Salam, Ternyata bagi Islam MEDAN PERANG ada DI-MANA2. Juga tidak ada perbedaan antara tentara dan polisi , karena semua membawa senjata dan tyindakannya sama.Sedangkan Abubakar Baasyir yang menulis buku tentang jihad dan medan perang yang SEHARUSNYA di luar Indonesia, buku dan orangnya tidak ditindak meskipun menjdai inspirasi kaum teroris.Tetapi buku Pak Dharmawan tentang jalan keTuhan, dilarang Kejaksaan. Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Rab, 17/3/10, muskitawati <[email protected]> menulis:
Dari: muskitawati <[email protected]> Judul: -:: Milist NB::- Dulmatin Terorist Yang Dikejar Dunia Bukan Martir !!! Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 17 Maret, 2010, 2:21 PM Dulmatin Terorist Yang Dikejar Dunia Bukan Martir !!! Dulmatin bukan martir, karena kalo martir itu matinya dalam peperangan bukan mati konyol di-uber2 lari dan mati ketembak polisi. Meledakkan bomb ditengah kumpulan penduduk sipil = terorist. Kalo martir atau pahlawan meledakan bomb ditangsi tentara penjajah bukan ditengah pasar yang enggak ada tentaranya. Berita resmi sudah jelas, Dulmatin itu terorist sama sekali bukan pahlawan. Karena kalo pahlawan tentu membela orang banyak, sedangkan Dulmatin sama sekali bukan membela orang melainkan membela dirinya sendiri yang di-uber2 polisi karena terlibat dalam peledakan bomb teror membunuh orang2 yang tidak bersalah kepada dirinya atau kepada orang banyak. > "Iman K." <alexander_soebroto @...> wrote: > salahkah masyarakat yang memakamkan > keluarganya yang ditembak polisi tanpa > proses pengadilan itu? apakah mereka > punya persepsi yang sama dengan polisi > itu bahwa dulmatin atau siapapun itu > adalah teroris? tidak ada pengadilan > yang membuktikan bahwa dulmatin itu > teroris, karena keburu ditembak. > Keluarga terorist yang memakamkan si terorist sama sekali tidak salah, bahkan memang kewajibannya karena kalo tidak mau memakamkannya maka akan dibakar dan abunya dibuang kelaut sebagai mayat yang tidak dikenal keluarganya oleh pemerintah. Semua pelanggar hukum harus diadili oleh pengadilan, tetapi kalo terorist yang melanggar hukum dan melawan waktu mau ditangkap, maka wajar kalo ditembak mati.... dan begitulah caranya dimanapun diseluruh dunia. Jadi bukan tidak diadili melainkan menolak untuk diadili. Masalah pembuktian Dulmatin terorist secara pasti sudah terkumpul barang2 buktinya oleh pihak kepolisian. Jadi secara hukum prosedurnya adalah polisi mengangkapnya dulu dan kemudian menyerahkan kepada pengadilan untuk diadili. Dan kemudian hakimlah yang memutuskan berapa besar hukumannya. Tetapi karena pelaku terus2 kabur tidak mau menyerahkan diri untuk membela dirinya dimuka pengadilan, bahkan berusaha menembak polisi, maka syah apabila polisi menembak peringatan dulu untuk kemudian menembak mati apabila si pelaku tidak mau menyerah. Polisi tidak boleh resiko sehingga sipelaku sempat menembak mati polisinya karena sipelaku sudah berulangkali meledakkan bomb2 yang korbannya sudah ratusan orang sehingga jangan sekalipun lengah. Sipelaku menolak menyerah, yaaaa..... tembak mati tak bisa kompromi. Tembak mati pelaku kriminal yang melawan aparat juga sudah merupakan prosedur hukum yang syah, karena tugas polisi adalah menangkap sipelaku untuk diadili dalam melindungi masyarakat yang tidak berdosa. Jadi masalah ini sama sekali tidak perlu diperdebatkan. Ny. Muslim binti Muskitawati. ____________________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/
