Daniel:
> Sebelum pemilu, dia pernah mengatakan partai pemenang pemilu, calon
> presidennya layak menjadi Presiden . Ternyata, ketika yg menang bukan
PAN,
> tetapi PDIP, dia mengatakan parpol pemenang pemilu, tidak otomatis calon
> presidennya menjadi presiden. Dengan memutarbalikkan logika angka2.
>

> Asep:
> Nach kalau ini berarti anda belum mengerti apa yang dimaksud dng menang,
> anda selalu menilai dng pikiran anda sendiri. Menang dng angka yg mutlak
> otamamtis dia jadi Ri1, tapi kalau menang kurang dari 50% yah harus
mencari
> dukungan diluar partainya karena konstitusi kita bicara seperti itu lho
> mas, ini mungkin yang dimaksudkan oleh ar.

DANIEL:
Kalau memang itu pikiran AR yg murni (50% +1), mengapa ini tidak diajukan
pd
masa sebelum pemilu tsb? AR waktu itu hanya mengatakan sebagaimana apa yg
saya kutip di atas. Mungkin ini karena dia terlalu percaya diri yg
berlebihan, bahwa dlm pemilu tsb PAN pasti yg meraih suara terbanyak (tidak
harus 50% + 1). Ini sangat masuk akal. Karena waktu itu AR sangat populer
dan terus-menerus diberitakan o/ berbagai media massa. Buku2 ttg AR pun
muncul bagaikan cendawan di musim hujan. Fenomena ini membuat AR terlalu
GR.
Maka keluarlah pernyataan tadi (bahwa parpol pemenang pemilu calonnya lah
yg
jadi presiden).

Tidak taunya, PAN malah jeblok blok dng hanya mampu meraih 7% suara! Tragis
sekali bila dikaitkan dng popularitasnya di era sebelumnya. Dari sinilah
keluar logika 50% + 1 itu. Bahkan dlm wawancara majalah D&R dng AR, AR
mengatakan bahwa rakyat yg berpendapat bahwa parpol yg meraih suara
terbanyaklah yg keluar sbg pemenang pemilu adalah mereka yg politiknya
masih
bau kencur, dan masih harus banyak belajar demokrasi. Bahkan dikatakan
rakyat yg memilih Mega, tidak mengerti politik, karena hanya melihat dari
kharisma Bung Karno.

Waktu itu, saya sempat memberi komentar di majalah D&R. Saya katakan, saya
termasuk rakyat yg baru belajar demokrasi. Mungkin Pak Amien bisa menjadi
guru kami. Tetapi, guru yg baik, bukan guru yg mengata-ngatai muridnya
masih
bau kencur.

Sekarang, saya jadi berpikir. Jangan2 karena menganggap rakyat ini bodoh2
itulah, maka dia mengelabui rakyat dng senjata SI MPR-nya u/ menjatuhkan
GD.
Berkali-kali dia mengatakan bahwa negara sekarang itu sudah sangat gawat,
dan harus segera diatasi dng menurunkan GD. Keadaan ekonomi, sosial politik
negara saat ini memang memprihatinkan. Tetapi, benarkah sdh sedemikian
darurat seperti yg dikatakan o/ AR? Jawabannya bisa kita lihat dng fakta
riil bahwa di jalan2 kendaraan2 bermotor masih memenuhi jalan2 raya dan
memacetkannya karena kesibukan bisnis masing2. Kegiatan di pusat2 bisnis
berlangsung dng normal. Tidak seperti keadaan darurat paska kerusuhan Mei
1998.
Justru, mungkin karena faktor AR lah yg membuat keadaan perpolitikan negara
masih dlm kondisi yg menyedihkan, dng para politisinya masih sibuk
cakar2-an
demi kekuasaan. Lupa rakyat, lupa membangun.

Seandainya tempo hari AR dan dng kekuatan Poros Tengahnya membiarkan proses
politik berjalan normal. Megawati terpilih sbg Presiden, dan para lawan
politiknya mengaku kalah secara sportif, dan bersama para pakar/cendikiawan
bersama-sama menyumbang kemampuannya membantu Megawati membangun negara
ini,
mungkin kita sekarang sudah keluar dari krisis.

Logika 50% +  1 juga saya jawab di majalah D&R itu. Seiingat saya, saya
pernah juga kirim ke milis ini. Logika 50% + 1 dapat diterima jika parpol
peserta pemilu hanya ada 2-3 buah saja. Tetapi, bagaimana bisa kalau parpol
yg ikut ada 43 buah? Kalau dibagi rata saja, masing2 parpol hanya
memperoleh
2,32% suara. Suara pemilih tentu akan terpecah-pecah di antara 43 parpol
itu, sehingga hampir tidak mungkin bisa meraih 50% + 1. PDI-P meraih 35%
suara saja sudah merupakan prestasi luar biasa. Bandingkan dng PAN yg hanya
7%. Dengan pernyataan ini, jangan nanti ada yg bilang saya ini pendukung,
atau malah pemuja Megawati lagi. Yg saya katakan di sini adfalah merupakan
opini obyektif. Inilah yg saya maksudkan dng memutarbalikkan logika.

Asep
itu tidak perlu ar kemukakan karena dia menganggap orang tau hal itu, tak
perlu dia menjelaskan seperti anda. Saya melihat anda dalam hal ini belum
menerima kenyataan yang terjadi. Idealnya betul seperti yang anda tulis.
tapi konstitusi kita tidak berbicara seperti itu, jadi mau tidak mau, suka
tidak suka,satu partai politik harus bisa merangkul partai lain supaya
dapat 50%+1. jadi bukan memutar balikan logika. tetapi logika yang harus
tau begitu aturannya.


> Daniel:
> AR pernah mengatakan, hanya mau menjadi Presiden. Wapres, apalagi Ketua
> MPR/DPR, untuk orang lain saja. Kalau gagal jadi presiden, dia akan
memilih
> jadi oposisi. Ternyata, ketika gagal jadi presiden. Ketua MPR juga dia
mau.
> Bahkan di Sumatera, sempat kepancing pertaanyaan wartawan, dng mengatakan
> jadi wapres pun dia mau. Padahal tidak ada yg menawarinya u/ itu.

> Asep:
> menjadi oposisi bukan berarti harus diluar parlemen, didalam parlemen
bisa
> menjadi opisisi dan ini lebih efektif dari di luar karena memang kondisi
> dinegara ini baru bisa beroposisi seperti ini, Ar mengatakan begitu kalau
> partainya menang dia jadi Ri1 karena partai kalah, walaupun dia desak
oleh
> beberapa partai2 islam,golkar, dan tni ia tetap tidak mau di calonkan
jadi
> RI1 jadi bisa anda nilai sendirilah apa maknannya. Perkembangan kondisi
lah
> yang membuat dia bersedia jadi wapres, seperti dia mencalonkan gd menjadi
> Ri1 dulu, ingat mas politik itu dinamis selalu melihat situasi.

DANIEL:

Anda tidak menjawab. Mengapa ditawari jadi Ketua MPR kok mau, pdhal
sebelumnya dia mengatakan jabatan Ketua MPR hanya u/ orang lain, dan dia
hanya mau posisi Presiden. Kalau alasan 'kondisi', jelas apa yg Anda
sebutkan 'karena kondisi' itu belum terjadi sewaktu acara pemilihan Ketua
MPR dilakukan.

Lagipula kok bisa ya, tidak ada yg menawari AR menjadi wapres, tiba2 bilang
bersedia menjadi wapres? Mungkin kelamaan menunggu, nggak ada yg nawarin,
lebih baik tawarkan pd diri sendiri.

AR didesak mencalonkan diri menjadi presiden itu o/ siapa? Kalau Anda
membaca buku "Akrobat Politik" yg ditulis oleh Agus Hermawan dkk, maka
jelas
terlihat yg menawarinya adalah kubu Habibie cs + TNI yg pro Habibie
(termasuk Wiranto). Tawaran itu diberikan karena kelompok Habibie cs sdh
merasa tak mungkin lagi meloloskan Habibie menjadi presiden. Setelah
sebelumnya mereka berjuang mati2-an u/ meloloskan Habibie. Termasuk di
dlm-nya adalah AR sendiri. Ada apa kok Ketua MPR terus-menerus ikut
berbagai
pertemuan penting di kediaman Habibie dlm rangka menjadikan Habibie
presiden
itu. Bahkan u/ meloloskan pidato pertanggungjawaban Hbb, AR juga ikut dlm
berbagai pertemuan u/ itu. Selain AR, yg ditawari juga adalah Hamzah Haz
dan
Wiranto. Jadi, kelompok Habibie cs sendirilah yg bermain di antara mereka
sendiri. Semua demi kekuasaan.

Menjadi oposisi yg baik adalah beroposisi demi kemajuan bangsa, demi
kepentingan rakyat banyak. Apakah AR benar2 beroposisi u/ itu? Saya sangat
meragukannya.

Seperti pernah saya katakan, kerja AR setiap hari hanya terus-menerus
mencari kesalahan GD. Apapaun yg dikatakan dan dilakukan GD selalu salah di
matanya. Saking asyiknya, dia menjadi seolah-olah lupa u/ bekerja sbg Ketua
MPR. Kalimat2 dlm pernyataannya sering memancing emosi massa, sehingga
seperti provokator saja.  AR sdh kebabalsan dng seolah-olah menganggap dia
dalah penjelmaan dari institusi MPR itu sendiri. Pernyataaan2-nya selalu
mengatasnamakan MPR. Pdhal suatu keputusan yg mengatasnamakan MPR hanya
bisa
berasal dari suatu putusan hasil rapat paripurna. Bukan mentang Ketua MPR
terus bisa membuat pernyataan seenaknya.

Misalnya, yg terakhir, di depan Gedung Merdeka, dia menyatakan kalau GD tdk
mau mundur, maka MPR akan ambil alih kekuasaan. Bagaimana bisa dia
mengeluarkan pernyataan yg mengatasnamakan MPR seperti ini?

Apakah dng alasan perkembangan kondisi, maka arti suatu Kitab Suci
Al-Qur'an
bisa diubah seenaknya o/ kelompok AR itu? Meminjam istilah Mohammad Sobary,
seolah-olah mereka "mengamandemen" Al Qur'an. Dari "perempuan tidak boleh
menjadi presiden," diamandemen menjadi "perempuan boleh menjadi presiden."
Hebat. UUD 1945 saja nggak kelar2 dari penuntasan rencana amandemennya. Kok
arti dlm Kitab Suci bisa di-"amandemen" sedemikian cepat?

Alasan karena darurat? Berarti dukungannya nggak murni, dong. Mana mau
Mega?
Nanti, kalau Mega naik, mereka bikin alasan lagi "keadaan daruratnya udah
selesai. Jadi, monggo, Mbak Mega turun dari kursi presiden." Dan, naiklah
org mereka yg sdh dicanakan u/ itu setelah sebelumnya dijadikan wapres sbg
batu loncatannya. Org itu salah satunya mungkin  AR, yg menyatakan
kesediaannya menjadi wapres, atau Hamzah Haz, yg belum apa2 partainya udah
minta jatah itu. Jadi, kembali pd skenario kelompok itu semula. Sebagaimana
digambarkan dlm buku "Akrobat Politik" itu.

Tempo hari bilang menurut hukum Islam (dng mengutip beberapa ayat dlm Al
Qur'an) perempuan tidak boleh menjadi presiden. Atau, boleh asalkan sudah
tidak ada satu pun laki2 yg becus. Apa betul di negara ini sdh tidak ada
laki2 yg becus menjadi presiden? Kalau begitu AR juga yg termasuk tak becus
dong?


asep
masalahnya sebelum pemilu dilaksananakan dan hasilnya terlihat, tidak
mungkin seseorang termusuk ar apabila ditanya akan mengatakan dia siap jadi
Ri1,Ri2,ketua mpr,dpr atau menteri namanya maruk dong,pasti salah satunya.
makanya dia selalu menjawab saya siap jadi Ri1 satu. suatu pernyataan yang
tidak sembunyi2.
dan perlu diingat pada perkembangan suksesi pergantian pimpinan nasional ar
salah satu tokohnya,dalam suatu kesempatan ia selalu ditanya oleh audien
apakah dia siap jadi Ri1, ia jawab siap. dan hal ini suatu yang tabu pada
kondisi saat itu untuk menjawab seperti itu. sedikit saya tulis hal diatas
sebetul masih banyak lagi hal lainnya, mengapa dia selalu menjawab siap
menjadi ri1.
untuk lebih jelasnya anda perlu membaca buku2 yang berhubungan dengan
perkembangan suksesi saat itu.

Anda tidak menjawab mengapa dia tidak bersedia??????? padahal itu suatu
kekuatan yang sudah memungkinkan ar menjadi Ri1, yang lainnya masih
persepsi anda.

mengenai perbedaan penafsiran Alqur'an dimana sebagian ulama mengatakan
boleh seorang wanita jadi pimpinan sebagian lain tidak boleh. bila anda
muslim marilah kita selalu berdoa untuk diberi petunjuk oleh Allah swt
jalan yang lurus. karena kita yakin alqur'an itu tidak mungkin bertentang
isinya, setelah itu baru anda menentukan sebetulnya boleh tidak wanita jadi
pimpinan menurut anda, tidak menurut m.sobari, ar,gd. Ar sendiri barada
dalam orang yang memperbolehkan.kalau yang anda maksudkan ulama atau orang
yang mengatakan saat itu tidak boleh, kemudian sekarang mendukung dengan
alasan darurat karena balik lagi konstitusi kita bicara demikian. kalau
mereka paksakan apabila gd turun bukan mw yang naik apa yang terjadi????
ini lho yang dimaksud mereka darurat.

>Daniel:
> AR mengecam politik dagang sapi. Pdhal dia sendiri mengatakan bahwa GD
> tidak
> ingat jasa2 Poros Tengah yg mengangkatnya menjadi Presiden. Seharusnya GD
> mengakomidir kehendak PT (dng mengangkat menteri2 dari PT). Begitu juga,
> ketika dia mengatakan Mega dijamin tidak diganggu kalau jadi presiden,
> asalkan mengakomodir 'jasa2' mereka yg telah mendukungnya. Apa bedanya
dng
> apa yg disebut politik dagang sapi?

> Asep:
> Bila kompromi politik dilakukan pada saat suatu pihak terdesak karena
> blundernya yang dilakukan ini namanya politik dagang sapi, tapi bila
> kompromi politik dilakukan dalam kondisi dimana pihak2 menyadari penting
> bekerjasama dng kepentingan bersama ini namanya kerjasama politik.

DANIEL:
Kepentingan bersama dari parpol2 itu demi memperoleh kursi? Yg saya lihat
mereka itu bertarung sampai lupa membangun negeri ini, demi memperoleh
kekuasaan.

asep
 bisa ya, bisa tidak munkiiiin????????
>
> Sedikit gua bahas beberapa kalimat diatas untuk mengimbangi beberapa
> persepsi anda
>
> salam
> as
>



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke