maaf dari tulisan pakar dibawah ini kenapa ya, saya masih kurang percaya.
Bukan saya sangsi dengan kemampuan teknologi (saya orang yang sangat gila
teknologi)
oleh sebab itu saya ada dalam milis ini. Saya selalu ingin tahu perkembangan
teknologi.

Tetapi sebagai seorang yang material. Saya harus dijelaskan dengan argumtasi
yang otentik yang bisa meyakinkan kita bersama. Kejailan saya ditambah lagi
dengan jiwa jurnalis saya mungkin? Karena pers media antara  pakar dengan
pembacanya yaitu masyarakat, dia harus menjelaskan dengan sederhana tapi
berdata.

yang menjadi perhatian saya
1. Pakar ini kenapa harus tersingung (sambil menjelaskan backgroun
pendidikannya).
2. Kenapa ia tidak mau membuktikan jenis kameranya. Tetapi
menyembunyikannya.
   Sedangkan untuk jenis negatif film ia ungkapkan panjang lebar
   (seperti mengiklankan merek tertentu).
3. Dia tidak menjawab pertanyaan saya tentang proses pencucian. Dari
gambarannya
   jelas dicetak dan dinegatifkan dengan menggunakan komputer (karena anda
menjelaskan
   lagi masalah ini). Tidak seperti maksud saya jika pencucian dilakukan
secara
   manual agar semua pembaca dapat mengikuti kronologi proses foto, cuci dan
cetak
   itu saja
   (seharus dia tidak terseinggung) dan penyimpangannya sekecil apapun kita
dapat
   pelajari bersama pasti bung ahli itu mengerti maksud saya. Dan apakah
negatif
   film itu benar-benar asli (artinya benar-benar hasil cetak roll film ke
negatif)
   disini anda malah menjelaskan tentang waktu dan masa negatif. Jadi anda
dan saya
   terbalik-balik menganalisanya (saya menganalisa dari tulisan anda yang
dua kali
   dalam milis ini,  datanya ada pada anda sendiri bukan).
4. Masalah duplikasi dengan komputer ok anda bisa meyakinkan pembaca 100%
akurat.
   Tetapi dugaan kamera rupanya pembaca jadi tahu bukan, bahwa ada beberapa
kamera
   janggih yang bisa melakukan duplikasi. Jelas ini lebih sulit dilakukan
penyelidikan
   dengan komputer (apa teknologi scanner dapat mencacah hasil foto, saya
belum paham) bisa
   Dan pada masalah manusia, cameranya, dan proses pencucian film negatif.
Tidak
   di jelaskan mengenai bagaiman jika kesalahan itu terjadi bila dilakukan
secara
   manual atau dengan teknologi dan proses waktu yang hilangnya dalam
penyelidikan
   anda sendiri (apa anda percaya ungkapan yang disamapaikan istri dan suami
korban)?
   Hal inilah yang bisa menguatkan dugaan anda terhadap bukti material yang
ada di
   depan mata anda. Guna teknologi untuk merekayasa, makin bagus hasil
rekayasa
   makin baik pula yang dihasilkan. Jadi anda berkesimpulan tidak ada
rekayasa dari
   teknologi terhadap foto karena anda ahli dibidangnya. Tetapi saya
menawarkan
   jawaban kepada anda bagaimana jika anda sendiri sebagai seorang yang akan
mereka
   yasa foto, terhadap foto yang ada di depan mata anda tersebut. Sebenarnya
itu saja
   maksud saya, dari sana anda baru bisa menjawab logika terbalik saya tadi.
   Makin halus croping dan penumpukannya makin baik bukan, bagi orang yang
mempunyai
   keahlian tinggi. Anda menjelaskan telah melakukan penyelidikan hingga
resolusi di
   maksimalkan (saya lupa pembesarannya maxsimal berapa). Tetapi bagaimana
dengan foto
   asli dengan resolusi 300 tetapi sang rekayasa/grafis pasti akan
melakukannya dalam re
   solusi yang lebih tinggi bukan? untuk tidak terlihat penumpukannya. Anda
sudah
   memperbesar hingga 4800 (mungkin ini max) dan untuk melakukan rekayasa
dalam resolusi
   sebesar ini jelas akan memakan beban yang beratnya luar bisa (tetapi
dengan teknologi
   komputer yang luarbiasa pula?).
5. Hal ini penting agar logika yang anda kemukan kita balik, anda meneliti
dari
   data-data yang ada didepan mata anda, tetapi anda tidak pelajari
prosesnya
   sampai data-data tersebut sampai ditangan anda. hal ini menguatkan saya
   dengan duganan anda tentang tidak tertariknya anda mengecek backgroun
yang ada
   dalam fokus gambar yang ada. Tetapi anda mengopinikan bisa saja gambar
dalam
   fokus yang digantikan, hal ini kecil tetapi menjadi tanda tanya. Sama
besarnya
   dengan statemen mengenai pencahayaan pada tubuh aryati dan gus dur yang
tidak sama.
6. Menjawab surat anda kepada sam, Semua ilmu dipelajari dengan mengunakan
hukum
   waktu (oleh seba itu anda tidak perlu marah dengan dugaan saya menuduh
anda
   tentang mengerti hukum fisiska ini). Dari objek gambar hal ini akan
berguna
   bagi penyelidikan, aryati menggunakan warna baju apa, gusdur apa, dan
obyek
   lainnya dimana pada waktu yang bersamaan. Apalagi anda menjelaskan film
tersebut
   di cuci baru berkisar 5 tahun kebelakang. Saksi masih banyak baik pihak
keluarga
   dan pihak korbannya. Karena anda sudah membuktikan bukan hanya dengan
teknologi
   komputer saja proses duplikasi bisa dilakukan tetapi kamerapun mampu
melakukan.
7. Sangat setuju bahwa bukti tidak bisa dipublikasikan, dan bukti-bukti yang
anda
   sebutkan tadilah yang merupakan kunci. Tetapi mampukah anda menje
   laskan kronologi dari klise dan foto bukti anda, untuk memperkuat dugaan
anda.
   Dari pihak yang pro dan kontra (bukankah disitu fungsi ilmuan).
   Padahal anda sendiri tanpa anda    sadari telah membuka kasus ini kok?
   Dengan mengatakan foto dalam kejadian ini asli (walaupun bahasa anda
tidak demikian
   tetapi foto ini asli, kejadiannya?). Bukankah seorang ilmuan harusnya
bekerja di
   tengah-tengah dan melakukan dugaan-dugaan, karena fungsi teknologi ialah
   untuk merekayasa sekecil mungkin dugaan itu. Bukankah logika teknologi
adalah
   memperbaiki yang buruk. Dari buruk menjadi baik dan makin baik lagi. Nah
untuk
   kasus ini saya sebenarnya ingin mengembalikannya dalam logika sebagai
berikut;
   A berubah B berubah lagi C dan seterusnya. Jika klise dan gambar yang
didapat
   sudah dalam proses C. Kita harus mengembalikan dulu ke proses A bukan.
   Tetapi satu harus di ingat dalam teknologi dikenal hukum juga jika memang
buktinya
   A ia akan tetap A, tak akan brubah menjadi B. Jenis tetap A bentuknya
menjadi B (kabur
   berubah warna pengaruh udara/suhu dan waktu).
   Dasar inilah yang menyebabkan saya masih tidak percaya atas argumentasi
saudara.
   Karena logika teknologi selalu kedepan dan dapat dirunut kebelakang, jika
ada
   penyimpangan mudah untuk rangkumkan. Tidak begitu sulit seperti ilmu
   sosial dan politik bukan. Baik bukti mati yang dilakukan ilmuan ini
maupun bukti
   hidup yang dilakukan polisi. Baik gus dur sendiri maupun Aryati.
   Semoga kita tercerahkan semua. Artinya bukannya
   kita apriori terhadap teknologi, karena kita mengerti logika dari
teknologi
   jadinya kita tidak apriori.
   (jika kita disini mau mencari pembenaran tanpa ada maksud apriori).


-----Original Message-----
From: Sams [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Monday, September 04, 2000 8:39 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] HAYO GUS DUR BISA JUJUR NDAK ?


Pak Mashuri dan Pak Aswat,

Karena usil, saya copy-pastekan pertanyaan Mister Mashuri dan Mr Aswat ini
kepada Mas Roy Suryo. Dan pagi ini saya kebetulan sudah terima jawaban
beliau. Mungkin sebagai orang yang sedang sama-sama mencari kebenaran ada
baiknya kita simak pendapat beliau. Kalau belum selesai tanyakan langsung ke
beliau dengan alamat email [EMAIL PROTECTED],

Thanks atas diskusi yang hangat ini, dan maaf kalau tak berkenan.

--- selanjutnya dihapus, untuk menghemat bandwith ---

Pak Iwan Sams, Pak Mashuri, Pak Aswat dan Segenap subscriber Milis Yth,

Terimakasih banyak atas pertanyaannya soal kemungkinan kesalahan 'mekanis'
yang dimungkinkan terjadi tersebut. Namun mohon maaf sebelumnya bahwa saya
berani mengatakan bahwa kesalahan tersebut 99,9% tidak mungkin terjadi (yang
0,1% untuk 'bonus' :-) karena saya telah memeriksa secara detail
film-negatif ybs dengan menggunakan Digital-Film-Scanner yang beresolusi
sangat tinggi (4800 dpi) untuk melihat grain film ybs. Keraguan pak Mashuri
tersebut bisa terjadi akibat hanya 'kesalahan redaksional' (atau persepsi
pembaca ?)-nya saja dari kalimat "ternyata rol klise (negatif) itu
menyambung dengan gambar Aryanti dengan mantan suaminya, M. Yanur" dari
berita di DetikCom itu.
Jadi apabila pak Mashuri sudah pernah melihat Klise tersebut --khususnya
pada sheet pertama dari keseluruhan yang hanya berupa 4 (empat) sheet Film
Fujicolor Super HR-II ASA 100/12 Exp-- maka sebenarnya pertanyaan dan
argumentasi panjang lebar soal 'penumpukan mekanis' tersebut tidak perlu
diceritakan, karena memang maksud dari kalimat pada berita di DetikCom
adalah bukannya antara frame yang satu dengan yang lain 'menumpuk', tetapi
dalam 1 Rol tersebut runtut dengan gambar-gambar yang lain, alias setiap
frame dalam film-nya yang seluruhnya berjumlah 14 (empatbelas) frame itu
utuh. (Catatan : sebenarnya kalimat saya ini bisa digantikan langsung oleh
gambar 'Contact-Print' dari Klise Utuh / 4-sheet tersebut, namun --mohon
maaf-- bukan hak saya untuk ikut menyebarluaskan film yang memang bukan hak
seorang peneliti untuk mendistribusikannya, terlebih kepada kalangan yang
tidak berhak).
Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan film yang terpasang pada kamera
yang mungkin tracker-film-nya rewel (sehingga gambarnya saling menumpuk)
atau pada kamera Rangefinder yang berkemampuan membuat gambar secara
Double/Multi-exposure, misalnya saat itu yang paling terkenal adalah Ricoh
500GX
(Iklan di Layar TVRI-nya dahulu menggunakan Bung Olan Sitompul, ingat? :-).
So, ini berarti argumen bahwa teknik 'duplikasi' seperti yang sering
dilakukan oleh fotografer spekulan di tempat-tempat wisata, seperti
Borobudur, Parangtritis, Tangkuban Perahu, dsb yang memungkinkan membuat
Subyek foto seolah-olah berada "ditengah Stupa, Pantai atau Kawah" langsung
terpatahkan karenanya.
Karena kamera yang digunakan adalah memang bukan kamera jenis Profesional
(SLR, TLR apalagi ViewCamera), maka kita tidak perlu membahas kemampuan
tersebut pak, misalnya yang terdapat pada Nikon F-801 atau seri Nikon
lainnya yang dilengkapi dengan 'Databack' yang memungkinkan hal tersebut
terjadi (Soal merk kamera, saya --meski sudah diberitahu oleh Ibu Aryanti--
tetap tidak menyebutnya karena urgensinya tidak terlalu penting. Yang jelas
memang bukan SLR dan Camera tersebut memiliki built-in Flash ber-GN kecil,
sekitar 16 untuk ASA 100 => Inilah yang membuat sinar-flash 'terserap' oleh
Kulitnya Ibu Aryanti, apalagi posisi Flash tersebut berada disisi kanan-atas
dari Fotografer, seperti yang telah saya ceritakan juga melalui Liputan-6
SCTV Minggu malam 3/9/00).
Sehingga rasanya permasalahan cukup sekian saja dan tidak seperti ketika
menjawab 'keragu-raguan' seseorang peserta Milis ini akan kemampuan
fotografis tempo hari, dimana saya harus terpaksa mengaku apa profesi dan
prestasi dalam dunia fotografi, maka disini --mohon maaf kembali
sebelumnya-- saya cukup menulis dua kalimat saja bahwa dulu (sewaktu SMA)
Saya adalah Ketua Bidang IPA Kelompok Ilmiah Remaja Padmanaba (KIRPAD SMA
Negeri 3 Yogyakarta) yang membawahi ilmu Fisika, Kimia dan Biologi (termasuk
Mekanika Fluida yang kemungkinan bapak persoalkan sebelumnya itu). Bila
diingat KIRPAD pada periode tersebut berkali2 memperoleh prestasi bersama
SMA Regina Pacis Bogor dalam setiap event KIR yang diselenggarakan, pak :-)
Meski demikian terimakasih banyak pak atas komentarnya dan ini semua
setidaknya membuktikan bahwa kita memiliki perhatian yang sama ...

eN-Be : Untuk Pak Iwan Sams, karena saya tidak subscribe Milis Kuli Tinta,
maka mohon bisa diforward-kan kesana (juga ke milis2 anda lainnya), thanks!.

Salam hangat dari Yogya,

                 \|||/
                 (. .)
*-------------ooO-(_)-Ooo------------*
              RM Roy Suryo
             <[EMAIL PROTECTED]>
               Indonesia
*-------------oo0-----Ooo------------*


-----Original Message-----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, September 04, 2000 5:37 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] HAYO GUS DUR BISA JUJUR NDAK ?


>Bung Mashuri,
>
>Saya pernah melihat sebuah foto hasil karya tahu 70 an dimana
>teknologi animasi computer belum tersedia seperti sekarang. Ada
>sebuah foto yang mendapat penghargaan. Foto itu adalah foto sebuah
>gelas anggur yang bening dimana didalamnya ada orang. Latar
>belakang gelas itu merah. Foto ini jelas hasil dari sebuah teknik
>fotografis.

---------------------------------------------------
>----- Original Message -----
>From: M.Mashuri Alif <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Sunday, September 03, 2000 9:44 PM
>Subject: RE: [Kuli Tinta] HAYO GUS DUR BISA JUJUR NDAK ?
>
>
>Mashuri:
>Saya ingin bertanya kepada siapapun yang mengerti fotografi dan
>art disaint
>
>Mempelajari hasil wawancara pakar fotografi dan grafis ini saya
>coba menganalisa.
>walaupun ada, data-data yang sampai saat ini saya kurang percayai.
>
>1. Benar semua apa yang dibicarakan pakar komputers tersebut
>   hampir seluruh yang mengerti disaint grafis akan
>mempercayainya.
------------------------------------


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!













->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke