On Wed, 10 May 2000, GIGIH NUSANTARA wrote:
> Dalam bahasa tulisan, kita bisa membuat tambahan tanda
> kutip tersebut, atau dimiringkan. Aku dulu sekolah
> pertanian, kalau nulis nama spesies mesti begitu.
WAM:
Mbah Gigih yang ahli pertanian tapi (pernah) jadi wartawan.
> Tapi kalau bahasa lesan, seharusnya orang Detik paham,
> itu tanda kutip atau bukan. Atau sebagai pembaca
> Detik, juga bisa melihat perlu tanda kutip atau tidak.
WAM:
Lha detik ini pancene kurang ajar mbah.
Ndak kasih tahu apa kalau baca perlu nambahi tanda kutip, atawa lupa nulis
pakai huruf miring. Ya deh mbah, biar kita nggak udrek-udrekan terus,
semua huruf di detik tak anggep pakai huruf miring. Jadi, berita itu
adalah berita seolah-olah.
> Ini memang soal kepekaan, yang tidak setiap orang
> punya. Lebih-lebih kalau gerakannya main pokoknya,
WAM:
Ya deh, saya kurang peka.
Maklum masih muda (katanya mbah Gigih lho).
Nuwun sewu, mbah. Kulo katah lepatipun.
> pokoknya, pokoknya. Dan rasanya sikap seperti inilah
> yang membuat negara ini anget terus. Lebih-lebih pula
> kalau sudah serba srekalan. Yang nyoba ngikuti saja
> sudah bingung sendiri. Ndridil, ndak rampung-rampung.
> yang ini lah, yang itu lah.
WAM:
Iya ya mbah.
Mendingan kita belajar mengulangi kayak jaman Soeharto.
Kita diam aja dah, apapun yang dilakukan presiden kita.
The president knows best.
Sing sopo wani ngritik, njaluk ditendang.
Atawa, njaluk disuwek congor-e. Begitu kata Banser ketika nggruduk JP
tempo hari. Ndak tahu saya, apa kata CONGOR itu menjadi bahasa sehari-hari
Banser. Nek di lingkungan saya sih, itu kata kasar banget.
Pareng mbah.
Sepurane sing akeh.
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!