lha iya to Meneer,
orang mendengar itu kan bisa macem-macem... eh salah..
orang tidur itu bisa macem-macem. buktinya kalau pagi hari
sering aku (dulu masih di kampung), sebelum terbangun
samasekali bisa mendengar bunyi ayam berkokok dan burung
ketilang di pohon sawo depan rumah "crewet-nya" mintak
ampun. Itu  juga sering menjadi mimpi yang benar-benar
indah, mimpinya masa kanak-kanak. serasa bisa beterbangan
bersama ketilang-2 itu. dan ketika adegan mimpi menjadi
terpeleset dan mau jatuh... "mak jenggirat" ternyata rangkaian
proses mimpi indah dan membahagiakan itu hanyalah
proses bangun pagi setelah tidur nyenyak, tetapi indera
telinga telah jaga duluan.....
suatu ketika, diriku pernah "bengok-bengok" tengah malam
karena merasa seperti diterkam "gendruwo" dengan proses
mimpi horor yang panjang lebar. padahal itu hanya sekejap
proses ketika "ibundaku" menyelimuti anak-nya yang tidur
mlungker seperti udang-kedinginan....
belum lagi teman kuliahku yang bener-2 tukang ngantuk.
sampai dosen-nya pengin ngetes (karena nilai temanku
ini betul-2 nilai terbang). dibiarkannya dia ngantuk
dan tidur beberapa menit, kemudian ditanya tentang
materi yang dikuliahkan.... herannya, walaupun tidur
dipanggil kok ya nyaut... trus jawabannya itu lho...
nyambung-nyambung saja... akhirnya pak dosen yang
dari ambon (keluarganya banyak yang jadi korban
kali?) senyum-senyum klejingan....
dah ah.. makin panjang makin dianggap dobol lak lepok a..
(hanya berbagi pengalaman aja kok....)

tarabik Neer... selamat cari bagian di JAMAN GEBLEG...

soeL
-----

----- Original Message -----
From: "reijkman karrountel" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, July 24, 2000 9:13 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Presidenku


Bapak Mbah Soeloyo, yang sangat saya hormati.

Pertama, terimalah baik-baik tabik dari saya. Sebab amat senang
di hati saya
memperoleh komentar dari bapak Mbah Soeloyo mengenai apa yang
pernah saya
baca dahulu sekali, tentang kebiasaan bapak Presiden negeri
bapak Mbah
Soeloyo, yang tidur tapi tetap mampu mengikuti pertemuan yang
berlangsung.
Itu terbukti ketika beliau mendapatkan giliran menyampaikan
komentarnya,
ternyata sangat runtut (benar kata ini ? Maaf bila salah) dan
menyambung.

Kedua, mohon maaf kalau saya terpaksa percaya, dan oleh karena
itu oleh
bapak Mbah Soeloyo saya dinilai gebleg (dungukah ?).

Maaf bapak Mbah Soeloyo. Benar-benar negeri bapak Mbah Soeloyo
ini begitu
banyak hal-hal yang ajaib, namun mampu membuat saya banyak
tertarik, dan
mampu melengkapi keindahan negeri bapak Mbah Soeloyo. Bahkan
wakil-wakil
bapak Mbah Soeloyo, yang pasti oleh bapak Mbah Soeloyo pilih,
untuk duduk di
parlemen, begitu menghambur-hamburkan enersi mereka di tengah
begitu banyak
pekerjaan berat yang dihadapi negeri bapak Mbah Soeloyo.

Oleh sebab itu, bapak Mbah Soeloyo, mestinya bapak Mbah Soeloyo
juga sama
seperti saya (sama-sama gebleg), karena tanpa disertai sifat
gebleg
tersebut, mustahil bapak Mbah Soeloyo memilih wakil seperti itu
quality-nya.

Di bus kota yang saya lihat ada tulisan 'sesama bus kota tidak
boleh saling
mendahului'. Bagaimana nasib kita berdua yang sama-sama gebleg
ini? Teman
Jawa saya, Paido, bilang, kalau tidak gebleg tidak kebagian.
Bolehkah saya
tahu dari bapak Mbah Soeloyo artinya?

Hormat dan tabik





_______________________________________________________
Say Bye to Slow Internet!
http://www.home.com/xinbox/signup.html


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!















->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke