Joauh dari Desy Ratnasari, PDIP itu bukan favorit saya. Tidak urung hati ini
trenyuh melihat nasib Laksamana. Namanya bagus. Pengalamannya lumayan.
Sekolahnya OK. Badannya bugar . Tubuhnya anteb menawan. Dia itu kan
kebanggannya organisasi pemenang pemilu . Cuma ada dua-tiga orang disana. La
kok tega bapak merubuhkannya seperti pokok pisang tua di kebonnya....
"Salah saya apa?". pertanyaannya nelongso."Sudah , nggak usah berpanjang
debat. Saya mempergunakan hak prerogatip saya!" .Bapak menjawab dingin,
mukanya pun mengarah pokok flamboyan diluar istana. Laks pun ngeloyor pergi.
Airmatanya deras menetes dalam hati.yang juga membasahi paru-parunya. "Uhuk,
uhuk! Uhuk, uhuk.." Batuknya kelihatan tertahan. Kepentingan memang bisa
amat kejam. Apa arti seorang manusia ?
Trenyuh tapi lega. Bukan lega, tapi muncul secercah harapan. Kejadian ini
mudah-mudahan cukup menyengat kesadaran banyak orang. Bangsa ini masih amat
mudah terperosok kedalam pengkultusan. Bangsa ini masih merindukan seorang
raja guna menghamba. Bangsa ini masih mudah lupa. . Kok ribut. Kenapa dulu
memilihnya ? Pertanyaan naif seperti itu masih saja ada. Kita harus sabar
menjelaskan bahwa memilih bukanlah akhir kerja. Menjaga adalah kerja
berikutnya. Menegur keras adalah kerja lainnya. Dia itu pelayan (hamba) kita
yang duaratus juta. Bukan sebaliknya! Kalau nggak bener, marilah kita lempar
jauh kejalan raya. Masih banyak manusia yang menderita.
Gitu aja. Jangan repot-repot....
Wassalam
Abdullah Hasan.
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!