Salam,
On Sep 23, 2008, at 7:46 AM, adi wrote:
terus terang kalau linux dalam KPLI itu cuman nama saja, saya dengar
baru sekarang ini, kalau ternyata KPLI itu sebenarnya tidak harus
linux,
dan anehnya, justru di milis ini :D
Saya tidak punya bukti tertulis, ini berdasarkan ingatan saja. Saya
yakin soal ini pernah dibahas di milis linux ketika itu. Kalau di
milis pau-mikro, saya benar-benar lupa apakah masalah ini pernah
disinggung juga? Karena ketika itu milis IT masih sangat jarang,
sehingga pembicaraan di milis linux biasanya juga dibahas di milis pau-
mikro oleh orang-orang yang sama dan kadang merembes sampai ke milis
lain di server indoglobal.
Seingat saya, ketika mulai banyak KPLi bermunculan. Karena orang
merasa kesulitan menjelaskan sebuah ideologi atau paham, apakah itu
free software, open source, linux, copy left dlsb.? Apalagi di tengah
situasi dimana pembicaraan mengenai software bebas ketika itu
dipandang sebagai sebuah keanehan yang tidak perlu (lha semuanya
memakai bajakan). Sehingga lebih mudah menjelaskan Linux sebagai
sebuah produk turunan FOSS ketimbang sebagai sebuah paham. To the point.
Kemudian banyak pihak lain non Linux akhirnya ikut menumpang kendaraan
KPLi karena relatif lebih "established". Sejak saat itulah maka
kemudian komunitas-komunitas FOSS menjadi nimbrung ke dalam KPLi
sebagai sebuah kesadaran bersama. Ini disambut gembira oleh KPLi
karena kebersamaan itu menjadi salah satu faktor yang terbukti membuat
KPLi kemudian tumbuh pesat. Artinya berkat kontribusi komunitas FOSS
secara luas maka Linux sebagai ideologi lambat laun juga makin
dikenal. Kebersamaan itu terus bertahan sampai masa 2004 - 2005
setelah kedatangan Richard Stallman dan pasca vakumnya angkatan lama,
maka nampaknya jaman berganti hingga terjadi kudeta-kudeta dan muncul
sebagian keinginan untuk "memurnikan" lagi KPLi yang saya lihat ada
didukung angkatan lama juga.
Ketika masih "hanya Linux", KPLi saat itu lambat perkembangannya.
Mudah dipahami dan dimaklumi karena sebenarnya yang dicari masyarakat
adalah solusi secara utuh keseluruhan yang terutama menyangkut OS dan
aplikasi desktop dan server wich is bukan cuma Linux saja. Buktinya
sampai sekarang kalau ada yang datang ke KPLi, kebanyakan tidak melulu
mencari tahu tentang Linux (saja) secara spesifik, melainkan Linux
sebagai suatu kesatuan solusi yang umumnya saat ini adalah gabungan
berbagai produk FOSS seperti yang diilustrasikan Adi Nugroho. Artinya
sebenarnya Linux di KPLi memang sebenarnya lebih dikenal sebagai
produk ketimbang ideologi. Itu yang saya maksud sebagai "Linux hanya
sekedar nama". Sehingga masyarakat memandang KPLi pun juga demikian
tidak eksklusif Linux.
Demikian saya lihat dan kebetulan saya tidak sepaham dengan "konsep
pemurnian" itu sehingga mungkin jadi perdebatan. Saya punya alasan
sendiri untuk tidak setuju terutama dari sudut pandang sebagai
pengguna akhir. KPLi itu lebih condong sebagai kelompok pengguna
(akhir) bukan? Bukan milik kelompok pengembang maupun pemikir ideologi
dan aktivisnya. Meskipun mereka nimbrungnya di dalam KPLi juga.
Sehingga, menurut saya, KPLi seharusnya lebih berpihak pada kebutuhan
pengguna dalam spektrum yang luas. Dalam kondisi tuntutan Linux
sebagai solusi untuk pengguna (terutama akhir) maka yang kita butuhkan
adalah Linux sebagai sebuah kesatuan produk FOSS bukan suatu sistem
yang berdiri sendiri. Artinya lagi, kita fokus kepada manfaat Linux
bagi masyarakat kita yang akhirnya juga secara tidak langsung akan
memperkuat Linux itu sendiri termasuk dalam hal ideologi.
Jangan sampai, justru karena mengedepankan ideologi, Linux menjadi
dijauhi masyarakat karena dianggap tidak mementingkan manfaat serta
solusi bagi masyarakat melainkan hanya untuk kebesaran dirinya
sendiri. Kesan ini sempat muncul di masa awal perkembangan KPLi yang
masih cenderung ekslusif. Paling tidak, ketika itu sekitar tahun 1998
teman-teman saya mendirikan KPLi mereka mendapat wejangan dari para
pendahulu agar tidak meniru paham eksklusif ini. Meskipun terus terang
ketika itu kami masih sulit membedakan apa itu Free Software, Open
Source dan Linux itu sendiri (wong sekarang aja juga masih sering
bingung hahaha).
Alasan lain, menurut saya secara strategis (bukan karena romantisme
sejarah), KPLi masih dalam tahap membentuk diri menuju kelembagaan
formal, sehingga perlu dukungan dari manapun, termasuk dari komunitas
FOSS lain yang selama ini sudah nimbrung dalam kebersamaan perjuangan.
Kalau hanya mengandalkan dukungan ideologis dari para die hard Linux,
option-nya pasti sangat terbatas dan mungkin tidak akan pernah bisa
bangkit. Meskipun saya mengerti bahwa ada keinginan pemurnian harus
dilakukan sekarang sebelum benar-benar menjadi formal dan selamanya
akan tercemar, meskipun sebenarnya bisa saja dilakukan strategi
pentahapan yang jelas, misalnya sampai KPLi turut memfasilitasi spin
off organisasi FOSS lain untuk mewadahi unsur tidak murni di dalam
tubuhnya. Tentu butuh perjuangan panjang yang tidak mudah. Baru wacana
saja polemiknya sudah sedemikian kerasnya. Menandakan satu sama lain
sudah terlanjur punya prasangka dan kewaspadaan berlebihan terhadap
pihak lain yang kebetulan punya pandangan berbeda. Entah karena
paranoid atau sekedar karena belum kenal saja? Mudah-mudahan sih hanya
karena faktor tak kenal maka tak sayang :)
Pertimbangan terakhir, yang mungkin bisa jadi jalan tengah adalah
membiarkan setiap KPLi untuk memilih jalur perjuangannya sendiri.
Sesuai konteks dan konstituen di daerah atau lingkungan masing-masing.
Misalnya ada yang lebih concern kepada ideologi ya tentunya akan
memurnikan diri serta gerakannya. Sedangkan yang ingin bergaul lebih
luas ya tentunya tidak akan menutup diri justru akan merangkul
sebanyak mungkin unsur yang bisa diajak untuk bekerjasama, berjuang
dalam kebersamaan. Toh memang KPLi sampai sekarang kan tetap bebas
definisinya tergantung intepretasi dan manifestasi masing-masing
kelompok / komunitas. Tidak ada yang lebih benar ataupun kurang
dibanding yang lain. Yang membedakan hanya pilihan saja.
Paling tidak, berkat diskusi ini ada upaya untuk berpikir lebih luas,
out of the box dan belajar menyingkirkan prasangka, paranoid, teori
konspirasi dlsb. dan menjadi lebih obyektif proporsional menghadapi
isu komunitas ini.
So, Pak Adi, saya hanya menyampaikan ingatan sejarah dan kesesuaiannya
dengan fakta hingga saat ini, tidak lebih. Bukan karena mengarahkan
opini. Pada akhirnya harapan saya, semoga apa yang saya sampaikan
dianggap sebagai kontribusi konstruktif karena memang dilandasi niat
baik semata. Itu saja.
_______
Regards,
Pataka
--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis