----- Original Message -----
From: "Yenn M" <[EMAIL PROTECTED]>
> Wah, akang Tom kasih topik yang beurad nih ..
> jadi takut ah ngomentarinnya :)
> But well, lemme give comments a lit' bit..
Sorry, mungkin hanya bahasa pengungkapannya. Saya nggak bisa lebih sederhana
dari itu ... tapi namanya juga kita harus terus mengungkap segi-segi halus dari
hubungan kita ... apalagi memperkaya nuansa cinta pada dunia Indonesia ...
Soalnya inginnya sih menuju love yang pengertiannya lebih luas dan mencakup.
> TIDAK!
> asli lo bakalan dibilang "Ah Gombal kamu!" :)
> tapi yah, balik ke masing2 individu juga,
> kalo memang pasangan kita merasa perlu kita
> ungkapkan itu, ya keluarkan saja..
Sudah lama saya berpikir bahwa ini barangkali masalah bagaimana kita menghayati
bahasa Indonesia dan dunia yang kita bahasakan. Saya ngerti kalau jawabannya
'tidak' ... tapi sekaligus berharap bahwa pelan-pelan orang Indonesia bisa berevolusi
untuk akhirnya bisa menemukan ungkapan-ungkapan yang pas.
Menurut saya sih, indahnya hubungan antar manusia itu bisa terwujud kalau antara
lain masing-masing bisa ekspresif tentang perasaannya. Cuma gimana caranya supaya
tidak 'gombal' itu masalahnya.
Masalah kenapa kita bisa sampai menilai itu sebagai 'gombal' juga bisa merupakan
masalah kesadaran kolektif yang lain.
> mengapa harus diungkapkan?
> apakah tidak cukup dengan tindakan aja?
> seperti kata Extreme juga kan, 'more than words' :)
> kalo mau, pake cara yang lebih lembut aja ungkapinnya,
> lewat lagu, atau lewat puisi.. dan katakan pada dia,
> bahwa itulah ungkapan isi hati terdalam .. hehehe
Iya betul dengan tindakan. Tapi salah satu ciri orang yang berbudaya adalah penggunaan
simbol-simbol. Bukannya saya mau mengatakan bahwa kalau orang langsung bertindak
tidak berbudaya, ... tapi kalau sesuatu diungkapkan dengan cara lain itu bisa menambah
kekayaan eskpresi, meningkatkan kemampuan empati, sarana untuk saling memahami,
dan sebagainya.
Tapi memang kalau terlalu banyak ngomong tapi nggak ada tindakan nyatanya juga
jelek.
> kalo situasinya udah begini, ya samakan persepsi lah ..
> atau istilah kerennya, 'samakan frekuensi' masing masing ..
> biar kita tahu bagaimana sih sikat dia, dan sebaliknya ..
> biar masing2 tahu resikonya kalo hal terburuk terjadi
> biar berdua bersama menjaga agar tetap bersama .. :)
Easier said than done ... ada yang pernah bilang ke gue, kalo kita suka
sama seseorang dan akhirnya jadian, sebaiknya jangan terlalu menunjukkan kalau
kita terlalu butuh sama dia ... kita bisa jadi rentan untuk dikerjain oleh dia.
Tapi emang kadang susah menipu diri (atau lebih tepatnya mengatur diri).
Thanks for the comments,
Tom
----
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]