Waj ini menjadi refot kalau ingin berdiskusi dengan Roy karena
tidak terdaftar di milis ini. Disamping itu, saya juga mesti tahu
diri. Nama mas Roy yang pakar multi media dan sudah sangat
terkenal itu jauh di awang-awang bagi saya untuk berani mengajak
berdiskusi. Itulah sebabnya, Mas Sams butuh Mas Roy sebagai
referensi yang valid dan reliabel. Jadi, saya benar-benar hanya
ingin belajar pada saat kita mempunyai sebuah topik seperti ini.

Ok lah.. di komunikasi kita mengenal duplex, artinya komunikasi
dengan menggunakan frequensi yang berbeda. Maka kita gunakan saja
hal itu dimana nanti Mas Sams akan mengirim tanggapan ke Mas Roy
dan tanggapan dari Mas Roy di forward kesini. Dengan begitu semua
anggota milis ini juga kebagian dan bukan hanya saya dan Pak
Mashuri saja yang berhubungan langsung dengan mas Roy sedang yang
lain dibiarkan saja (padahal mungkin ada yang ertarik untuk
mengikuti. Mohon dukungan).


Marilah kita mulai melihat tanggapan Mas Roy.

"Namun mohon maaf sebelumnya bahwa saya
berani mengatakan bahwa kesalahan tersebut 99,9% tidak mungkin
terjadi (yang
0,1% untuk 'bonus' :-)"

Secara statistik, meskipun dikatakan sebagai bonus, peluang 0,1%
itu tetap mungkin terjadi. Kasus Chalenger telah menjadi pelajaran
berharga mengenai peluang kegagalan hanya 0,01% di shield yang
bocor itu menurut perhitungan computer. Namun ternyata peluang itu
terbukti muncul. Maka, sebagai contoh lain, kini Motorola
menggunakan Six Sigma untuk 0.001 ppm atau part per milion defect
berhubung 3 sigma sudah dipandang tidak memadai lagi karena
peluang defect itu masih besar. Bahkan dibidang olah raga Morten
Frost Hansen harus mengatakan bahwa dia butuh angka 15 untk
mengalahkan Rudi Hartono karena pada saat itu Rudi ketinggalan
dengan amat jauh namun akhirnya bisa menyusul dan memenangkannya.
Jadi, selama peluang pernyataan itu belum 100% maka masih ada
peluang bahwa pernyataan itu salah betapapun kecil peluang itu.
Bisakah Mas Roy mengatakan bahwa 100% benar foto itu asli?
Artinya, 100% benar bahwa kejadian yang seperti didalam foto itu
pernah terjadi? Disinilah point diskusi itu.

Mas Roy mengatakan:
"karena saya telah memeriksa secara detail
film-negatif ybs dengan menggunakan Digital-Film-Scanner yang
beresolusi
sangat tinggi (4800 dpi) untuk melihat grain film ybs."

Yang diperiksa secara detail adalah film-negatif untuk melihat
grain film ybs. Apakah hasil analisis grain film negatif itu bisa
menjamin 100% bahwa kejadian seperti yang tergambar didalam foto
yang negatif nya dianalisis itu pernah ada? Apakah grain film itu
akan berbeda ataukah analisis itu akan menjelaskan seandainya
obyek yang difoto adalah sebuah gambar atau cetakan foto dan bukan
seperti obyek yang tampak dalam film negatif itu?

Itulah sebabnya saya melempar pemikiran kritis mengenai obyek foto
dengan mata telanjang untuk melihat. Bagi para wartawan, angel
pengambilan tentu akan sangat mudah ditengarai. Bagaimana
komentarnya? Tentunya wartawan seperti Mas Sams yang sudah kenyang
makan asam dunia foto sangat mudah membedakan sumber cahaya
tungsten dari blitz. Seandainya mau lebih jeli lagi, bisakah kita
menganalisis depth of field dari obyek foto tersebut? Dimana
kira-kira letak fokus nya? Bagi wartawan ini tentunya bukan hal
yang sulit untuk dimengerti karena fotografi adalah bagian dari
senjatanya.

Selanjutnya Mas Roy mengatakan:
",tetapi dalam 1 Rol tersebut runtut dengan gambar-gambar yang
lain, alias setiap
frame dalam film-nya yang seluruhnya berjumlah 14 (empatbelas)
frame itu
utuh."

Artinya, dalam 1 rol itu ada 14 frame yang runtun berisi
gambar-gambar yang lain. Apakah ke 14 frame itu menjelaskan
rentetan perubahan posisi obyek atau pencahayaan seperti kalau
para fotografer melakukan? Boleh tahu, yang ramai beredar itu
frame yang ke berapa? Mengapa yang diedarkan frame itu? Apakah
yang lain lebih seronok?

Maaf, saya sekali lagi tidak apriori, hanya sedikit skeptis dan
ingin tahu. Siapa tahu bisa memperoleh ilmu dari Mas Roy�.


----- Original Message -----
From: Sams <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, September 04, 2000 8:39 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] HAYO GUS DUR BISA JUJUR NDAK ?


Pak Mashuri dan Pak Aswat,

Karena usil, saya copy-pastekan pertanyaan Mister Mashuri dan Mr
Aswat ini
kepada Mas Roy Suryo. Dan pagi ini saya kebetulan sudah terima
jawaban
beliau. Mungkin sebagai orang yang sedang sama-sama mencari
kebenaran ada
baiknya kita simak pendapat beliau. Kalau belum selesai tanyakan
langsung ke
beliau dengan alamat email [EMAIL PROTECTED],

Thanks atas diskusi yang hangat ini, dan maaf kalau tak berkenan.

--- selanjutnya dihapus, untuk menghemat bandwith ---

Pak Iwan Sams, Pak Mashuri, Pak Aswat dan Segenap subscriber Milis
Yth,

Terimakasih banyak atas pertanyaannya soal kemungkinan kesalahan
'mekanis'
yang dimungkinkan terjadi tersebut. Namun mohon maaf sebelumnya
bahwa saya
berani mengatakan bahwa kesalahan tersebut 99,9% tidak mungkin
terjadi (yang
0,1% untuk 'bonus' :-) karena saya telah memeriksa secara detail
film-negatif ybs dengan menggunakan Digital-Film-Scanner yang
beresolusi
sangat tinggi (4800 dpi) untuk melihat grain film ybs. Keraguan
pak Mashuri
tersebut bisa terjadi akibat hanya 'kesalahan redaksional' (atau
persepsi
pembaca ?)-nya saja dari kalimat "ternyata rol klise (negatif) itu
menyambung dengan gambar Aryanti dengan mantan suaminya, M. Yanur"
dari
berita di DetikCom itu.
Jadi apabila pak Mashuri sudah pernah melihat Klise
tersebut --khususnya
pada sheet pertama dari keseluruhan yang hanya berupa 4 (empat)
sheet Film
Fujicolor Super HR-II ASA 100/12 Exp-- maka sebenarnya pertanyaan
dan
argumentasi panjang lebar soal 'penumpukan mekanis' tersebut tidak
perlu
diceritakan, karena memang maksud dari kalimat pada berita di
DetikCom
adalah bukannya antara frame yang satu dengan yang lain
'menumpuk', tetapi
dalam 1 Rol tersebut runtut dengan gambar-gambar yang lain, alias
setiap
frame dalam film-nya yang seluruhnya berjumlah 14 (empatbelas)
frame itu
utuh. (Catatan : sebenarnya kalimat saya ini bisa digantikan
langsung oleh
gambar 'Contact-Print' dari Klise Utuh / 4-sheet tersebut,
namun --mohon
maaf-- bukan hak saya untuk ikut menyebarluaskan film yang memang
bukan hak
seorang peneliti untuk mendistribusikannya, terlebih kepada
kalangan yang
tidak berhak).
Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan film yang terpasang pada
kamera
yang mungkin tracker-film-nya rewel (sehingga gambarnya saling
menumpuk)
atau pada kamera Rangefinder yang berkemampuan membuat gambar
secara
Double/Multi-exposure, misalnya saat itu yang paling terkenal
adalah Ricoh
500GX
(Iklan di Layar TVRI-nya dahulu menggunakan Bung Olan Sitompul,
ingat? :-).
So, ini berarti argumen bahwa teknik 'duplikasi' seperti yang
sering
dilakukan oleh fotografer spekulan di tempat-tempat wisata,
seperti
Borobudur, Parangtritis, Tangkuban Perahu, dsb yang memungkinkan
membuat
Subyek foto seolah-olah berada "ditengah Stupa, Pantai atau Kawah"
langsung
terpatahkan karenanya.
Karena kamera yang digunakan adalah memang bukan kamera jenis
Profesional
(SLR, TLR apalagi ViewCamera), maka kita tidak perlu membahas
kemampuan
tersebut pak, misalnya yang terdapat pada Nikon F-801 atau seri
Nikon
lainnya yang dilengkapi dengan 'Databack' yang memungkinkan hal
tersebut
terjadi (Soal merk kamera, saya --meski sudah diberitahu oleh Ibu
Aryanti--
tetap tidak menyebutnya karena urgensinya tidak terlalu penting.
Yang jelas
memang bukan SLR dan Camera tersebut memiliki built-in Flash
ber-GN kecil,
sekitar 16 untuk ASA 100 => Inilah yang membuat sinar-flash
'terserap' oleh
Kulitnya Ibu Aryanti, apalagi posisi Flash tersebut berada disisi
kanan-atas
dari Fotografer, seperti yang telah saya ceritakan juga melalui
Liputan-6
SCTV Minggu malam 3/9/00).
Sehingga rasanya permasalahan cukup sekian saja dan tidak seperti
ketika
menjawab 'keragu-raguan' seseorang peserta Milis ini akan
kemampuan
fotografis tempo hari, dimana saya harus terpaksa mengaku apa
profesi dan
prestasi dalam dunia fotografi, maka disini --mohon maaf kembali
sebelumnya-- saya cukup menulis dua kalimat saja bahwa dulu
(sewaktu SMA)
Saya adalah Ketua Bidang IPA Kelompok Ilmiah Remaja Padmanaba
(KIRPAD SMA
Negeri 3 Yogyakarta) yang membawahi ilmu Fisika, Kimia dan Biologi
(termasuk
Mekanika Fluida yang kemungkinan bapak persoalkan sebelumnya itu).
Bila
diingat KIRPAD pada periode tersebut berkali2 memperoleh prestasi
bersama
SMA Regina Pacis Bogor dalam setiap event KIR yang
diselenggarakan, pak :-)
Meski demikian terimakasih banyak pak atas komentarnya dan ini
semua
setidaknya membuktikan bahwa kita memiliki perhatian yang sama ...

eN-Be : Untuk Pak Iwan Sams, karena saya tidak subscribe Milis
Kuli Tinta,
maka mohon bisa diforward-kan kesana (juga ke milis2 anda
lainnya), thanks!.

Salam hangat dari Yogya,




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke