From: �� <[EMAIL PROTECTED]>

1."...GD mewakili sebuah sosok yang muncul dalam sebuah proses peralihan
yang kita Amin-i sebagai demokratis ....."


2." Emil Salim berkata "sebenarnya bangsa ini maunya apa sih...?, apakah
menghendaki keadaan tambah tidak karuan arahnya?"

3.Jadi, sosok itu saat ini diwakili oleh pribadi yang bernama GD
dengan segala keunikannya yang dulu dimunculkan bukan karena
pemahaman terhadap keunikannya namun semata-mata karena muncul
dari sebuah scenario cerdas yang mengkalkulasi kemungkinan
gagalnya Hbb masuk bursa pencalonan Presiden sehingga tujuan utama
untuk mengganjal Mega tetap tercapai.

( simpulan AH).
=============================================
Mas Aswat, apa kabar ?,
Bangsa ini mau apa sih ? Tentunya kecuali satu-dua kriminal, tentunya bangsa
ini mau keadaan tambah karuan. Yang jadi masalah cuma caranya saja. Ada yang
percaya begini , ada yang percaya begitu caranya. Yang satu takut yang ini ,
yang lain takut yang itu.

Yang jadi masalah tambah rumit , yang satu percaya dunia bakal kiamat kalau
tidak memakai "cara tertentu". Dalam lingkungan demokrasi yang lebih dewasa,
satu sama lain percaya caranya cuma lebih baik ( sedikit) dari yang lain.
Sama sekali tidak membuat dunia ancur-ancuran. Jadi, bila yang lain menang
kali ini,  It is sad. But it is O.K . Usaha lagi lain kali.

Partai Republik percaya pengurangan pajak akan menambah kantong publik. Pada
gilirannya kantong yang yang lebih tebal menambah leluasa masyarakat untuk
memilih pendidikan swasta yang lebih baik. Partai Demokrat percaya, uang
pajak sebaiknya digunakan untuk memperbaiki sekolah-sekolah negeri yang ada.
Sekolah negeri bermutu yang terjangkau masyarakat pada gilirannya bakal
meningfkatkan mutu SDM masyarakat. Dsb. Maka dilakukanlah iklan
besar-besaran ( ie. "kampanye"). Macam-macam cara. Dari yang sedikit kasar
sampai yang amat halus. Siapa yang menang  diberi salam oleh yang lain.

Apakah yang menang dibiarkan berbuat apa saja selama lima tahun ? Tidak ,
dong ! Kontrol keras !
Apakah presiden yang menang dibiarkan begitu saja bila mengumbar syahwatnya
? Kita semua pernah menonton bagaimana Presiden Clinton sampai
terkencing-kencing karena proses impeachment yang dilakukan Kongres.
Untunglah Ekonomi dibawah Clinton paling sehat selama 30 tahun. Pengangguran
paling rendah selama 25 tahun. Jutaan Jobs dilahirkan dalam masa beberapa
tahun. Kesejahteraan meningkat tertinggi dalam 25 tahun. Clinton
terbata-bata minta maaf. Rakyat-pun memaafkannya.

Keadaan negeri kita ini berbeda jauh sekali. GD naik secara demokratis.
Caranya bukan karena kalkulasi cerdas seperti yang anda katakan, tapi karena
kebodohan PDIP yang kelewatan. Mega menunggu ditempat bagai raja majapahit
menantikan baiat rakyatnya.  Dan Mega pun yang banyak tidak disenangi
masyarakat ( Yang sreg padanya cuma 30 %, sisanya yang 70 % diprediksi sebal
atau meragukan kemampuannya ), tanpa ampun nggelundung dengan mengundang
iba. Dia naik jadi Wapres cuma berkat rengekan ekstrim warganya yang nagis
ngancam-ngamcam di jalan-jalan.

Apakah GD boleh berbuat apa saja selama lima tahun ? Harusnya tidak. Tapi di
negeri pariah ini apa boleh buat. Banyak yang tolol mau menahan diri
negerinya jadi negeri hina dikalangan bvangsa lain. ( Saya sering nelongso ,
melihat nama Jakarta sekarang ini sering di coret dalam kota-kota dunia yang
diramal cuacanya oleh CNN, Indonesia benar2 sudah tidak ada harganya .
Bagaikan pengemis cepek dipinggir jalan). Ditanya apa yang bisa dibanggakan
dari presidennya, seorang mahasiswa ekonomi, asisten pengajar, dari
universitas paling bergensi di negeri ini balas bertanya : apa sih yang bisa
dibanggakan dari Amin Rais ? Sungguh-sungguh membuat pilu orang tua seperti
saya . Mental muda kok sudah ( sedikit) keracunan mental begundal. Apa tidak
bisa membaca indeks pasar modal ? Apa tidak tahu rupiah jadi barang mainan
lucu orang singapore? 10.000 ? Apa tidak tahu aceh dan papua dan ambon tidak
terurus karena pemimpinnya sibuk naik kapal terbang mengira dirinya seperti
Mahatma Gandhi atau Paus Paulus ? Apa tidak tahu bagaimana beliau tega
menipu ummatnya dengan mengumbar syahwat diam-diam ? Come, on....! Kalau
terbukti suatu presiden yang naik demokratis ternyata leadership-nya minus,
tidak sanggup memimpin rapat kabinet sekalipun akan kita biarkan terus ?
Kenapa mesti ribut cari kesalahan "siapa biang-kerok" yang menaikkannya ke
kursi presiden ? Yang salah adalah proses demokrasi. Tapi proses tersebut
"juga" memberi kesempatan untuk membuat koreksi ditengah jalan. Asalkan kita
semua mau waras.

Hambatannya apa ? Kita saling takut orang lain menggunakan cara lain. Karena
tidak ada respect diantara kita. Cara kita bukan lebih baik sedikit dari
yang lain. Cara kita adalah satu-satunya cara yang harus digunakan : tidak
ada alternatip. Orang kita adalah satu-satunya orang yang pantas memimpin.
Kuno, tapi nyata. Meskipun nurani kita tahu betapa jeblognya pemerintahan
GD, dengan berbagai cara akan kita tutupi tanpa malu-malu. ( Orang macam
Wimar Witoelar juga mau jadi manager divisi Tutup-tutupan seperti itu).
Karena kita tidak berani mengambil alternatip. Alternatip lain adalah
kiamat. Meskipun ada kans DPR secara demokratis mungkin menjatuhkan GD , DPR
pun kalau perlu dijatuhkan dan dihujat sekedar karena tidak mau alternatip.
Demikianlah antara lain keluhan teman saya di pucuk pimpinan PDIP.

Kalau memang tidak dapat kita tumbuhkan respect diantara kita, memang
demokrasi belum waktunya diterapkan disini. Fakta berkata : Itu omong kosong
besar ! . Marilah kita undang clean-dictator macam Lee Kuan Yew atau
pimpinan negeri Cina. Atau sewperti Mahathir sekalipun !  Buang GD segera.
Balik ke Ciganjur jadi tetangga biasa saya lagi.....

Wassalam
Abdullah Hasan.













>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke