entah benul entah benal.....
tentang mundurnya kwik, saya lebih tertarik
pada pernyataan, "agar presiden tidak repot
menyusun kabinet yang baru" (soalnya memang gak
mau repot ya? hehee)
ini menyangkut psikologi ketimuran memang. dengan
bertahannya para menteri di kedudukan yang sekarang,
presiden harus "memecat-nya" terlebih dulu, baru
mengangkat (lagi?). lain halnya kalau pada tahu diri terus
menyatakan mudur.. lebih ringan beban psikologis presiden
yang ngeyelan itu. contoh kasus pernah saya postingkan
pada peristiwa meninggalnya PM O-Buchi, jepang. para
menteri langsung meletakkan jabatan, sehingga tinggal
pejabat PM Aoki saja di kabinet waktu itu. kemudian
dengan cepat dan mudahnya PM Omori terpilih dan sekaligus
menyusun menteri-menterinya.... (ning orang jepang itu
seragam kok ya? jadi mudah.... )
tapi ya gimana lagi wong tingkah polah tokoh sekarang ini
selalu dihubung-hubungkan dengan "dapat-nya" apa,
sekenarionya bagaimana, apakah dalam rangka ingin
ndongkel presiden? dsb.
yang jelas, suara miring di legislatif amat kentara, yang
menyatakan bahwa intinya "presiden belum bisa
membentuk kabinet, sebelum yang mulia MPR
memperkenankan atau melorotnya lewat arisan
istimewa para tokoh partai!"
dan saya berpendapat, sekarang MPR sedang mau
meralat GBHN.... kira-kira, agar lebih baik "menggaris
besari haluan negara pada diri presiden"
(di UUD GBHN dibuat 5 tahun sekali kalau tak salah
ingat)
soeL
-------
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!