actualization
biasanya baru terpikir kalau needs yang lain sudah secure. Saya sih
setuju aja
pembolak balikan urutan itu, karena pada dasarnya tiap manusia
mempunyai
keunikan tersendiri. Tetapi dalam psikologi massa yang diambil kan
modus,
bersenjatakan diagram pareto.
----->
ah orang yang bilang sugih durung karuan sombong didhisikno itu kan
menandakan dia sadar dalam keadaan mlarat. lha orang mlarat biar
nggak terasa amat mlaratnya, mendingan sombong.... hahaha...
daripada udah mlarat minderan lagi. kan menderita dua kali koh?
mangkanya temanku bilang, karena terbiasa mlarat akhirnya setiap
doa isinya "minta". dan karena semua minta.. akhirnya doanya
kepanjangan, sampai lepas dari konteks.... (ini apa sih?)
yap:
Bahwa sekarang labor supply>demand, itu memang potret nyata. Lalu
terpikir
bagaimana solusinya. Setelah dicoba menyelam kedalamnya, dengan
memperluas
batas pandang, ternyata demand juga cukup besar tetapi dengan
kualifikasi
yang kebanyakan tak terkejar oleh supply yang ada, sehingga perlu
peningkatan kualitas supply untuk memenuhi demand requirement yang
bergerak
sangat dinamis itu. Mismatch! Makanya kembali ke ungkapan klise:
kualitas
sdm. Dalam changing world yang luar biasa nggak terpola ini lalu
selain
masalah fundamental yang menyangkut kualitas sdm, juga menjadi penting
masalah readiness to change atau adaptability. Disinilah kompleksitas
lalu
menjadi semakin rumit, karena mempersiapkan keahlian yang standard
saja
membutuhkan waktu, sistem dan brainware yang prima, ditambah lagi
menjadikan
mereka multi purpose alias siap pakai dimanapun dan apapun tantangan
pekerjaannya. Kalu sudah membayangkan ini dan melihat alam nyata
kondisi sdm
kita, terutama generasi mudanya, betapa bakal terpuruknya bangsa yang
bernama indonesia ini. Kalau ini terjadi, setidak tidaknya kita yang
tua tua
ini ikut berhutang juga.
------>
termasuk yang extra out-put itu ya koh?
hehee.. pantes sekolah kejuruannya mas aswat jadi pembuangan sampah.
soalnya sudah ketahuan sih bakal tempat kerjanya. yang tehnik mesin,
kerjaannya jadi pengelola mesin ketik (jadi K-TU) atau mesin jahit
(buruh
garment).
kamangka, jaman bapak-ku dulu, malah ada syarat untuk guru-guru SD,
agar berhak mengajar kelas 5 dan 6 (ini punya kans tinggi untuk
jadi mantri guru), harus menguasai ILMU BERTANAM dan disekolahkan
di midelbar landbough (bener nggak ya?) besar di hindia-belanda.
yang terkenal yaaa ML-buitenzorg, Muara itu. tanda kelulusannya
sebagai gong ujian, katanya sih, pak guru-pak guru SD kampung itu
harus mampu mengusahakan sawah se are mulai ngolah tanah
(termasuk ngarit untuk lembu-pembajaknya), menghitung benih dan
nanti mampu pula menaksir bobot gabah dari padi yang sedang
menguning memasuki masa panen.... barulah pak guru-pak guru itu
punya tiket meningkatkan sebutan menjadi DEN MANTRI..
----------
koh yap:
Sekelompok teman saya sedang berfokus pada pemassalan mesin pembuat
mesin
ketika kemudian badai krisis melanda dan perbankan menutup pintunya.
Nah
mungkin perlu mulai dari awal, bahwa peningkatan kualitas guru adalah
pilihan yang masih seide dengan mesin pembuat mesin itu. Kalau guru
menjadi
profesi yang diidolakan banyak remaja, niscaya terjadi kompetisi yang
tinggi
untuk menjadi guru. Pada saat itulah requirement yang tinggi dapat
diterapkan. Dan hanya putra putri terbaiklah yang mampu berada dan
bertahan
dalam squad guru/dosen.
---->
setuju... jangan sampai kebalik seperti cerita tukang becak Mat Pithi
ini ya:
suatu siang mat pithi narik becak, nyebrang seenaknya hampir kesambar
panther. sopir panther yang "mm" turun dengan muka merah mendongak
bilang "Dasar kang becak goblog, nyebrang seenaknya....!"
mat pithi hanya nyahut : "kalau pinter sampeyan hanya becak mas!"
koh yap:
Sekarang anak muda lebih banyak tertarik menerjuni bidang
entertainment,
karena dianggap cukup terbuka kesempatan untuk hidup layak, kaya dan
terkenal. Kalau saja hidup enak, kaya, terkenal, terhormat ini
dianggap
parameter yang menjadi acuan banyak orang menempuh kehidupan, maka
seberapa
mampu profesi guru memberikan itu semua? Sebaliknya,tanpa guru yang
tepat
kualifikasinya, seberapa banyak orang yang mampu mencapai taraf hidup
seperti itu?
----->
sebetulnya dunia ini banyak ketidak pastian. alias gambling.
kok banyak peminat? ya karena memang gambling ini banyak
peminatnya. karena, sudah terbiasa dengan kotak-kotak calon
kurungan kalau keluar dari sesuatu sekolah (kejuruan) itu. maka
juga tak heran, banyak anak muda (dan orang tuanya) selalu
ngotot memasukkan diri (anaknya) ke SMU (sekolah menengah
uatas). karena masih sempay main gambling selama 3 tahun..
hahahaaa... siapa tahu dapat lolos masuk PT... bukan begitu
mas aswat?
koh yap:
Untuk tidak menjadikan diskusi ini bias, saya bukan guru, bahkan
sepanjang
kehidupan ini saya terus berguru, karena bagi saya hidup ini adalah
intelectual journey. Dengan latar kehidupan seperti itulah saya
melihat
posisi strategis guru, baik guru yang formal, maupun (dan ini yang
bagi saya
lebih banyak) yang informal. Setiap orang yang saya jumpai, termasuk
semua
member milis ini. Semua!
---->
yaah tetuaku bilang dalam ajarannya, "ngelmu iku kelakone kanthi laku"
kok koh.. (ilmu itu tercapainya dengan tindakan nyata). itupun "lekase
klawan khas" (performance-nya harus dengan bekerja keras), agar
"nyantosani" (memper kuat) "setya budya pangekesing durangkara"
(semua usaha untuk mengerem dan mengeliminir nafsu jelek, angkara
murka). terserah yang menjalani saja kok.
sorry....
-----------------------------------------------------
Soelojo
moderator ML JOWO WOJOSETO
[EMAIL PROTECTED]
(sing sayuuuk sing rukuuuun....)
yap
(It's a changing world. Adapt to it)
-------------
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.
----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, 14 April 2000 12:44 WIB
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain)
> Bagaimana kalau hirarki itu tidak harus berurutan?
>
> Apakah untuk sampai ke Self Actualization Needs
> seseorang harus secara bertahap terpuaskan pada hirarki
> kebutuhan sebelumnya?
>
> Basic Needs mencakup kebutuhan dasar untuk hidup.
> Setelah Basic Needs terpenuhi apakah seseorang tidak
> akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang lain?
> Bagaimana caranya bila output > input?
>
> Disamping itu, bila profesi pengajar menjadi menarik
> karena gaji yang ditawarkannya (sesuai dengan prinsip
> dagang) maka pertama apakah teori pasar mengenai upah
> tidak akan berlaku sehingga gaji tetap tinggi meskipun
> supply > demand?, ke dua apakah motivasi untuk menjadi
> guru tidak akan bergeser ke arah yang lebih bersifat
> materialistik? Tentu saja saya percaya bahwa Bung Yap
> tidak akan melupakan Job Fit Theory John Holland
> (sebagai pembanding) dimana pada dasarnya keunikan
> individu telah membatasi pilihan kerjanya.
>
> Bung Yap benar bahwa masalah yang sedang
> dipergunjingkan sekarang ini adalah masalah basic
> needs. Namun demikian, saya berpikir bahwa masalah
> sesungguhnya yang terjadi di Indonesia saat ini adalah
> labor supply > demand sehingga persaingan untuk mencari
> kerja menjadi tidak sehat dimana External Productivity
> lembaga pendidikan juga menjadi semakin rendah. Para
> direktur yang berijazah S1 saling berlomba untuk
> memperoleh gelar master agar paling sedikit bisa
> mempertahankan posisi tanpa memperhitunhgkan apakah
> master nya relevan atau tidak.
>
> External Productivity adalah sejauh mana alumni sebuah
> lembaga pendidikan bekerja pada bidang kerja yang
> sesuai dengan apa yang dulu dipelajari. Insinyur
> Pertanian yang menjadi Direktur Penerbitan, Dokter yang
> tidak praktek dan menjadi politisi, Ir Pertambangan
> yang terjun di dunia Keuangan Perbankan adalah
> contoh-contoh external productivity yang rendah. Secara
> makro itu merupakan pemborosan yang luar biasa.
>
> Jadi, pertama bukannya saya tidak setuju bahwa nasib
> guru harus diperhatikan namun hendaknya hakikat profesi
> guru jangan diabaikan; ke dua, tidak ada satupun skema
> penggajian yang berlaku umum dan memuaskan semua pihak
> karena hakikat gaji adalah relatif.
>
> ��
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!