Pendapat saya pribadi,
hubungan antara manusia (Cinta) sifatnya universal, tidak dibatasi oleh
Ras, daerah, maupun Agama. Apalagi bila hubungan ini didasari oleh komitmen .
Komitmen tersebut tentu saja bisa berupa ;
- salah satu pindah agama atau
- masing-masing tetap memeluk agama yang diyakininya
Tanpa bermaksud mengecilkan dominansi Agama dalam menentukan hubungan tsb.
di atas, pada umumnya alasan kita yang tinggal di Indonesia dan memeluk
salah satu Agama ditentukan oleh faktor keluarga dan lingkungan.
Bila Anda dilahirkan oleh keluarga bersama Islam, maka hampir dapat
dipastikan bahwa Anda juga akan memeluk Agama ISlam, demikian juga dengan
Anda yang latar belakang Agamanya berbeda. Jarang ada yang benar-benar
"menemukan" Imannya tanpa pengaruh faktor-2 tersebut.
Saat bertemu dengan pasangan/calon yang berbeda Agama, perasaan kompromis
secara pribadi (baca : saya, bagaimana dengan Anda ?) cukup besar untuk
menerimanya. Yang jadi penghambat bukan perbedaan Agamanya, justru faktor
keluarga yang tidak mendukung.
Saat keluarga juga mendukung maka akan jauh berkurang masalahnya untuk
melanjutkan hubungan tersebut. Sambil berjalan waktu, tingkat kompromi nya
juga makinberkembang, apakah salah satu akan mengalah berpindah agama, atau
akan tetap berjalan masing-2 sesuai Imannya.
Mengenai tingkat kesuksesan/kegagalannya, ada contoh yang gagal namun ada
juga contoh yang sukses. Wong yang agamanya sama aja bisa berantakan
apalagi yang beda...... Itulah uniknya perkawinan, perlu komitment dua
orang untuk mewujudkannya, namun cukup satu orang saja untuk
mengakhirinya. YAng penting ada CINTA dan KOMITMEN, seneng , susah
ditanggung sama-sama.
Jadi kalo memang punya komitmen dan didukung oleh keluarga,
hubungan beda Agama ? Siapa takut ?
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]