Menurut saya jawaban atas dua pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

1.  Pertanyaan pertama ini sebetulnya jawabannya tidak hitam putih.  Iya
kawasan konservasi biodiversitas (KKB) tidak hanya feasible ada jika
memberi manfaat langsung.  Jadi ada atau tidak ada manfaat langsungnya
perlu ada konservasi itu.  Tetapi harus dilihat konteksnya (sosial,
politik, ekonomi dsb) juga.  Kalau dilihat konteksnya maka KKB jadi tidak
feasible karena tidak memberi manfaat langsung.  KKB bisa luluh lantak,
seperti kita saksikan, karena eksistensi KKB melupakan konteks: hak
masyarakat diabaikan, ketergantungan masyarakat terhadap KKB dipotong,
pemerintah daerah seolah tak dianggap sebagai sebagai pihak yang mestinya
mendapat manfaat.  Pendeknya KKB justru tidak membangun perkawanan, malah
sebaliknya menumbuhkan banyak musuh untuk menjaga sterilitas KKB dari dunia
nyata sekitarnya.  Karena itu KKB jadi jelas tidak fiseable.  Bagaimana
kita bisa menjaga KKB--yang memang amat penting itu-- kalau selalu
diganggu.  Dan itu situasi real di Indonesia.  Ia akan hancur.  Kecuali
kalau mau membangun tembok ala dinding raksasa China yang mengelilingi KKB.
 Atau minta TNI (yang ini lembaganya serdadu beneran lho) untuk menjaga KKB.

2.  Untuk pertanyaan yang kedua, manfaat untuk masyarakat saya kira bisa
menjadi strategi untuk KKB.  

Ini adalah sebuah diskusi.  Dalam diskusi isu yang kontroversialpun
mestinya ya tidak mengapa.  Berbeda pendapat ya tidak apa-apa.  

Soal kaidah.  Ya setuju ia harus dalam posisi untuk selalu membuktikan diri
konsistensinya dan sifat universalitasnya.  Tetapi suatu kaidah tidak
berarti abadi.  Kalau terbukti tidak tepat lagi maka ia akan "digantikan"
dengan kaidah baru.  Nah kaidah baru untuk manajemen KKB ini yang perlu
dicari.  Kaidah, mungkin (tidak tahu pasti) sama dengan paradigma.  

Demikian.

Salam

Dwi Rahmad
================

At 06:34 AM 10/6/00 +0700, you wrote:
> 
>Perlu sedikit pencerahan :
>
>1. Apakah kawasan konservasi biodiversitas hanya 'feasible' untuk ada bila
>dia dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat ('popular utilitarian')?
>
>Atau dibalik pertanyaannya (bila dianggap elitis dan kurang lugas)
>
>2. Dalam 'management' (kalau kata pengelolaan dianggap bisa berkonotasi
>lain) kawasan konservasi apakah posisi pendekatan manfaat bagi masyarakat
>merupakan tujuan atau merupakan cara/strategi ('objective or means')?
>
>Bila dianggap kontroversial dan tidak relevan harap tidak 
>diklarifikasi/ditanggapi. 
>Pendulum selalu berayun ke arah yang berlawanan, sementara suatu kaidah
> harus selalu dalam posisi untuk membuktikan diri apakah memang memiliki
>sifat  universal (tidak ada hubungannya dengan popularitas).
>Johannes Subijanto
>
 


## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke