Semua sama gilanya tetapi lebih gila suharto tentunya
abis baru juga satu tahun beda dengan tohar yang sudah
dari 32 tahun kan gambang ngungkit dosa-dosanya;
mau gusdur; mau amien rais; mau mega; mau akbar tanjung;
mau sri sultan;
pokoknya tokoh Ciganjur dan pencetusnya semua sama saja
setali tiga uang. Jadi kalau mau tuntut mundur orang dia
otomatis menampar muka sendiri alias juga harus turun,
dasar bego.
politik adalah politik; kadang menjadi kawan dan kadang
menjadi lawan (lumrah).
Publiklah yang harus menjadi hakimnya; gunakan otak bukan
dengkul kalau ngak ada yang srek ke lima tokoh politik
tersebut seret aja, jangan pilih lagi lima tahun kedepan
cari figur yang lahir setelah reformasi orang muda yang masih
bersih dari sisa-sisa orde baru; bukan begitu bung WAM.
cari pemuda yang baru-baru;
mungkin Wam mau tambahin tokoh peledakan BCA dan Priuk
yang jelas bersih dari sisa orde baru?
dan bangun Dewan yang lebih berpihak pada rakyat bukan Uang.
yang sudah pada kenyang bui ordebaru itu
kita tokohi setuju ngak.
Kalau ngak nanti militer lagi yang ambil alih, yang kasihan rakyat
juga. Pokoknya harus orang baru (muda), bersih, kritis dan berani dan yang
pasti bukan militer karena negara kita bukan negara militer apalagi
negara Fasistik. Masa bodo kalau ada yang mau ngambil jalan
fasis.
M. Mashuri Alif
Nb: Para elit politik yang dipakai para pelaku ekonomi
para politisi yang dijadikan komoditi black market
para politisi yang digunakan spekulan ekonomi
semua sudah berkaca tidak pada diri kita masing-2
Para kapitalis/pemilik modal itu sendiri biangnya
dan politisi berdiri diatasnya melindungi/mengamini?
Saya tidak anti politik, tetapi saya anti politik uang.
Arwah pejuang dan pemuda akan terus bergentayangan
dan terus menuntut perubahan apapun caranya,
jika akhirnya revolusi semoga revolusi yang baik
untuk semua orang, seluruh rakyat yang sudah berjumlah
200.000.000 orang ini. Pemuda meninggalkan noda merah
revolusi 17 Agustus 1945 dan "reformasi" 1998.
> -----Original Message-----
> From: �� [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: 01 Nopember 2000 6:28
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Gereja Dukung Gus Dur : Kalkulasi Cerdas.
>
>
> He... he... Pak Hasan saya tidak mau kita kembali ke perdebatan
> dulu. Namun ada tiga hal yang perlu saya tanggapi.
>
> 1. PKB termasuk yang sreg sejak awal dan berada di luar 30%. Jadi
> masih ada kurang dari 70%. Dari yang kurang dari 70% itu tidak
> seluruhnya 100% tidak sreg. Terlalu gegabah saya rasa untuk
> menga6takan bahwa 70% tidak sreg. Mega menjadi Wapres karena
> dicalonkan oleh PKB dan bukan oleh PDIP. Itu fakta. (nggak usah
> ditanggapi ya Pak, file peredebatan tu masih ada koq, jadi hanya
> membuang pulsa saja).
>
> 2. Tidak bisa dibuktikan namun sulit untuk mengatakan bahwa
> instabilitas politik yang berakibat pada kesulitan untuk
> memperbaiki ekonomi adalah muncul secara alami tanpa sebuah
> rencana yang melibatkan biaya besar. Tujuannya apa?
>
> 3. Kalau GD berhenti maka sesuai dengan UU, MW akan
> menggantikannya seperti dulu ketika Hbb menggantikan Soeharto.
> Selanjutnya MW akan menjadi sasaran tembak baru dengan membuka isu
> lama yang dulu digunakan untuk mengganjalnya. Ujungnya kemana?
>
> ��
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Sunday, October 31, 1999 6:11 AM
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Gereja Dukung Gus Dur : Kalkulasi
> Cerdas.
>
>
> From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>
> 1."...GD mewakili sebuah sosok yang muncul dalam sebuah proses
> peralihan
> yang kita Amin-i sebagai demokratis ....."
>
>
> 2." Emil Salim berkata "sebenarnya bangsa ini maunya apa sih...?,
> apakah
> menghendaki keadaan tambah tidak karuan arahnya?"
>
> 3.Jadi, sosok itu saat ini diwakili oleh pribadi yang bernama GD
> dengan segala keunikannya yang dulu dimunculkan bukan karena
> pemahaman terhadap keunikannya namun semata-mata karena muncul
> dari sebuah scenario cerdas yang mengkalkulasi kemungkinan
> gagalnya Hbb masuk bursa pencalonan Presiden sehingga tujuan utama
> untuk mengganjal Mega tetap tercapai.
>
> ( simpulan AH).
> =============================================
> Mas Aswat, apa kabar ?,
> Bangsa ini mau apa sih ? Tentunya kecuali satu-dua kriminal,
> tentunya bangsa
> ini mau keadaan tambah karuan. Yang jadi masalah cuma caranya
> saja. Ada yang
> percaya begini , ada yang percaya begitu caranya. Yang satu takut
> yang ini ,
> yang lain takut yang itu.
>
> Yang jadi masalah tambah rumit , yang satu percaya dunia bakal
> kiamat kalau
> tidak memakai "cara tertentu". Dalam lingkungan demokrasi yang
> lebih dewasa,
> satu sama lain percaya caranya cuma lebih baik ( sedikit) dari
> yang lain.
> Sama sekali tidak membuat dunia ancur-ancuran. Jadi, bila yang
> lain menang
> kali ini, It is sad. But it is O.K . Usaha lagi lain kali.
>
> Partai Republik percaya pengurangan pajak akan menambah kantong
> publik. Pada
> gilirannya kantong yang yang lebih tebal menambah leluasa
> masyarakat untuk
> memilih pendidikan swasta yang lebih baik. Partai Demokrat
> percaya, uang
> pajak sebaiknya digunakan untuk memperbaiki sekolah-sekolah negeri
> yang ada.
> Sekolah negeri bermutu yang terjangkau masyarakat pada gilirannya
> bakal
> meningfkatkan mutu SDM masyarakat. Dsb. Maka dilakukanlah iklan
> besar-besaran ( ie. "kampanye"). Macam-macam cara. Dari yang
> sedikit kasar
> sampai yang amat halus. Siapa yang menang diberi salam oleh yang
> lain.
>
> Apakah yang menang dibiarkan berbuat apa saja selama lima tahun ?
> Tidak ,
> dong ! Kontrol keras !
> Apakah presiden yang menang dibiarkan begitu saja bila mengumbar
> syahwatnya
> ? Kita semua pernah menonton bagaimana Presiden Clinton sampai
> terkencing-kencing karena proses impeachment yang dilakukan
> Kongres.
> Untunglah Ekonomi dibawah Clinton paling sehat selama 30 tahun.
> Pengangguran
> paling rendah selama 25 tahun. Jutaan Jobs dilahirkan dalam masa
> beberapa
> tahun. Kesejahteraan meningkat tertinggi dalam 25 tahun. Clinton
> terbata-bata minta maaf. Rakyat-pun memaafkannya.
>
> Keadaan negeri kita ini berbeda jauh sekali. GD naik secara
> demokratis.
> Caranya bukan karena kalkulasi cerdas seperti yang anda katakan,
> tapi karena
> kebodohan PDIP yang kelewatan. Mega menunggu ditempat bagai raja
> majapahit
> menantikan baiat rakyatnya. Dan Mega pun yang banyak tidak
> disenangi
> masyarakat ( Yang sreg padanya cuma 30 %, sisanya yang 70 %
> diprediksi sebal
> atau meragukan kemampuannya ), tanpa ampun nggelundung dengan
> mengundang
> iba. Dia naik jadi Wapres cuma berkat rengekan ekstrim warganya
> yang nagis
> ngancam-ngamcam di jalan-jalan.
>
> Apakah GD boleh berbuat apa saja selama lima tahun ? Harusnya
> tidak. Tapi di
> negeri pariah ini apa boleh buat. Banyak yang tolol mau menahan
> diri
> negerinya jadi negeri hina dikalangan bvangsa lain. ( Saya sering
> nelongso ,
> melihat nama Jakarta sekarang ini sering di coret dalam kota-kota
> dunia yang
> diramal cuacanya oleh CNN, Indonesia benar2 sudah tidak ada
> harganya .
> Bagaikan pengemis cepek dipinggir jalan). Ditanya apa yang bisa
> dibanggakan
> dari presidennya, seorang mahasiswa ekonomi, asisten pengajar,
> dari
> universitas paling bergensi di negeri ini balas bertanya : apa sih
> yang bisa
> dibanggakan dari Amin Rais ? Sungguh-sungguh membuat pilu orang
> tua seperti
> saya . Mental muda kok sudah ( sedikit) keracunan mental begundal.
> Apa tidak
> bisa membaca indeks pasar modal ? Apa tidak tahu rupiah jadi
> barang mainan
> lucu orang singapore? 10.000 ? Apa tidak tahu aceh dan papua dan
> ambon tidak
> terurus karena pemimpinnya sibuk naik kapal terbang mengira
> dirinya seperti
> Mahatma Gandhi atau Paus Paulus ? Apa tidak tahu bagaimana beliau
> tega
> menipu ummatnya dengan mengumbar syahwat diam-diam ? Come, on....!
> Kalau
> terbukti suatu presiden yang naik demokratis ternyata
> leadership-nya minus,
> tidak sanggup memimpin rapat kabinet sekalipun akan kita biarkan
> terus ?
> Kenapa mesti ribut cari kesalahan "siapa biang-kerok" yang
> menaikkannya ke
> kursi presiden ? Yang salah adalah proses demokrasi. Tapi proses
> tersebut
> "juga" memberi kesempatan untuk membuat koreksi ditengah jalan.
> Asalkan kita
> semua mau waras.
>
> Hambatannya apa ? Kita saling takut orang lain menggunakan cara
> lain. Karena
> tidak ada respect diantara kita. Cara kita bukan lebih baik
> sedikit dari
> yang lain. Cara kita adalah satu-satunya cara yang harus digunakan
> : tidak
> ada alternatip. Orang kita adalah satu-satunya orang yang pantas
> memimpin.
> Kuno, tapi nyata. Meskipun nurani kita tahu betapa jeblognya
> pemerintahan
> GD, dengan berbagai cara akan kita tutupi tanpa malu-malu. ( Orang
> macam
> Wimar Witoelar juga mau jadi manager divisi Tutup-tutupan seperti
> itu).
> Karena kita tidak berani mengambil alternatip. Alternatip lain
> adalah
> kiamat. Meskipun ada kans DPR secara demokratis mungkin
> menjatuhkan GD , DPR
> pun kalau perlu dijatuhkan dan dihujat sekedar karena tidak mau
> alternatip.
> Demikianlah antara lain keluhan teman saya di pucuk pimpinan PDIP.
>
> Kalau memang tidak dapat kita tumbuhkan respect diantara kita,
> memang
> demokrasi belum waktunya diterapkan disini. Fakta berkata : Itu
> omong kosong
> besar ! . Marilah kita undang clean-dictator macam Lee Kuan Yew
> atau
> pimpinan negeri Cina. Atau sewperti Mahathir sekalipun ! Buang GD
> segera.
> Balik ke Ciganjur jadi tetangga biasa saya lagi.....
>
> Wassalam
> Abdullah Hasan.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340
> <<<<
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
> >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!