From: �� <[EMAIL PROTECTED]>

1.  PKB termasuk yang sreg sejak awal dan berada di luar 30%. Jadi
masih ada kurang dari 70%. Dari yang kurang dari 70% itu tidak
seluruhnya 100% tidak sreg. Terlalu gegabah saya rasa untuk
menga6takan bahwa 70% tidak sreg. Mega menjadi Wapres karena
dicalonkan oleh PKB dan bukan oleh PDIP. Itu fakta. (nggak usah
ditanggapi ya Pak, file peredebatan tu masih ada koq, jadi hanya
membuang pulsa saja).

=================================================
Ha, ha, ha.... mas Aswat... anda teliti sekali....cuma sedikit "curang"
kalau saya nggak boleh menanggapi. Soal PKB, saya kok merasa sedikit lebih
tahu. Soalnya : isteri saya, ibu saya , paman saya, bibi saya , nenek saya,
banyak sepupu saya, pilih PKB semua. Saya pun tahu pasti mereka itu pilih
PKB karena memilih NU , bukan karena memilih Mega!  Tapi percayalah , mas
Aswat, kalau saya ngomong 70 % , atau 30 % , itu cuma kira-kira kasar saja
dan ditambah stabilo biar terang......

Intinya mau mengingatkan yang mencintai Mega : Ketahuilah wahai saudara
sebangsaku !  Hampir 70 % saudaramu "kurang-suka" sama Mega . Jangan marah,
ya ? "

From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
2. Tidak bisa dibuktikan namun sulit untuk mengatakan bahwa
instabilitas politik yang berakibat pada kesulitan untuk
memperbaiki ekonomi adalah muncul secara alami tanpa sebuah
rencana yang melibatkan biaya besar. Tujuannya apa?
=============================================
Pendapat mas mewakili orang-orang yang sulit sekali percaya bahwa ada yang
bisa jalan sendiri tanpa dalang. Maklumlah.. sudah puluhan tahun,
teristimewa pada jaman orba, kejadiannya memang begitu. Pendapat yang lain,
barangkali yang optimis, melihat ini semua karena kegaduhan
immature-democracy. Masyarakat masih memerlukan waktu untuk siap sepenuhnya.
Malangnya , dalam belajar demokrasi ini,  kita masih bernasib jelek :
memiliki presiden yang minus dalam moral . KKN, Syahwat, dll. dan leadership
nyaris nol: ambon masih dibiarkan terlunta-lunta sendiri. Aceh yang
dibiarkan menunggu Godot... Tentara dan Polisi gagal dikendalikan karena
presiden tidak punya wibawa.. ( lha wong nglawak terus...!).

From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
3. Kalau GD berhenti maka sesuai dengan UU, MW akan
menggantikannya seperti dulu ketika Hbb menggantikan Soeharto.
Selanjutnya MW akan menjadi sasaran tembak baru dengan membuka isu
lama yang dulu digunakan untuk mengganjalnya. Ujungnya kemana?
=================================================
Kritik dan serangan pada jabatan publik adalah bagian dari demokrasi. Jadi
disamping kemampuan managerial yang mumpuni, kecanggihan komunikasi mutlak
diperlukan. Buat Mega, kira-kira dua-duanya lemah. Tapi Mega mungkin punya
nilai plus dalam moral ( meskipun bisa dirusak oleh suaminya yang terkanal
miring pada konglomerat itu).  Nilai plus tersebut dalam masa transisi ini
bakal amat membantu. Jadi bila tidak terlalu jeblog prestasinya dalam
ekonomi, masyarakat cenderung bakal banyak tenggang-rasanya.

Ujungnya ? harapan saya ujungnya bakal menabrakkan kita pada kenyataan :
Bangsa ini punya anggota lebih dari duaratus-juta jiwa. Kita pun tahu ada
banyak orang yang lebih mampu pada Mega atau Gus Dur atau Amin Rais.
Biarkanlah mereka tampil dipermukaan. jangan cuma yang itu-itu saja. ....

Salam,
Abdullah Hasan.








>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke