At 07:29 15/08/00 +0700, Llanowar Elf wrote:
>Wah, lama-lama kok jadi diskusi ke-agama-an ya... :)
Iya nih, sebetulnya topiknya masih dikit nyangkut sama LoVe, tapi kalo 
melenceng ya sebaiknya diakhiri sampai disini saja.

>Sori nih mas Suryanto, kali ini kayaknya kita beda pendapat... :(
Hehehehe.... wong hubungan beda agama aja kagak keberatan, apalagi cuma 
beda pendapat...


>Hm...
>Agama saya mengajarkan bahwa ajaran agama itu harus ditanamkan mulai dari 
>kecil...
>Mulai dari kecil seseorang dikenalkan dengan agama, diajarkan cara 
>mengamalkan agama...
>
>Kenapa? Karena kalau 'dimana pada usianya yang sudah matang tersebut 
>Imannya tersebut akan tumbuh dan matang'... kita tidak tau usia mas Suryanto...
>Umur di tangan Tuhan dan bagaimana seandainya belum sampai 'matang' tadi 
>sudah keburu dipanggil, kira2 siapa ya yang bertanggung jawab?
>

Saya juga pernah memikirkan hal ini.  Dimulai dari pertanyan kepada diri 
sendiri, mengapa saya memeluk Agama ini.....  kenapa teman saya memeluk 
agama berbeda ?  lalu sendainya saya atau dia dilahirkan di lingkungan yang 
berbeda, apakah saya dan teman saya akan memeluk agama yang sama seperti 
sekarang ?

Seandainya hanya agama saya yang benar, lalu berapa milyar orang yang tidak 
akan selamat di akhirat.  Lalu apa jadinya orang-orang yang seumur hidupnya 
tidak pernah mengenal agama lain selain yang ia kenal satu-satunya selama 
hidupnya.  Apakah mereka juga tidak akan selamat ?

Sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya, dan hal ini menyadarkan 
bahwa otak saya tidaklah cukup untuk mengerti misteri hubungan antara Tuhan 
dengan manusia.  Dengan kata lain saya menjadikan Agama sebagai hubungan 
yang amat pribadi antara seseorang dengan Tuhan, sedemikian pribadinya 
sehingga saya tidak pernah ingin mencampurinya.


> >Yakh tetap saja manusia, sebagaimana Tuhan memandang sama setiap manusia
> >dihadapanNya.  Dan pada saatnya setiap manusia tersebut di akhirat akan
> >mempertanggung jawabkan semua yang dilakukkan selama hidupnya secara
> >pribadi dengan Tuhan sendiri.  Bukan mempertanggung jawabkannya kepada
> >sesama manusia yang lain.
>
>Nah, kalau dilihat dari sini kesannya masing-masing pribadilah yang 
>bertanggungjawab,
>tapi mungkin tidak ada alasan:
>"Wah... sori, saya tidak kenal Anda, Tuhan... soalnya dari kecil tidak 
>pernah diberitahu bagaimana dan apanya tentang Anda sih..."
>.... gawat kan?

Saya yakin dari sekian milyar manusia di dunia ini, ada sekian persen yang 
tidak memperoleh kesempatan untuk mengenal Tuhan, misalnya mereka yang 
dilahirkan di lingkungan Atheis, atau di lingkungan masayarakat yang tidak 
mengenal Tuhan.  Sebagian dari mereka tidak memiliki Agama, dan tidak 
mengenal Tuhan melalui Agama tersebut, itu bukan karena kemauan mereka 
sendiri lho.  Namun saya yakin Tuhan mengenal mereka, selanjutnya bagaimana 
Tuhan menyikapi mereka.....  wah saya nggak tahu.......  kebesaranNya 
terlalu Agung untuk bisa dimengerti dan ditampung oleh otak saya.

Nah udah sampe sini , kayanya udah melenceng dari LoVe deh, jadi sekian dulu.

Mohon maaf buat yang nggak berkenan dengan posting ini, tapi buat yang 
minat untuk tukar pikiran lagi silakan kirim ke japri aja.

Salam


- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke