On Wed, 2006-03-01 at 15:02 +0700, Rusmanto wrote: > Prianggada Indra Tanaya wrote: > > > Maksudnya, setelah menulis buku mengadakan seminar begitu apa ya ? > > Sambil seminar kemudian mempublikasikan bukunya ... > > Atau memberi tutorial gratis pada masyarakat pengguna ? > > Ya, itu salah satu solusi agar buku Linux dicari pembaca. > > Fyi, buku Server Linux (2000) karangan fade2blac dibuat seperti itu. > Ada launching dan seminar, langsung terjual sekitar 400 buku, > dan dalam 6 bulan 3 X cetak. > Apalagi kalau launching di beberapa kota, bisa laku ribuan :) > > > Untuk beberapa orang, seperti pemula (saya), ongkos ... nya lumayan juga > > untuk > > memulai ini. :( > > Bagaimanapun, saya coba deh ... > > Ya, agar bisa merasakan, coba dulu... > Pemula bisa kerja sama dg yang tidak pemula > seperti kebiasan komunitas Linux umumnya :) > > Rus >
Terimakasih atas dukungannya Terusterang para "Juragan" biasanya lebih mementingkan buku "laku" atau tidak. Perangai "kejam" seperti ini memang tidak dipungkiri pada dunia "industri" termasuk industri buku hingga toko buku. Tampaknya untuk tahun-tahun ke depan, Toko Buku (dlm hal ini Gramedia) akan membatasi jumlah penerbit yang dapat masuk ke rak-nya. Pola yang dilakukan pak Rus, tampaknya sangat ideal untuk tema-tema open source/Linux (Pola Sounding, Processing, Promoting hingga Launching), akan tetapi memang memerlukan energi ekstra. Kombinasi antara Tema dan Materi, Penulis, Penerbit, Komunitas dan Toko Buku harus dibenahi. Baik...Salut buat Pak Rus yang masih setia dengan idealismenya...walau menentang pasar :-)), tapi pola-pola cerdik demikian yang membuat bertahan. Salam Hormat ESM -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

