Bung Mashuri,

Saya pernah melihat sebuah foto hasil karya tahu 70 an dimana
teknologi animasi computer belum tersedia seperti sekarang. Ada
sebuah foto yang mendapat penghargaan. Foto itu adalah foto sebuah
gelas anggur yang bening dimana didalamnya ada orang. Latar
belakang gelas itu merah. Foto ini jelas hasil dari sebuah teknik
fotografis.

Kamera saya manual dan saya kadang menggunakan tombol dibawah
kamera yang biasa untk menggulung film untuk menahan sebuah frame
agar bisa digunakan untuk mempotret obyek lebih dari satu kali.
kalau pencahayaan, diagframa, dan kecepatan tepat kadang kita bisa
menghasilkan gambar yang kita bayangkan.

Anda benar bahwa di kamar gelap kita juga bisa melakukan super
impose dan permainan tangan atau filter guna mengurangi intensitas
cahaya agar menghasilkan gambar-gambar yang kita kehendaki

Roy yang selalu tidak lelah menyelidiki hal-hal seperti itu
mungkin mendasarkan kesimpulannya pada analisis manimasi computer
dan bukan pada sumber aslinya. Jadi berbeda memang dengan analisis
yang pernah dia lakukan dengan telpon Baramuli maupun Habibie.

Saya bukan ahli fotografi ataupun ahli computer namun namun,
didalam gambar itu, ada pertanyaan yang muncul. Pertama, jenis
pencahayaan macam apa yang digunakan, apaah tungsten atau blitz.
Berapa banyak sumber pencahayaan yang digunakan. Dugaan saya
adalah bahwa sumber pencahayaan itu berasal dari sisi kiri dan
sisi kanan.  Dari sisi kiri gambar kita melihat sumber cahaya itu
terpantul di kaca mata GD sebelah kanan. Dari sisi kanan gambar
kita melihat sumber pencahayaan itu terpantul kuat pada kulit
Aryanti terutama di bagian dahi dan tangan bagian bahu serta
gelang perhiasannya. Jadi, saya berpikir bahwa seandainya foto
kalau bukan hasil dari sebuah manipulasi fotogafis atau computer
tentu menggunakan sumber pencahayaan lebih dari satu. Artinya,
foto itu tidak dihasilkan dari sebuah pemotretan biasa yang
menggunakan hanya satu sumber pencahayaan yang berasal tepat dari
arah lensa yang digunakan untuk memotret. Apalagi hanya dihasilkan
dari sebuah kamera pocket.

Saya masih berpikir mengenai intesitas efek pantulan pencahayaan
di tangan GD yang disebelah kanan dengan tangan A yang diatasnya.
Juga saya masih berpikir mengenai dtail rambut GD di bagian atas.
Coba perhatikan.

Pendapat ini saya lontarkan tanpa apriori namun tetap skeptis dan
dilandasi oleh rasa ingin tahu untuk mencari kebenaran.


----- Original Message -----
From: M.Mashuri Alif <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, September 03, 2000 9:44 PM
Subject: RE: [Kuli Tinta] HAYO GUS DUR BISA JUJUR NDAK ?


Mashuri:
Saya ingin bertanya kepada siapapun yang mengerti fotografi dan
art disaint

Mempelajari hasil wawancara pakar fotografi dan grafis ini saya
coba
menganalisa.
walaupun ada, data-data yang sampai saat ini saya kurang percayai.

1. Benar semua apa yang dibicarakan pakar komputers tersebut
   hampir seluruh yang mengerti disaint grafis akan
mempercayainya.

Tetapi ada satu yang seharusnya dijawab;
Pertama:
Masalah teknis film dan alat perakam film tersebut (Jenis kamera
tidak
diberitahu)
karena ini berpengaruh banget.
Dan dari gambaran mengenai film terlihat ada kesalahan disini.
Setahu saya pengabungan objek tidak hanya dilakukuan dengan
computer.
tetapi juga bisa dilakukan dengan cara mekanik (klasik) yaitu
dengan dua
kali
pemotretan dalam objek serta negatif yang sama. (hampir sama
dengan cara
kerja komputer
mis: dengan program photoshop).
Oleh sebab itu para fotografer menduga kurang akuratnya berita
tentang foto
tersebut.

Para pengguna kamera poket (otomatis) sederhana atau kamera
sederhana
lainnya.
Problem penumpukan gambar itu biasa terjadi.
Dan banyak pula para peraih penghargaan fotografi mendapatkan
obyek
fantastis ini dari kesalahan yang dia tidak duga sama sekali dari
kamera
saku.
Alias kesalahan teknis dalam kameranya sendiri.

Dalam wawancara dibawah digambarkan, penyelidikan baru dianalisa
pada jenis
film, hasil cetak
film dan melupakan jenis kameranya.

Pada kamera pasaran (jenis poket), pengulungan secara otomatis
(apalagi
dijelaskan film lama)
ini akan mempengaruhi penggulungan dan pemotretan.

Hal ini pernah menghebohkan, sebuah foto yang diterbitkan dalam
majalah
mistik.
Seorang wiraswata yang berhasil merekam "hantu" di kameranya,
kiriman
seorang pelajar
(bukan rekayasa grafis).
Mungkin hal ini sama dengan hasil "yang tidak di duga". Hal ini
menguat
dugaan saya
dari hasil wawancara dibawah, foto gusdur diambil pertama
setelah foto yang menghebohkan itu adalah
foto Ariyayanti dan Suaminya sedang syur. Jadi kuat dugaan saya
bahwa ini hanya kesalahan pemotretan & pengulungan film. Apalagi
dikatakan
bahwa ini film  lama (bedakan film dengan negatif film).

Teknologi komputer dalam menerangkan, mengkaburkan dan merekayasa
memang
dimiliki
oleh teknologi komputer.
Tetapi teknologi Disaint komputer tanpa didukung dengan pemahaman
masalah
kimiawi,
fisika dan mekanika dari zat yang terdapat pada film, itu sangat
semberono.

negatif Film itu sangat rentan terhadap masalah kimiawi,
penyimpanannyapun
harus
teliti tidak sembarangan. Seperti pengalaman saya melihat
dokumentasi film
yang
dilakukan karyawan Antara sangat semberono.

Tertumpuknya negatif satu dengan negatif lainnya saja ini bisa
berpengaruh.
Faktor cuaca dan lainnya harus diteliti juga. zat senyawanya apa
pakar
komputer
dan foto juga melakukan penyelidikan, berani taro pasti tidak ia
lakukan.
Inilah menurut saya membuktikan foto ini hanya sebuah kesalahan
dari kamera
murah (saku) yang menghasilkan efek gambar yang luarbiasa, dari
faktor
kimiawi
akibat kesalahan mekanika dari kamera dan filmnya sendiri.

Harus sama-sama dimengerti masalah negatif film, adalah masalah
kimiawi.
Masalah kamera adalah masalah mekanika.

Negatif film disebut kan adanya pada bagian separasi film. Dalam
hal ini teknologi komputer digabungkan
dengan teknologi kimia. Wah ini lebih ngejelimet lagi.
Pada jaman dahulu film yang habis di foto, dicuci dengan cara
manual
(klasik)
tanpa alat bantu komputer. Jika film yang habis difoto ini dicuci
secara
klasik
(manual) dalam ruang gelap (saya berani tarohan) sang pencuci akan
tahu
ini benar foto asli atau kesalahan pemoteran atau rekayasa
pemotretan.
Disinilah
kuncinya. Harus mengerti dulu maksud saya yang saya sebut
separasi.
Yaitu film yang dari kamera lalu di negatifkan.

Oleh sebab itu biasanya, seorang fotografer yang handal tidak
pernah mau
mencuci
(dalam bahasa percetakan/ Separasi) dilakukan dengan komputer dan
alat
bantu.
Biasanya dilakukan sendiri penyucian tersebut dalam ruang gelap,
secara
manual.

NB: Sebenarnya dari wawancara dibawah saya hampir percaya, karena
saya
sangat
    mengerti dengan apa yang dijelaskan (baik masalah film dan
computer).
    Tetapi teknologipun mengenal hukum masa dan waktu. Hal ini
yang tidak
    dia analisa padahal sebenarnya sudah dia katakan secara jujur.
Saya cuma
    mau mengatakan bahwa kemungkinan pemahaman ilmu pengetahuan
orang
dibawah ini
    kurang lengkap. Seharusnya dilengkapi oleh akhli-ahli fisika
dan kimia
serta
    mekanika baru terbongkar tuh masalahnnya.

Nah mungkin ini pelajaran bagi seluruh fotografer mediamasa atau
pengelola
media
(industri pers). Seharusnya selektif dalam memasuki foto-foto yang
kedaluwarsa, foto yang sudah termakan usia (kimiawi) seharusnya
tak layak
muat
dan bagi seorang disaint grafis memang dapat diperbaharuhi tetapi
tetap saja
tidak profesional.

Sebuah media masa besar seperti panji dan Forum atau apapun harus
memegang teguh profesionalitas.
dari mulai kadar film, kemampuan kamera, manusianya, sampai
disaint dan
tataletaknya
sendiri harus menjadi kesatuan yang utuh, jika mau dibilang foto
tersebut
bermutu atau
tidak.
Sekian dan terima kasih.

M. Mashuri Alif



-----Original Message-----
From: Sams [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Sunday, September 03, 2000 7:15 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kuli Tinta] HAYO GUS DUR BISA JUJUR NDAK ?


Pak Abdullah Hasan, senang saya mengkoleksi posting sampeyan soal
Ariyanti.
Terkadang secara usil saya forwardkan ke milis-milis lain buat
menggegerkan
suasana. Jadi kalau sampeyan tukang becanda, saya milih jadi
tukang usil
saja. Soalnya gara-gara usil-lah maka saya jadi wartawan, hehehehe
....

Baca ini ya ? Habis tuh mari terbahak bersama. Kita mau tunggu,
Gus Dur
sebetulnya bisa jujur ndak. Kita nggak butuh orang yang bersih
sekarang ini.
Kita butuh orang yang jujur.  Mau nggak dia ngaku.

Selamat menyimak,

Meneliti klise Asli foto-foto 'Gus Dur-Aryanti'

Roy : Foto Bukan Hasil Rekayasa

Jakarta, Glodok Standard.-
Pembicaraan soal keaslian foto Gus Dur-Aryanti masih hangat. Pakar
multimedia dan dosen fotografi UGM Roy Suryo setelah mendapat
klise asli,
melakukan penelitian kedua. Hasilnya, foto itu bukan rekayasa.
Tapi ada
fakta lain, apakah itu? Fakta lain tersebut, menurut lelaki yang
juga
anggota tim ahli IT Mabes Polri itu, adalah ternyata rol klise
(negatif) itu
menyambung dengan gambar Aryanti dengan mantan suaminya, M. Yanur.
Meski Gatra dan Panji sudah membuat laporan khusus, keduanya tak
menampilkan
foto heboh yang dimaksud. Justru tabloid Adil No. 49/Tahun ke-68
yang terbit
pekan ini, memuat foto Gus Dur-Aryanti di halaman dalamnya. Untuk
menguak
sejauhmana kebenaran foto tersebut, berikut wawancara dengan Roy
Suryo yang
pernah menghebohkan saat mengungkapkan bahwa kset pembicaraan
Presiden
Habibie dengan Jaksa Agung Andi M Ghalib adalah asli di Jakarta
Convention
Centre, Jakarta, Sabtu (2/9/2000).

file://Bagaimana Anda melihat kasus ini sekarang?//
Kasus ini hampir mirip dengan kasus-kasus yang pernah saya coba
untuk
ditelaah. Saya tergerak atas rasa ingin tahu dan rasa geram karena
banyak
orang yang belum-belum sudah menyalahkan teknologi sebelum
mengerti pasti
tentang teknologi itu.
Tanpa melakukan kajian ilmiah dan teknis, belum-belum sudah bilang
foto itu
hasil rekayasa komputer. Bahkan ada pendapat foto-foto yang
beredar di
internet tidak bisa dipercaya. Itu kan namanya skeptis terhadap
perkembangan
teknologi.

file://Untuk menanggapi sikap itu bagaimana?//
Pertama-tama saya harus mencari buktinya, karena saya baru
mendengar
beredarnya foto itu. Pertama saya mendapatkan softcopy berupa file
yang
dikirimkan beberapa teman di Jakarta. File itu dikirimkan dalam
ukuran yang
sangat kecil, hanya 100 kilo bytes.
Saya menolak karena analisa dari file sekecil itu sangat
dipertanyakan.
Kemudian saya beberapa kali dikirimi foto tersebut. Foto yang
akhirnya saya
analisa berukuran 890 kilo bytes dalam format compressed JPG. File
ini jika
dijadikan format BMP menjadi berukuran 4,65 mega bytes, atau
sekitar 6 mega
bytes untuk PSD. Berdasarkan foto itulah saya berani membuat
analisa.

file://Langkah selanjutnya?//
Pertama saya mencoba melakukan multi konversi, dari JPG menjadi
BMP kemudian
menjadi PSD untuk mencoba mengiris kembali layer-nya slice by
slice. Ini
hanya bisa dilakukan pada format PSD.
Kemudian saya melakukan separasi menjadi warna-warna cyan,
magenta, yellow,
dan black. Ternyata dari hasil separasi tersebut tidak ada warna
yang
"lari". Biasanya jika sudah dilakukan sentuhan komputer atau hasil
digital
retouching, ada warna yang lari.
Saya juga menggunakan cara yang hampir mirip dengan itu, yaitu
grayscalling
256 skala abu-abu. Analisa ini gunanya untuk memperlihatklan
contrast dan
brightness-nya. Ternyata tidak ada kesan foto itu telah disentuh
dengan
komputer.

file://Apa dengan demikian Anda puas bahwa kesimpulan Anda
valid?//
Tidak. Saya belum puas dan mesti melihat bukti fisik yang asli.

file://Apa alasan itu yang membuat Anda datang ke Jakarta?//
Saya datang ke Jakarta Kamis (31/8/2000) untuk acara Internetworks
2000 yang
digelar di JCC, sekaligus untuk mencari foto ini. Ternyata, saya
melihat 3
macam kemungkinan foto yang bisa ditemukan. Pertama foto asli
tahun kuno
dari klise asli, ini sangat sulit didapatkan. Yang kedua cetakan
baru dari
klise asli, ini yang beredar di kalangan DPR. Yang ketiga foto
baru dari
klise baru. Yang ketiga ini sangat parah dan saya bertekad tidak
akan
melakukan analisa lanjutan jika jenis foto ini yang saya dapatkan.

file://Anda mendapatkan yang mana?//
Saya mendapatkan foto cetakan baru dari film (negatif) asli. Ini
terlihat
dari hasil cetakannya yang suram dan tidak cerah. Kalau film
disimpan lebih
dari tiga tahun, akan ada warna-warna yang pudar walaupun
warna-warna utama
masih tampak. Dari cetakan itu bisa dilihat bahwa foto itu dicetak
dari
klise lama.
Sekarang saya melakukan analisa bukan sebagai ahli komputer. Dalam
hal ini
komputer hanya merupakan alat bantu. Dengan bukti cetakan baru
ini, saya
mencari sumber yang lebih kuat. Dengan dibantu teman-teman majalah
Panji,
saya dipertemukan dengan Aryanti.
Dari Aryanti, saya mendapatkan foto asli dari klise asli yang
sudah kusam.
Foto itu dicetak di atas kertas fuji color crystal paper. Setelah
tahun
1999, di balik foto selalu terdapat printing code. Sedangkan foto
yang
dibuat antara tahun 1997-1999 dicetak di atas kertas fujicolor
glossy paper.
Jadi bisa disimpulkan foto itu dicetak sebelum 1997.
Ini saya simpulkan tanpa mendengar cerita-cerita Aryanti yang
menyatakan
film itu dibuat sekitar tahun 1996. Itu saya anggap angin lalu
saja.
Kemudian foto itu saya scan bolak-balik dengan resolusi 600 dpi di
redaksi
majalah Panji. Saya kemudian bertanya kepada Aryanti, apakah ada
klisenya,
dijawab klise itu ada pada mantan suaminya.

file://Lalu?//
Dibantu teman-teman majalah Forum, saya berhasil ketemu mantan
suami
Aryanti, Yanur, di redaksi Forum. Dan ternyata benar klise itu
disimpan
suami Aryanti. Klise itu saya lihat lihat jenis filmnya: Fujicolor
film isi
12 foto. Foto yang menghebohkan terletak pada frame pertama.
Setelah itu
isinya gambar-gambar mesra Aryanti dan suaminya.
Klise itu saya coba analisis dengan cermat. Ada bukti bahwa itu
klise lama.
Di bagian sampingnya terdapat tulisan "35CSH2", 35 artinya 35 mm,
C berarti
color, S berarti super dan H berarti high resolution.
Sedangkan film fuji yang beredar sekarang jenisnya superia, muncul
pada
1999. Sebelumnya ada yang muncul pada 1996, yaitu Fuji Super HGV.
Film yang
digunakan ini adalah Fuji Super HR2, jadi film ini dibeli tahun
1996 atau
sebelumnya. Harap diingat, film tidak bisa disimpan terlalu lama
karena ada
masa expire-nya.
Kemudian kemudian klise ini diperiksa lebih lanjut kontinuitasnya.
Ternyata
foto yang menghebohkan itu menyambung dengan foto-foto Aryanti dan
suaminya.
Lalu saya lakukan tiga kali proses scanner komputer untuk
identifikasi.
Pertama seluruh klise di-scan dengan desktop scanner yang
dilengkapi
transparent adapter. Saya scan semua lengkap dengan geriginya.
Scan kedua
dilakukan khusus pada foto yang menghebohkan lengkap dengan film
tracker-nya.
Dari hasil scan ini terbukti tidak ada klise baru yang ditempelkan
pada
klise lama. Penempelan ini bisa saja dilakukan oleh orang yang
sangat ahli,
tapi tetap akan terlihat dengan analisis ini.
Yang ketiga, saya melakukan scanning dengan alat scanner khusus
film. Ini
dilakukan untuk memperbesar foto yang bersangkutan untuk melihat
apakah ada
rekayasa. Ternyata tidak ada sentuhan non-fotografis pada klise
tersebut.
Scanner ini saya lakukan sendiri dengan resolusi 4800 dpi.
Hasilnya adalah
file dengan ukuran 16 mega bytes. Dengan ini nampak faktor
komponen
pendukung yang lain seperti kursi, pintu, dan lain-lain sehingga
bisa dicari
di mana lokasinya. Tapi pencarian ini biarlah dilakukan oleh orang
lain.

file://Mengapa harus resolusi tinggi?//
Dengan resolusi yang sangat tinggi ini, pixel per pixel atau dalam
istilah
fotografi: grain-nya akan kelihatan sangat jelas. Jadi kalau ada
sentuhan
sedikitpun nampak. Bahkan jamur dan goresan yang sangat kecilpun
nampak.
Dari situ, pada tahap penelitian kedua ini, saya simpulkan pada
foto ini
tidak ada rekayasa.

file://Apa Anda tidak takut menyangkut penelitian ini?//
Saya tegaskan, saya melakukan analisa ini tidak ada yang membayar.
Ini demi
pengetahun semata. Bagi yang ingin berdebat dengan saya silakan,
kita
demokratis saja.

file://Apa tidak ada kemungkinan lain?//
Ya, memang masih mungkin ada kemungkinan ketiga. Kalau tiba-tiba
ada orang
yang persis seperti Gus Dur dan mengaku berfoto dengan Aryanti.
Kalau
terjadi seperti itu silakan dianalisa oleh orang yang ahli wajah
atau orang
yang mengenal Gus Dur. Kemampuan fotografi dan komputer tidak bisa
melakukan
itu. (detik.com)

=====
Nah, kami jujur karena mengutip detikcom ......



->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!













->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!















->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke