On Sat, 29 Apr 2000, Abdullah Hasan wrote:

> Dalam beberapa hari ini saya betul-betul frustasi. Saya nggak pingin GD
> jatuh , apalagi sampai Ibunda yang ngganti. Bisa-bisa Taufik jadi menteri
> BUMN. Bayangkan betapa kerasnya mesin uang itu bekerja lembur siang malam.

WAM:
Sama lah.
Saya juga nggak ingin mbah Dur keluar dari istana.
Cuma ya itu tadi. Mulut dan tindakan orang tua ini makin nggak nggenah
aja. Kalau jadi presiden cuma mau sak karepe dewe ya nggak sulit. Padahal,
awalnya sudah bagus. Daripada PDI-P dan Golkar ribut terus, mending orang
lain yang jadi presiden. Terlebih lagi, naiknya mbah Dur telah menciptakan
lembaga baru di sekitar presiden: lembaga pembisik. Dulu, kita masih
bertanya-tanya, kelompok mana yang jadi lembaga ini. Sekarang, kayaknya
agak jelas. Dengan melihat bahwa yang jadi korban (selalu) bukan orang
PKB, bukan hal yang salah kalau kita menduga lembaga pembisik itu
(mestinya) berasal dari PKB. Di Tekad terbaru, diberitakan Matori
mengatakan pada elit PDI-P, bahwa mestinya yang digusur itu menteri dari
Poros Tengah. Lha kok Matori yang bukan presiden sampai tahu kalau (yang
harus digusur) itu orang Poros Tengah? Apa karena itu memang rancangan
PKB? 

Sejarah akan mencatat, pada masa kepresidenan GD dimulai lembaga baru:
lembaga pembisik presiden. Apa bedanya dengan nepotisme?
 
> Kita semua sudah capek. Saya cuma kepingin demokrasi, oposisi, anti-kultus
> individu, dsb. Tapi langkah GD main pecat dan menuduh Laks dan Kalla KKN,
> betul-betul diluar akal dan batin sehat. Membayangkan bagaimana orang baik
> yang satunya ( KWIK ) terjepit antara ideal dan hatinurani, betul-betul saya
> kasihan dan bingung.

WAM:
Kita tunggu langkah Golkar/PDI-P.
Di Tekad, Yusuf Kalla sudah membantah semua tuduhan KKN itu. Kita tunggu
saja, apakah fakta yang dibeberkan itu akan digunakan di pengadilan/pansus
DPR. 
 
> Yang paling pedih saya melihat anak-anak muda PKB. Sebelumnya meskipun
> sering pegel, saya diam-diam punya harapan pada mereka. Lha wong saya dulu
> aktivis pemuda NU. Kemarin itu saya melihat mereka persis seperti pelacur.
> Dan Sobary ? Kenapa bisa begitu ya ? Gelo banget aku. Mudah-mudah Allah
> s.w.t segera menolong mereka.

WAM:
Pada dasarnya, warga PKB (baca: NU) tidak punya bakat berdemokrasi. Dalam
artian mampu mengkoreksi pimpinannya. Mana ada warga NU mengkoreksi elit
NU? Bisa dianggap melawan wali.

Dengan kata lain, warga NU cuma bagus jika tidak menjadi pimpinan. Mereka
bisa mengkritisi. Begitu menghadapi pimpinannya, melempem lah mereka.
Omongan orang-orang PKB akhir-akhir ini membuktikan hal itu. Pantas,
seorang penelpon di TPI mengatakan, Effendi Choirie adalah _Harmokonya
PKB_. Kwek--kwek--kwek...

> Manusia ?!
 
> Wassalam
> Abdullah Hasan.


- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke