On Mon, 15 Oct 2001, Avi Heidir wrote:

> > sekolah di Luar Negeri yang katanya "Uninya" jauh lebih bagus dari
> > Gunadarma) mbok bagi-bagi ilmu ama adik kelasnya.
> 
> hehehehe.... personally nyindir nggak sih??? Mudah-mudahan enggak ya. Tapi
> kalau pun iya, komentar ah...

Bukan nyindir tapi suata ajakan universal, kepada alumni manapun terhadap
universitasnya  (uni manapun).  Saya sendiri sangat "senang" kalau melihat
alumni Gunadarma yg membagi-bagi ilmunya tanpa ragu karena merasa ilmunya
masih pas-pasan (misal mereka yg rela menjadi dosen PTS jurusan komputer
di daerah-daerah, saya sering bertemu mereka.... salut buat mereka).
Membagi ilmu tidak perlu nunggu ilmu kita tinggi banget 8-)

> ini niatnya sih pingin belajar banyak dari anda2 semua... Coba anda lihat
> archieve MILIS ini, saya pernah komentar kok, ttg hal2 lain (copyright
> policy, trus... apa lagi ya?.. nggak banyak sih, kebanyakan ttg IS issue,
> bukan IT).

Membagi ilmu tidak harus "per se" pelajaran tertentu.  Ini bisa perihal
lain (termasuk kehidupan di tempat kuliah kita, hal yang kurang tepat
dsb..dsb).  Saya tidak menunjuk anda koq,.. kalau anda merasa ya maaf
aja.he.he.he

Saya cuma menunjukkan perilaku perbandingan "almuni" di sini dg alumni di
Gunadarma.  Banyak alumni yang rela  membagi ilmunya dengan berbagai cara
(ngajar tutorial, ngasih materi pelajaran, dsb).  Dengan cara itulah
mereka memberikan kontribusi nyata tidak sekedar "kritik tanpa solusi"
(maaf jangan ini dianggap suatu komentar defensif, saya hanya menyampaikan
perbandingan dg situasi di sini)

Saya seneng melihat alumni yg sering membagi ilmu baik melalui tulisan,
atau informasi di sitenya, atau di kegiatannya.  Dan bukan kepada
mahasiswa Gunadarma saja, tetapi kepada mahasiswa non Gunadarma. Ini
artinya Gunadarma "bermanfaat" bagi mahasiswa Indonesia 

> Hmmmm.... masyarakat itu khan juga termasuk mahasiswa, pengelola Gunadarma,
> dosen, alumni, dan masyarakat sekitar. Dan seperti kata anda semua punya
> 
> Nah kalo peran anda di MILIS ini memotivasi mahasiswa untuk rajin belajar
> dan jangan cengeng dan malas, peran saya (at least di diskusi ini) ya
> memotivasi dosen dan memberikan saran2 kepada pengelola Universitas.

Memilih peran seperti itu terasa seperti "enaknya" atau maunya kita
sendiri 8-).  Sepintas lalu sepertinya OK-OK saja, tetapi dengan cara itu
kita mudah terjebak kepada pertimbangan sekilas tanpa mencoba melihat hal
secara holistik

Sehingga pembentukan peran (misal sebagai orang yg kritis) harus juga
dilakukan secara menyeluruh terhadap permasalahann (misal ngritik masalah
kurikulum, dan silabus, tapi tidak mau memahami permasalahan perubahan
kurikulum terhadap kurikulum nasional...).

> Maksud saya memberikan kutipan dari 'Because the student' ya untuk mengajak
> dan menghimbau pihak universitas (dosen dan pengelola) untuk menomorsatukan
> mahasiswa. Kalau jawabannya pihak gunadarma sudah memperhatikan dan

Bagi saya "Because the student" artinya student yang menentukan 8-)
situasi pendidikan.

> Gunadarma lebih kompleks, saya rasa di sini juga lumayan kompleks. Coba
> bayangin, musti ngadepin International student dengan diverse background...
> apa lagi kalau ada international student baru yang Inggrisnya masih ancur...
> gimana nggak frustrasi, komunikasi aja susah... tapi ya itu kesadaran staff
> dan dosen di sini untuk menomorsatukan hak mahasiswa tinggi <-- ini akibat
> dari pihak pengelola juga memperhatikan keluhan dosen.

Hm.. silahkan anda lihat lebih dalam lagi.  Bagaimana "perilaku mahasiswa
terhadap peraturan", "ratio pendapatan vs pengeluaran", "aturan dan
komplektitas", "kemampuan pembiayaan dari mahasiswa"  dll.  Saya mengamati
kompleksitas di Gunadarma lumayan tinggi (saya termasuk sering mengamati
manajemen pendidikan, dan tergolong rajin melakukan studi banding
terhadap berbagai Uni di berbagai negara).

Sebagai contoh, apakah Fresno punya "constraint", aturan seperti dari
KOPERTIS, dari DIKTI ? (paling dari Acreditation Board) untuk
kurikulumnya.  Mudah-mudahan anda mengerti apa yang saya maksud 8-)
Karena anda khan pernah jadi staf pengajar, mudah-mudahan waktu jadi staf
pengajar udah sempat ikut rapat silabus.

Lalu dalam permasalahan mencari dosen, jelas Fresno lebih mudah daripada
Gunadarma 8-).  Pertama ketersediaan "dosen" yg menguasai bidang tertentu,
Kedua "kesediaan" orang itu untuk menjadi dosen.  Status dosen yang masih
dianggap "pekerjaan tak bergengsi" di Indonesia menjadikan Gunadarma
memiliki kompleksitas lebih tinggi ketimbang Fresno dalam memperoleh
dosen. Jadi ini masalah pada "masyarakat" bukan hanya di Gunadarma. 

Belum masalah pengadaan peralatan Lab, pengembangan kurikulum, pegenbamgan
materi buku, dll he.h.he. saya bisa list kompleksitas satu-satu, dan saya
tunjukkan komplekistasi di GD akan lebih tinggi.  Sebagai contoh ketika
menghadapi "mahasiswa":  Apa di Fresno ada mahasiswa yg "ngisengin Lift
biar tombolnya macet ?, apa ada mahasiswa yang "nyopotin kepala printer,
nyopotin tombol keyboard ?,  Saya sering duduk di kampus D kalau lagi
pulang ke Jakarta (kebetulan mahasiswa sekarang sudah nggak kenal saya
lagi, jadi enak nongkrong tanpa dikenal).  Sering saya harus "mengelus
dada" membayangkan kompleksitas dosen yang harus menghadapi mahasiswa
seperit ini.  Saya sendiri merasa, jadi dosen di USA, UK, AUS, Jerman
lebih mudah daripada di Gunadarma 8-)   Terutama dari sisi menghadapi
mahasiswanya...  

Situasi di Gunadarma juga disebabkab beberapa hal yang di luar wewenang
Gunadarma untuk mengaturnya. Mungkin karena anda sudah tidak terlibat di
dalam jadi sulit melihatnya.  Kalau anda ingin melihat sekilas,. silahkan
balik ke kampus, lihat kompleksitas "tugas seorang dosen yang lagi
menghadapi mahasiswa mengumpulkan tugas, atau lainnya". Bandingkan dg
komplekitas tugas dosen di sana.  Bukan berarti ini merupakan suatu
pernyataaan agar kondisi sekarang tidak perlu diperbaiki, tetapi sebaiknya
agar kita melihat permasalahan secara lengkap.

Menomor-satukan hak mahasiswa bukan selalu diimplementasikan memberikan
apa yang dimaui mahasiswa 8-) 

Soal student baru bahasa Inggris masih ancur, itu jauh lebih mudah.
Dibandingkan situasi rumit yang disebabkan oleh pola pandangan masyarakat
(sifat mahasiswa ingin serba instant, lepas tanggung jawab masyarakat pada
pendidikan, sulitnya mencari dosen..he.he.he. hayo.. mau nggak jadi dosen
?).

> it's because I CARE, lagi pula ngapain juga ikutan MILIS ini kalau udah
> nggak care sama Gunadarma, menu-menuhin inbox aja. Khan ceritanya pingin
> sumbang saran supaya Gunadarma semakin maju. Itu bentuk tanggung jawab saya
> terhadap dunia pendidikan terutama Gunadarma. Go Gunadarma! ... lho???!
> hehehe... Lagi pula nanti kalau balik, khan masih pingin ngajar lagi (Semoga
> tawaran pihak sekolah masih berlaku walaupun udah ngritik2 gini...)

Mengkritik dengan tanpa jalan keluar yang aplicable dan tanpa melihat
kompleksitas masalah secara holistik akan terdengar seperti "asal kritik".

Suatu kritik yang konstruktif sebaiknya disampaikan dg suatu saran yang
memang applicable, dan didasari oleh analisis yg menyeluruh dari
permasalahn tsb.  Bila hanya melihat hanya satu komponen saja, maka
relatif kritik tersebut seperti "menembak angin".  Istilahnya seperti
analisis SWOT lah (jangan S aja, atau W aja, tapi seluruhnya).

Maaf kalau saya berharap terlalu tinggi dari anda, tetapi melihat bahwa
anda sudah belajar lebih jauh, seharunya bisa "menarik" diskusi ini ke
level yang lebih jauh dan bisa diterapkan agar bisa bermanfaat bagi orang
banyak (alias mahasiswa), Apakah itu, nanti saya ungkapkan di posting
terpisah 8-) Bukan sekedar mengungkapkan fakta (atau kritik) yang
kebanyakan orang sudah tahu.  


IMW




* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke