Bung Dwi,
Anda telah rangkum esensi dengan 3 kata : "tidak hitam putih".
No single answer, yang ada adalah pilihan dan resiko.
Yang dibutuhkan adalah kreativitas untuk menciptakan lebih banyak pilihan
dan pemahaman yang mendalam terhadap resiko/konsekuensi masing-masing
pilihan.
Terhindar dari jebakan  sindrom pendulum dan romantisme.
Thanks.
Johannes Subijanto

----- Original Message -----
From: Dwi R. Muhtaman <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, October 05, 2000 11:37 AM
Subject: Re: [lingkungan] Re: Wilayah Kelola Rakyat


>
> Menurut saya jawaban atas dua pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
>
> 1.  Pertanyaan pertama ini sebetulnya jawabannya tidak hitam putih.  Iya
> kawasan konservasi biodiversitas (KKB) tidak hanya feasible ada jika
> memberi manfaat langsung.  Jadi ada atau tidak ada manfaat langsungnya
> perlu ada konservasi itu.  Tetapi harus dilihat konteksnya (sosial,
> politik, ekonomi dsb) juga.  Kalau dilihat konteksnya maka KKB jadi tidak
> feasible karena tidak memberi manfaat langsung.  KKB bisa luluh lantak,
> seperti kita saksikan, karena eksistensi KKB melupakan konteks: hak
> masyarakat diabaikan, ketergantungan masyarakat terhadap KKB dipotong,
> pemerintah daerah seolah tak dianggap sebagai sebagai pihak yang mestinya
> mendapat manfaat.  Pendeknya KKB justru tidak membangun perkawanan, malah
> sebaliknya menumbuhkan banyak musuh untuk menjaga sterilitas KKB dari
dunia
> nyata sekitarnya.  Karena itu KKB jadi jelas tidak fiseable.  Bagaimana
> kita bisa menjaga KKB--yang memang amat penting itu-- kalau selalu
> diganggu.  Dan itu situasi real di Indonesia.  Ia akan hancur.  Kecuali
> kalau mau membangun tembok ala dinding raksasa China yang mengelilingi
KKB.
>  Atau minta TNI (yang ini lembaganya serdadu beneran lho) untuk menjaga
KKB.
>
> 2.  Untuk pertanyaan yang kedua, manfaat untuk masyarakat saya kira bisa
> menjadi strategi untuk KKB.
>
> Ini adalah sebuah diskusi.  Dalam diskusi isu yang kontroversialpun
> mestinya ya tidak mengapa.  Berbeda pendapat ya tidak apa-apa.
>
> Soal kaidah.  Ya setuju ia harus dalam posisi untuk selalu membuktikan
diri
> konsistensinya dan sifat universalitasnya.  Tetapi suatu kaidah tidak
> berarti abadi.  Kalau terbukti tidak tepat lagi maka ia akan "digantikan"
> dengan kaidah baru.  Nah kaidah baru untuk manajemen KKB ini yang perlu
> dicari.  Kaidah, mungkin (tidak tahu pasti) sama dengan paradigma.
>
> Demikian.
>
> Salam
>
> Dwi Rahmad
> ================
>
> At 06:34 AM 10/6/00 +0700, you wrote:
> >
> >Perlu sedikit pencerahan :
> >
> >1. Apakah kawasan konservasi biodiversitas hanya 'feasible' untuk ada
bila
> >dia dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat ('popular
utilitarian')?
> >
> >Atau dibalik pertanyaannya (bila dianggap elitis dan kurang lugas)
> >
> >2. Dalam 'management' (kalau kata pengelolaan dianggap bisa berkonotasi
> >lain) kawasan konservasi apakah posisi pendekatan manfaat bagi masyarakat
> >merupakan tujuan atau merupakan cara/strategi ('objective or means')?
> >
> >Bila dianggap kontroversial dan tidak relevan harap tidak
> >diklarifikasi/ditanggapi.
> >Pendulum selalu berayun ke arah yang berlawanan, sementara suatu kaidah
> > harus selalu dalam posisi untuk membuktikan diri apakah memang memiliki
> >sifat  universal (tidak ada hubungannya dengan popularitas).
> >Johannes Subijanto
> >
>
>
>
> ## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>







## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke