Kawan-kawan sekalian,

Setuju juga dengan Pak Subijanto.  Ada pilihan dan resiko.  Yang perlu kita
dipikirkan adalah memperluas rentang pilihan-pilihan dan mempersempit
resiko.  Kita dan juga teman-teman LSM tentu sangat prihatin dengan
kerusakan-kerusakan kawasan konservasi.  Tidak ada yang senang dengan
kecenderungan yang merusak itu.  Namun, menurut saya, LSM dan lembaga atau
individu non-pemerintah adalah hanya bagian kecil yang "tidak berdaya."
Bukan eksekutor dan bukan penegak hukum.  Yang mungkin kita kontribusikan
adalah sepercik pemikiran (seperti diskusi kita dan gagasan Martua untuk
teori "integrasi dan kecil"), kerja lapangan dan teriak sana teriak sini.
Selebihnya ya tergantung bagaimana para "penguasa" itu mengambil yang
positif, membuka ruang dialog, membuka proses-proses saling belajar dan
saling mempercayai untuk memungkinkan memperluas pilihan, bekerja dengan
lebih baik dan gembira, mendorong untuk perubahan yang lebih baik.

Kita tidak punya banyak waktu lagi.  Selamat berkarya.

Salam,

Dwi Rahmad.-

=================
At 06:28 PM 10/6/00 +0700, you wrote:
>Bung Dwi,
>Anda telah rangkum esensi dengan 3 kata : "tidak hitam putih".
>No single answer, yang ada adalah pilihan dan resiko.
>Yang dibutuhkan adalah kreativitas untuk menciptakan lebih banyak pilihan
>dan pemahaman yang mendalam terhadap resiko/konsekuensi masing-masing
>pilihan.
>Terhindar dari jebakan  sindrom pendulum dan romantisme.
>Thanks.
>Johannes Subijanto
>
>----- Original Message -----
>From: Dwi R. Muhtaman <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Thursday, October 05, 2000 11:37 AM
>Subject: Re: [lingkungan] Re: Wilayah Kelola Rakyat
>
>
>>
>> Menurut saya jawaban atas dua pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
>>
>> 1.  Pertanyaan pertama ini sebetulnya jawabannya tidak hitam putih.  Iya
>> kawasan konservasi biodiversitas (KKB) tidak hanya feasible ada jika
>> memberi manfaat langsung.  Jadi ada atau tidak ada manfaat langsungnya
>> perlu ada konservasi itu.  Tetapi harus dilihat konteksnya (sosial,
>> politik, ekonomi dsb) juga.  Kalau dilihat konteksnya maka KKB jadi tidak
>> feasible karena tidak memberi manfaat langsung.  KKB bisa luluh lantak,
>> seperti kita saksikan, karena eksistensi KKB melupakan konteks: hak
>> masyarakat diabaikan, ketergantungan masyarakat terhadap KKB dipotong,
>> pemerintah daerah seolah tak dianggap sebagai sebagai pihak yang mestinya
>> mendapat manfaat.  Pendeknya KKB justru tidak membangun perkawanan, malah
>> sebaliknya menumbuhkan banyak musuh untuk menjaga sterilitas KKB dari
>dunia
>> nyata sekitarnya.  Karena itu KKB jadi jelas tidak fiseable.  Bagaimana
>> kita bisa menjaga KKB--yang memang amat penting itu-- kalau selalu
>> diganggu.  Dan itu situasi real di Indonesia.  Ia akan hancur.  Kecuali
>> kalau mau membangun tembok ala dinding raksasa China yang mengelilingi
>KKB.
>>  Atau minta TNI (yang ini lembaganya serdadu beneran lho) untuk menjaga
>KKB.
>>
>> 2.  Untuk pertanyaan yang kedua, manfaat untuk masyarakat saya kira bisa
>> menjadi strategi untuk KKB.
>>
>> Ini adalah sebuah diskusi.  Dalam diskusi isu yang kontroversialpun
>> mestinya ya tidak mengapa.  Berbeda pendapat ya tidak apa-apa.
>>
>> Soal kaidah.  Ya setuju ia harus dalam posisi untuk selalu membuktikan
>diri
>> konsistensinya dan sifat universalitasnya.  Tetapi suatu kaidah tidak
>> berarti abadi.  Kalau terbukti tidak tepat lagi maka ia akan "digantikan"
>> dengan kaidah baru.  Nah kaidah baru untuk manajemen KKB ini yang perlu
>> dicari.  Kaidah, mungkin (tidak tahu pasti) sama dengan paradigma.
>>
>> Demikian.
>>
>> Salam
>>
>> Dwi Rahmad
>> ================
>>
>> At 06:34 AM 10/6/00 +0700, you wrote:
>> >
>> >Perlu sedikit pencerahan :
>> >
>> >1. Apakah kawasan konservasi biodiversitas hanya 'feasible' untuk ada
>bila
>> >dia dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat ('popular
>utilitarian')?
>> >
>> >Atau dibalik pertanyaannya (bila dianggap elitis dan kurang lugas)
>> >
>> >2. Dalam 'management' (kalau kata pengelolaan dianggap bisa berkonotasi
>> >lain) kawasan konservasi apakah posisi pendekatan manfaat bagi masyarakat
>> >merupakan tujuan atau merupakan cara/strategi ('objective or means')?
>> >
>> >Bila dianggap kontroversial dan tidak relevan harap tidak
>> >diklarifikasi/ditanggapi.
>> >Pendulum selalu berayun ke arah yang berlawanan, sementara suatu kaidah
>> > harus selalu dalam posisi untuk membuktikan diri apakah memang memiliki
>> >sifat  universal (tidak ada hubungannya dengan popularitas).
>> >Johannes Subijanto
>> >
>>
>>
>>
>> ## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
>> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
>
>
>
>
>
>## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>



## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke