From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
Ha, ha, ha.... mas Aswat... anda teliti sekali....cuma sedikit "curang"
kalau saya nggak boleh menanggapi. Soal PKB, saya kok merasa sedikit lebih
tahu. Soalnya : isteri saya, ibu saya , paman saya, bibi saya , nenek saya,
banyak sepupu saya, pilih PKB semua. Saya pun tahu pasti mereka itu pilih
PKB karena memilih NU , bukan karena memilih Mega!  Tapi percayalah , mas
Aswat, kalau saya ngomong 70 % , atau 30 % , itu cuma kira-kira kasar saja
dan ditambah stabilo biar terang......

��:
tergantung merek dan warna stabilo yang digunakan Pak. Ada lho stabilo yang membuat 
tulisan malah tidak highlighted namun malah sebaliknya.

From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
Intinya mau mengingatkan yang mencintai Mega : Ketahuilah wahai saudara
sebangsaku !  Hampir 70 % saudaramu "kurang-suka" sama Mega . Jangan marah,
ya ? "

��:
Dan ketahuilah pula wahai saudara sebangsaku !  Hampir 70 % saudaramu yang 
"kurang-suka" sama Mega itu sebagian besar suka Habibie dan hanya 7% yang suka Amien 
Rais. Jangan marah, ya ? "

From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
Pendapat mas mewakili orang-orang yang sulit sekali percaya bahwa ada yang
bisa jalan sendiri tanpa dalang. 

��:
Pendapat Pak Hasan mewakili orang-orang yang sulit sekali percaya bahwa ada pemimpoin 
sosial dan percaya bahwa setiap masalah pasti akan mencari penyelesaiannya sendiri.  
Maklumlah.. sudah puluhan tahun,
teristimewa pada jaman orba, kejadiannya memang begitu. Pendapat yang lain, barangkali 
yang optimis, melihat ini semua karena kegaduhan
immature-democracy. Masyarakat masih memerlukan waktu untuk siap sepenuhnya. Maka di 
jaman Orba, para penjabat dan Wakil Rakyat Orba selalu mengatakan apakah kita sudah 
siap untuk menjalankan demokrasi. Itulah pembenaran untuk membungkam demokrasi 
sehingga Mayoritas Golkar dan carut marut ABRI di bidang pemerintahan adalah benar.

From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
Malangnya , dalam belajar demokrasi ini,  kita masih bernasib jelek :
memiliki presiden yang minus dalam moral . KKN, Syahwat, dll. dan leadership
nyaris nol: ambon masih dibiarkan terlunta-lunta sendiri. Aceh yang
dibiarkan menunggu Godot... Tentara dan Polisi gagal dikendalikan karena
presiden tidak punya wibawa.. ( lha wong nglawak terus...!).

��:
Malangnya pula. dalam belajar demokrasi ini, kita masih bernasib jelek :
rakyat pemilih dengan porsi terbesar belum tentu bisa menggolkan aspirasinya karena 
keberhasilan permainan segelintir elite politik yang bingung ketika mereka 
mengkalkulasi bahwa persaingan anara HBB dan MW dalam pemilihan Presiden besar 
kemungkinan akan dimenangkan oleh MW.

Malangnya pula (lagi), Presiden yang cacad netra itu bisa meyakinkan dunia luar 
termasuk sidang Islam sedunia sehingga kemerdekaan Aceh sebagai sebuah negara bukan 
lagi menjadi pilihan yang menguntungkan. Sayang memang, bahwa putra-putra bangsa harus 
gugur untuk menjaga keutuhan negara RI.

Malangnya pula (lagi dan lagi), banyak penikmat Orba yang kehilangan kenikmatan 
duniawinya mencoba untuk mencari kenikmatan baru dengan menjadi provokator atau 
peresah bangsa. Silahkan saja simak kasus-kasus Riau, Irja, (kini I Gd Oka baru 
ketahuan belangnya yang sampai hati mengorbankan kepentingan Adat"nya" untuk sebuah 
resort keluarga pejabat Orba). Apa mereka pada tidak sadar bahwa rakyat mengamati 
bagaimana perilaku mereka di jaman Orba.  

From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
Kritik dan serangan pada jabatan publik adalah bagian dari demokrasi. Jadi
disamping kemampuan managerial yang mumpuni, kecanggihan komunikasi mutlak diperlukan. 
Buat Mega, kira-kira dua-duanya lemah. 

��:
Menurut Contingency Theory, tidak ada yang berlaku umum.
sejarah telah mengajarkan bagaimana waktu melahirkan pemimpinnya. Reagan terpilih 
karena rakyat Amerika membutuhkan pemimpin yang mampu mengangkat derajat mereka 
setelah sebelumnya mereka merasakan bahwa kepemimpinan Carter telah membuat bangsa 
Amerika merasa terlecehkan.

From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
Tapi Mega mungkin punya  nilai plus dalam moral ( meskipun bisa dirusak oleh suaminya 
yang terkanal miring pada konglomerat itu).  Nilai plus tersebut dalam masa transisi 
ini bakal amat membantu. Jadi bila tidak terlalu jeblog prestasinya dalam ekonomi, 
masyarakat cenderung bakal banyak tenggang-rasanya.

��:
Inipun belum tentu Pak. Demokrasi kan masih dalam tahap pemahaman, jadi mungkin saja 
sebenarnya masih ada yang takut kalau demokrasi bisa terwujud benar.  Demokrasi untuk 
mewujudukan tujuan bersama kan bukan sekedar voting, namun lebih merupakan kompromi 
agar tujuan bersama itu bisa terwujud dalam harmoni kehidupan yang dinamis.  

From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
Ujungnya ? harapan saya ujungnya bakal menabrakkan kita pada kenyataan :
Bangsa ini punya anggota lebih dari duaratus-juta jiwa. Kita pun tahu ada
banyak orang yang lebih mampu pada Mega atau Gus Dur atau Amin Rais.
Biarkanlah mereka tampil dipermukaan. Jangan cuma yang itu-itu saja. ....

��:
Nah, pertama, persoalannya bukan hanya masalah siapa yang akan menjadi  Presiden saja 
Pak, namun juga masalah lingkungan Pemerintahan, dan lingkungan hukum dan sosialnya. 
Budaya Orba yang telah terbentuk di lingkungan Pemerintah dan lingkungan hukum dan 
sosialnya itu tentu membutuhkan waktu lama untuk mengubahnya. 

Ke dua, kalau para wakil rakyat itu masih berdiri di dua kaki seperti sekarang ini  
maka lupakan saja impian itu karena siapapun mereka yang menjadi Presiden maka mereka 
pasti akan mengalami nasib seperti presiden sekarang ini. Oeh karena, reformasi di 
bidang perwakilan rakyat harus dilakukan agar para wakil rakyat itu benar-benar 
mewakilk rakyat. Ada ide?


Salam,
Abdullah Hasan.

Salam kembali.
��






>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!














>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke