Mas Irwan,
Maaf saya lagi agak sibuk. Jadi jawaban saya tidak bisa terlalu detil.
Karena kalau mau detil saya harus membongkar2 pustaka dan data.

Begini. CMIIW. BPS itu melakukan susenas (survey sosial ekonomi nasional).
Sampelnya kl 280 ribu RT yang sama. Modul konsumsi diambil dari sub-sampel
yaitu 68 ribu RT yang tiap tahun ditanya bagaimana konsumsinya satu tahun
terakhir. Dari situ dihitung berapa persen yang dibawah garis kemiskinan (yg
ditentukan). Kemudian ditarik ke populasi. Perhitungan kemiskinan ini
dilakukan dalam periode 1 tahun.

Jadi kalau kita mengatakan hasil perhitungan 2007 BPS bohong dg alasan:
- inflasi diluar jangkauan KITA
- upah kita tidak naik
- BBM menyebabkan orang2 miskin tambah susah
- harga minyak goreng naik

Argumen diatas mungkin benar, tapi tidak berarti mempengaruhi hasil
perhitungan BPS, karena memang tidak berkorelasi dg perhitungan.
- Inflasi yang kita rasakan bisa jadi bias (atau kita membandingkan data
diluar periode mar 06 - mar 07)
- Sampel 85% bukan pekerja formal. (artinya orangnya beda)
- Dampak hebat BBM sudah terserap ekonomi pada periode 2 tahun yl, bukan
periode perhitungan yg sekarang.

Semoga mengerti maksud saya.

Saya tidak membela BPS. Saya cuma mau mendudukkan porsinya: Yang anda protes
itu definisi miskinnya atau spt yang TIB bilang: BPS bohong?

Yang saya tulis diatas membantah (kalau bisa dikatakan demikian) argumen
untuk tuduhan BPS pasti bohong (http://tinyurl.com/ypa2xk). Dan saya tidak
bilang apa2 ya soal kompetensi teknis BPS. Ok?

Tapi kalau orang protes soal definisi miskinnya BPS yang tidak mencerminkan
realitas kemiskinan, saya tidak ikutan.
Lha beda definisi je.. silahkan berbantahan dg orang yang definisinya sama
tapi hasilnya beda.

Sekali lagi bagi saya: rilis BPS ini estimasi berdasarkan definisi mereka.
If you don't like it don't use it.
WB juga mengestimasi pakai metode yang beda. Tahun lalu SMERU juga
mengestimasi pake metode yg beda juga (bukan konsumsi).
Bagi saya sendiri, ini angka estimasi yang "-among other estimates-
necessary but not sufficient ".
Kalau saya ditanya berapa sih jumlah estimasi orang miskin di Indonesia?
Maka akan saya jawab: menurut estimasi siapa?
Karena masing2 estimasi mempunyai definisi yang berbeda.

(Ini yang saya lihat terjadi: BPS ngeluarin jeruk dan bilang: ini jeruk.
TIB bilang: anda pembohong, itu apel busuk. Ini yang bagus... sambil
mengeluarkan apel. Piye tho..)

Kesimpulan saya: tidak usah disikapi berlebihan. Pemerintah dan oposan juga
jangan menggunakannya berlebihan. Memangnya siapa yang bisa menghitung
jumlah orang miskin secara tepat?


- Kenaikan patokan kemiskinan lebih memungkinkan tingkat kemiskinan
naik/turun?
  Lebih besar yang mana - kemungkinan naik atau turunnya? Bukan sekedar
mungkin/
  gak mungkin, yang bisa 0 dan 1 - true or false.. tapi range
probability-nya..
  lebih besar yang mana?

Quote:
"..
Sekarang kalau misal inflasi mar 06-07 < inflasi mar 05-06, dan
pengeluaran kita kontrol dg meng-adjustnya thd inflated poverty line (dari
152 rb ke 166 rb atau naik 9.67%).
.."

- Bisa tolong dijelaskan soal 'adjust' di atas, maksudnya apa ya, Mbak
Fau?


Inflasi year-on-year maret 2006: 15.74%, maret 2007: 6.3%
Jadi kalau tidak ada yg berubah, dan kita anggap konsumsi orang miskin
sepenuhnya tergantung inflasi, maka jumlah orang miskin mestinya berkurang
banyak toh? (dg inflasi 15% ada x orang miskin, nah dg inflasi cuma 6%
jadinya ada pengurangan orang miskin, ini logika lucu2annya).
Tapi miskin tahun lalu beda dg miskin tahun ini (mempertimbangkan inflasi
thd konsumsi), jadi garis kemiskinan disesuaikan thd inflasi dg menaikkannya
lebih tinggi sebesar 9.67%. (mas Ikhsan menganggap ini terlalu tinggi)
Sekali lagi, kalau tidak ada yang berubah (ceteris paribus) dan kita anggap
konsumsi orang miskin sepenuhnya tergantung inflasi, tetap saja ada gain
dari selisih inflasi 2 tahun ini. (karena 9.67% < 15%)

Supaya tidak disalahpahami, saya tidak bilang itu metodenya BPS ya... cuma
ilustrasi bahwa ada kemungkinan gain disebabkan inflasi yg lebih rendah
walaupun poverty line dinaikkan.

Lha saya sendiri ngga pegang datanya BPS. Seharusnya orang BPS nih yang
jawab ini.


- Kenaikan BBM terakhir kalo gak salah akhir 2005-an.. Bukan ini poinnya
Mbak..
  Tapi, di Indonesia kan prestasi pemerintah (siapapun) setiap naikin
harga BBM, 'berhasil
  menaikkan' harga barang" lain.. Itu poinnya.. termasuk kenaikan" harga
barang menjelang/
  selama hari raya.. yang umumnya menjadi kenaikan permanen.. Plus modus
kelangkaan
  barang, sebagai 'penekan'/justifikasi kenaikan harga selanjutnya..

- Tapi dari pengalaman (maklum bukan peneliti/akademisi), kenaikan harga
barang"
   jauh lebih besar dari tingkat inflasi (resmi) pengumuman pemerintah..
   Ini faktanya, bukan sekedar feeling doank.. emangnya dik doank... :-)




Ini masalah definisi lagi. Inflasi dalam definisi subjektif kita adalah
harga beras, harga makanan warung/resto, harga gas, harga susu, harga
bensin, SPP, dsb.
Tapi kan komposisi konsumsi saya beda dg anda, dg tetangga saya, dg saudara
saya, dst. Sekarang kalau menghitung inflasi berdasarkan pola konsumsi saya,
mungkin bisa jadi kontribusi kenaikan harga beras  2%, buku 30%,
transportasi 30%, lensa 20%, pasta/roti 5%, ayam 5%, hiburan 3%. Karena
mungkin spt itu pola konsumsi saya 1 thn terakhir. Jadi saya merasa "miskin"
jika harga buku dan lensa naik, tp tidak terpengaruh dg harga beras (terus
terang saya beli beras untuk sendiri cuma 2 kg/bulan).
Nah, orang lain kan protes. Karena beda pola konsumsi. Belum lagi beda
tempat belanja yang menyebabkan beda harga.

Tapi kan harus ada satu angka. Kalau tidak ya semua orang ngotot dg angka
subjektif masing2. Jadilah dibikin bracket konsumsi, dg pembobotan masing2
komoditi (sekitar 300-400 komoditi disurvey di 45 kota). Dari situ dihitung
CPI dan inflasi rata2. Lagi2, metode perhitungan pun sebenarnya banyak, saya
lupa yang mana yg dipake BPS (kalau tidak salah gabungan aritmetik dan
geometrik), tapi seingat saya ada penjelasan metodenya di modul
perhitungannya.

Sekarang poinnya: inflasi yang diumumkan pemerintah terasa tidak cocok dg
yang saya alami. Jelas kan, karena memang itu bukan inflasi saya saja.
Tapi angka itu tetap diperlukan, karena jika konsisten (metodenya selalu
sama), indikator tsb akan mencerminkan perubahan time to time. Ya kan?
Inflasi lebih tinggi atau lebih rendah year-on-year. Bukan inflasi saya
lho.. inflasi rata2 (makanya definisinya juga: general increase in prices of
goods and services). Ekonomi kan pakai asumsi dan proxy.

Sekali lagi, ngulang dg soal kemiskinan ini. Angka itu perlu tapi tidak
cukup dan bukan angka absolut. Mengerti definisinya sebelum menghajarnya
atau menggunakannya berlebihan. Semua harus digunakan "dalam kapasitasnya."

Just my two-cent.

salam,

fau

Kirim email ke