On Sat, 13 Oct 2001, elang gunung wrote:

> > serba di"suapin", lha dari SD sampai SMA dididik
> > untuk disuapin, masak di
> > kuliahan "ujug-ujug" bisa nggak disuapin).
> > Pengalaman saya dalam mengajar biasanya tidak lebih
> > dari 20% mereka yg
> 
> tugas dosen kan salah satunya memotivasi mahasiswa
> untuk mau belajar.

Hm.. kalau kita berprinsip ini, artinya kita kembali lagi kepada paradigma
bahwa "mahasiswa itu belum cukup dewasa" dan masih perlu di"dorong-dorong"

Jadi dilema khan.. kalau kita ingin menganggap mahasiswa dewasa, maka kita
harus "memberikan lingkungan" yg mendorong kedewasaan, artinya jangan
di"tarik-tarik" didorong-dorong.  tapi biarkan mahasiswa tumbuh tanggung
jawabnya sendiri, dan memotivasi dirinya sendiri (seperti di Jerman,
Swiss, Austria, Skandinavia... ).

Nah sehingga menurut saya, bila dosen itu "terlalu" memaksaan memotivasi
maka artinya dia sendiri tidak memberikan kesempatan mahasiswa untuk
dewasa 8-)

Memang menjadi sulit dalam situasi seperti di Indonesia, karena mahasiswa
itu masuk dari SMA dengan latar belakang "kedewasaan" seperti itu (masih
berharap didorong-dorong, diajari satu persatu, didiket di depan kelas,
dlsb...).  Tetapi kalau Universitas juga "terlena" maka sampai th 4
mahasiswa sulit untuk berubah menjadi "dewasa".

Oh ya memotivasi tidak hanya dg cara "memberikan sesuatu yang diharapkan"
8-).  Sering malah dimulai dg cara yang sama sekali tidak disukai atau
diharapkan.

> cuma ada sedikit dosen aja yang bisa itu. laen nya
> kalo ngasih kuliah kesannya monoton. mangkanya
> kesempatan buat ngobrol n buat ngantuk tuh lebih
> banyak. intonasi suara ngaruh lo pak 

Kalau ini bukan masalah motivasi, ini masalah intonasi 8-).  Banyak
Profesor top yang pintar memotivasi kalau sedang riset, tapi kalau
presentrasi membosankan.  Di Jerman sendiri.. banyak Profesor top kalau
ngasih kuliah "membosankannya" minta ampun. Tapi mahasiswa yang hadir
kuliah tetap semangat, dan tetap bisa "pintar".

Sekali lagi tinggal kembali kepada mahasiswa, apakah "rela" menjadi korban
dari situasi yang menempatkan dirinya sebagai orang "kurang dewasa" atau
rela menjadi orang dewasa dengan segala resikonya (termasuk harus
memotivasi dirinya sendiri).

> > Nah justru itu yg menjadi "tantangan" bagi sang
> > dosen adalah bagaimana dg
> > situasi yang 80% tak "mendengarkan" itu bisa
> > berubah, minimal jadi 50% aja
> 
> setuju... harusnya yang disaring ketat itu calon
> dosenya bukan mahasiswanya. la wong kita belajar
> karena kita belum bisa kok. 

Masalahnya kembali lagi siapa yang mau jadi dosen 8-) dengan segala
keterbatasannya ????? (bukan saja dari sisi duit lho, tapi dari sisi
"bathin"..he.hehe. ).  Jangankan jadi dosen, "membagi ilmu kepada adik"
kelas aja masih sedikit yang melakukan (coba itu alumni yang udah lulus,
sekolah di Luar Negeri yang katanya "Uninya" jauh lebih bagus dari
Gunadarma) mbok bagi-bagi ilmu ama adik kelasnya.

Nggak usah muluk-muluk, Daripada mikirin atau mengharapkan perubahan yang
sebetulnya berakar dari "masyarakat" kenapa kita tidak lakukan
langkah-langkah "sederhana" yang dapat kita lakukan sendiri dan bisa
memperbaiki situasi....

Hayo.. saya tantangin pada alumni atau lainnya siapa yang berani
melakukan.... Minimal menulis apa yang dia pelajari di "luar sana",
sehingga bisa dibaca oleh adik-adik kelasnya....   (oh ya cara ini saya
contek dari orang Jepang dan Korea untuk "maju bersama", yang di LN jadi
kepanjangan "mata" dari yang di dalam negeri).

Oh ya, kalau balasannya "almuni tak bertanggung jawab, karena itu adalah
tanggung jawab Uni". Artinya memang kita masih menganut bahwa tanggung
jawab pendidikan itu adalah "hanya" di tangan Uni, bukan di tangan
masyarakat (alumni, industri adalah bagian dari masyarakat).

Oh ya di negara maju tanggung jawab pendidikan itu adalah di masyarakat,
itu yg membuat Profesor, orang industri, alumni masih sering ke kampus
untuk mengajar (sering nggak dibayar), untuk membagikan ilmunya.... 8-)

> > yang malas atau bodoh".  Yang ada adalah mereka yang
> > "rela" jadi korban
> > keadaan he.he.he.he.h.he (misal temen-temen bilang
> > ngapain belajar,
> > ikut-ikutan nggak belajar...dll)
> 
> gue nggak rela belajar di kampus yang monoton. lagian
> QBasic, cobol dkk masih aja dipelajari, mendingan kan
> dari kelas 1 sampe kelas tua belajarnya bahasa c aja
> jadikan kita jago. walau pun cuma satu (ato 2 sama
> bahasa rakitan lah) bahasa pemrograman aja tapi kan
> kita jago.....

Lho. .kata siapa COBOL nggak dipakai ?????? ati-ati bicaranya..he.he.h.eh
big company, dan critical application masih banyyaaaaaak yg jalan pakai
COBOL....   Di Universitas saya dulu, kita dapat dari PL/I, Cobol, Pascal,
Ada, dll... terutama dalam pelajaran "Principle Programming Language".

> kebanyakan elmu tuh. masak semua bahasa pemrograman
> dipelajari..... tapi gue yakin tidak ada satupun yang
> dikuasai bener-bener.

Belajar bahasa pemrograman itu bukan sekedar untuk menjadi trampil bahasa
pemrograman tersebut (misalnya ngapain belajar Scheme, LISP, Prolog lha yg
pakai sedikit).  Tetapi memberikan suatu dasar pemikiran agar bisa
diterapkan dg mudah untuk mempelajari bahasa lainnnya

Sebagai contohnya di Zurich, mahasiswa banyak belajar dg baas OBERON atau
MODULA 8-).  Tetapi dari mahasiswa yg seperti ini, lahir mereka yg sekaran
jadi desinger di Java dan C#  (silahkan baca The School of Niklaus Wirth)

> > "tertimbun kesannya" oleh yang 80%.  Sehingga dosen
> > juga menilai mahasiswa
> > seperti yang "80%" itu..
> 
> tapi biasanya yang 80% (yang males masuk) itu jago
> diluaran lho. ipk mungkin kecil tapi kemampuan gue
> nggak mau ngeraguin mereka tuh. 

Hm.... jago apa ????? mungkin dari 80% itu hanya 5% yg jago secara
praktis...   Ini berdasarkan itungan kasar saya.   Memang banyak yg jelek
IPKnya tapi trampil atau jago dalam sehari-harinya tetapi jumlah ini
relatif kecil....

> > semakin tidak bisa strict (dalam bentuk Uni ideal,
> > maka dosen itu tidak
> > bisa "diperintah oleh REKTOR").
> 
> mahasiswa juga sebaik-nya kuliah asal silabus, materi
> kuliahnya di perbaiki dululah. 

Silabus dan materi kuliah tidak berbeda jauh koq 8-),. kalau anda melihat
silabus di Universitas asya sini bisa "kaget berdiri".  Anak Informatika
dapat "fisiologi", "linguistik", "phonetik" .he.he.he.he

Silabus, dan materi kuliah itu bukan segalanya sekarang (lha tinggal liat
URL semuanya ada, sebagai contoh link ttg OS yang ada).  Pada zaman
sekarang ini malah peranan mahasiswa (menunumbuhkan kedewasasan mahasiswa
agar bisa memotivasi dirinya untuk belajar, membentuk komunitas utnuk
saling belajar) adalah yang lebih penting.

Merubah Silabus, dan mata kuliah itu bisa cepat (1 minggu kalau mau...).
Perlu diketahui bagi GD mungkin untuk merubah silabus dan mata kuliah
pertimbangannya bukan cuma "sedikit" atau hanya lingkungan Gunadarma saja,
ini akan kompleks dan banyak faktor di luar Gunadarma. Saya sendiri pernah
duduk mewakili GD, di penentuan silabus mata kuliah ujian negara, sehingga
paham constraint yang ada.  Kalau GD merubah silabus, yang protest bisa
"seluruh Indonesia" (maaf sedikit hiperbolis)

Berbeda dg merubah silabus yang lebih mudah, merubah "mentalitas",
"pandangan mahasiswa" terhadap pendidkan itu sendiri membutuhkan waktu
yang lebih lama..,... (1 tahun mungkin tidak ada artinya)

> setau saya laboraturium kampus tertutup untuk
> penelitian mahasiswanya. kita boleh masuk ke sana asal
> ada jadwal praktikum doang. orang2 kayak gue yang
> enggak punya komputer sendiri dirumah. kayaknya boro2
> ngembangin system, yang ada aja susah untuk
> dipelajarinya.

Salah TOTAL.... bagi mahasiswa yg punya proyek penelitian mereak dapat
akses untuk fasilitas Internet dsb.  Banyak yg telah menerima hal ini...
8-)  Jadi memang pemberian fasilitas Internet ini bukan ke semua
mahasiswa, tapi di"khususkan" bagi mereka yg memang memiliki proyek
pengembangan (seperti yg saya dengar lagi ada sekelompok mahasiswa tahun
ke 2-3 yang aktif mengembangkan sistem email dg PKI, dan server
terdistribusi,, mereka ada sekitar 20 orang.he.he.)

Saya sendiri tidak heran keluhan bahwa tidak ada peralatan untuk mahasiswa
"riset" ini muncul.  Padahal pada kenyataanya banyak mahasiswa "mundur"
ketika di"tantang" mau melakukan pengembangan apa.... 8-)  Bahkan banyak
diantara mereka yang "mundur" karena tidak bersedia dijadwal penggunaan
peralatannya tsb (padahal gunanaya dijadwal itu biar, mahasiswa lain bisa
pakai, siapa yg bertanggung jawab jelas).

Sejak saya jadi staff asisten (89), tradisi memberikan fasiltias "lebih"
bagi mereka yg melakukan riset dan pengembangan sudah dilakukan di
Gunadarma... dan ini wajar seperti halnya di Uni-Uni negara maju
(he.he.he.).  Saya sendiri "masuk" ke Gunadarma karena sering melakukan
"riset" dan "pengembangan" (heh.eh.e. sampai pernah 3 bulan nginep di
kampus D Gunadarma Depok).

Bagi TIM PISANG BAKAR 8-) (era 96-an) mungkin bisa cerita lebih ditail
soal ini..he.he.he 

> > Saya ingat dulu GD masih sering mengirim surat
> > kepada mahasiswa yang
> > "nyaris dropout" 8-) ini khan suatu bukti juga bahwa
> > ada usaha dari Uni
> 
> kayak-nya nyindir nih. no commant ah

Bukan nyindir, tapi memang ini dilakukan... 8-)

> > sekali, karena dianggap menentang arus.  Akan lebih
> > mudah kalau ikut arus
> > juga 8-)
> 
> > Oh ya kritis tidak harus berarti "melawan" 8-)
> 
> kalo kita ngelawan arus, dan kita nggak kuat
> ngelawan-nya bisa-bisa kita malah keseret arus kan.
> tapi kalo kita ngikutin arus sewaktu-waktu kita nyampe
> juga kesebrang ato paling tidak kita tau posisi kita
> sudah seberapa jauh.  

Kalau ngikut arus, kesebarangnya seberang yg lain.  Kalau ngelawan arus,
minimal "otot "kita jadi kuat, dan minimal punya pengalaman ngelawan
arus.  Pengalaman itu mahal 8-)

IMW


* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke