bayu wrote:
Sulit untuk menafikkan distro. Mungkin bisa dengan mempersempit
lingkupnya.
Sepengetahuan saya distro bisa dibagi jadi 2 kubu besar:
rpm based distro.
deb based distro.
Jadi bisa dibahas per paket managernya, bukan per distro.
--
Aris
wah kalo per paket manager yg digunakan, apa gak kasian yang suka compile
sendiri dari source ?
yang suka compile dari source, sudah pasti levelnya expert, gak butuh
buku lagi :-)
kalo menurut saya, di kota saya linux berasumsi harus konek ke internet,
paling gak bisa nyambung ke internet, itu point 1
kedua, cd bajakan linux (sori nyebutnya begitu, biar kaya windows) di
daerah-daerah hampir belom ada yg jual, alias masih sedikit, bandingkan
dengan cd windows bajakan ?
kebanyakan orang disini, masih berorientasi dengan cara kerja GUI windows,
dan di linux yg hampir menyamai atau melebihi adalah sekelas KDE dan
GNOME, sementara KDE dan GNOME buat kompi yg pake RAM 64Mb rasanya seperti
kompi mo mogok kerja, bandingkan dengan windows98/Me.
laptop yang saya gunakan pentium II 200, 64 M,
saya pasang debian stable dengan windows manager XFCE.
muter film dengan mplayer lancar saja,
abiword, gnumeric jalan mulus.
game supertux, pingus ok saja.
saya kenal linux karena di laboratorium ada yang suka "ngomporin".
linux pertama saya adalah slackware. Buku yang saya beli malah buku
tentang UNIX, bukan linux.
Pengetahuan linux saya dapat sebagian besar dari milis pau-mikro dan
milis linux pemula / linux admin.
Coba, kalau gagal copy paste pesan kesalahan, posting ke milis hehe.
Jadi memang rasanya selain media buku, memang harus dilengkapi dengan
media lain.
www.linux.or.id sudah sip, atau barangkali perlu ditambah wiki.
--
Aris
--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis