Sorry, saya ingin mengutarakan sesuatu yang mungkin bagi beberapa orang akan
salah tangkap atau tidak langsung mengerti. But I'll do my best, ... soalnya ini juga
udah lumayan lama ada di benak saya.

Saya ingin berangkat dari ekspresi pada lirik-lirik lagu yang ... kini akan dengan 
mudah kita katakan sebagai cengeng, tidak konstruktif, tidak menunjang pembangunan
(kata semangat zaman Harmoko ... :-), mendayu-dayu, lembek ... tidak bersemangat,
dsb. Yang saya maksud tentu lirik-lirik lagu yang secara esensial membawa ungkapan
seperti :
- I can't live without you (yang kalo dalam bahasa Inggris kurang kerasa cengeng ..)
  --> aku tak bisa hidup tanpamu
- aku hancur tanpa cintamu 
- hidup tak berarti tanpa dirimu
- kulakukan segalanya demi dirimu
- .............
Barangkali semua itu hanya lirik-lirik yang hipotetis aja, dalam arti saya nggak 
ngambil dari lagu tertentu, tapi saya yakin ungkapan-ungkapan itu sangat tipikal
pada beberapa lagu pop.

Saya ingin sekali melihat kembali semua penilaian, kesan, umpatan, bahkan mungkin
makian pada ungkapan-ungkapan lirik seperti itu. Apa bukan tidak mungkin bahwa
ada kecenderungan kesan negatif pada itu karena kita sudah overload dalam menerima
ungkapan seperti itu ? Ingat bahwa di sini saya tidak memberikan overall judgement.
Barangkali udah bisa ngerti sendiri apa yang saya maksud, ... saya menunjuk pada 
lagu-lagu yang mungkin akan mudah disebut cengeng dsb ... karena adanya ungkapan-
ungkapan tipikal semacam itu.

Salah satu pertanyaan yang mungkin bisa diajukan :
apakah tidak pernah sedikit pun terbersit bahwa dalam hidup kita pun ungkapan seperti 
itu 
sekali-kali pernah punya relevansi dalam hubungan kita dengan orang lain ?

Saya bukannya mau memberikan pembelaan pada lirik-lirik lagu yang disebut cengeng,
itu hanya saya jadikan titik berangkat. Maksud saya adalah ... bahwa sebagai sebuah
bagian dari prinsip hidup, barangkali bisa dikatakan 'silly' kalau kita mau 
menggantungkan
hidup kita pada orang lain (kita nggak bisa hidup tanpa keberadaan orang lain), tapi
menurut saya keberadaan orang lain boleh jadi sangat eksistensial bagi seseorang,
sehingga begitu menentukan keberlangsungan hidupnya, kualitasnya, nilainya, maknanya 
...

Ambil contoh, misalnya Paul McCartney, yang setelah meninggalnya Linda istrinya, konon
ingin bunuh diri. Barangkali ada banyak contoh lainnya.

Ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan dalam kaitannya dengan ini :

1. apakah dalam situasi / nuansa pergaulan Indonesia kita ini ekspresi permaknaan
    atau penghayatan hubungan dengan orang lain itu pantas kalau diungkapkan
    dengan kata-kata seperti di atas ?
   atau ... bagaimana cara mengungkapkan maksud ini dalam konteks Indonesia
   yang suasana pergaulannya seperti ke barat-baratan is OK tapi nggak 100 % barat
   (gue mau bilang pascakolonialisme, tapi takut nggak dimengerti)

2. modus penghayatan orang pada pasangannya kadang suka bikin gue curiga. Ada
   yang pacaran atau nikah hanya demi menjaga status, supaya nggak sendirian, karena
   harta, ... padahal sebenernya salah satunya nggak cinta-cinta amat. Emang orang
   punya kebebasan dalam menentukan modus penghayatan hubungannya dengan 
   pasangannya ... TAPI ... apakah sebaiknya hubungan romantik dengan seseorang
   harus sampai pada taraf penghayatan itu ?
   Di satu sisi gue mikir, doi kan orang yang bakal hidup dengan gue SEUMUR HIDUP.
   Tapi Brian May bilang "too much love will kill you anytime" ... :-(

3. manifestasi kongkrit penghayatan seperti itu pada orang yang kurang berpengalaman
    atau kurang wawasan adalah ... timbulnya SIKAP POSESIF. Kalau dalam sebuah 
   hubungan romantik tercuat keluhan adanya sifat posesif, berarti hanya salah satu
   dari dua orang itu yang punya penghayatan cinta yang intens pada pasangannya.
   Soalnya kalau dua-duanya saling posesif, sejelek-jeleknya mutual possessiveness 
   bisa punya arti bagus untuk survivenya hubungan.
   Gila ! sementara pikiran kita yang berpendidikan ini selalu memberi ruang kebebasan
   bagi orang lain ... gimana ya kalau sial, karena mungkin ternyata hanya kita aja
   yang punya penghayatan yang intens pada betapa bermaknanya dia dan hubungan
   kita dengan dia ? 
   Singkat kata, bagaimana sikap yang harus kita kembangkan kalau kita terlalu takut
   kehilangan dia, sementara dia mungkin menganggap semuanya biasa-biasa aja ?

Thanks ... dan sorry kalau kepanjangan.

Tom




----
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke