tenang sobat saya tidak sewot bahkan saya menjadikan tulisan2 yang isinya ya 
begitulah sebagai penghilang stres dalam bekerja soalnya lucu pisan,apa lagi 
ada yang kasih info dia tinggal di amerika, huahahahhahahahahahhaa itu lebih 
lucu lagi jadi akan saya tanggapi dengan gaya yang demikian juga, saya berharap 
jawaban saya yang begitulah bisa membuat kawan2 yang lain tersenyum manis 
meskipun hanya sedikit, ngapain kita ambil pusing, kita baca, lalu tertawa, ada 
orang amerika abal2 yang membahas sesuatu yang demikian, jadi mari kita simak 
dan tertawa, akukan anak manis jadi nggak mau emosi ah, heheehehheh.





________________________________
From: muhamad.syukur <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, April 12, 2010 9:33:46 AM
Subject: RE: -:: Milist NB::- Apakah Islam Bisa Maju ???

  
Mas Aris,
Jangan sewot nanggapin orang kayak mereka,
memang seperti ini tujuannya
Membuat orang islam marah dan masuk
keperangkap mereka
Ingat kata pepatah jawa aja “ YANG WARAS
NGALAH” mengalah dalam artian abaikan aja
Karena kalo di diemin, ga
di respon 
Akan capek sendiri mereka
 
Padahal kucing yang lagi
sakaratul maut (kiasan) juga tau, ketika islam datang di arab sana merubah
kejahiliaan yang ada kearah fitrah manusia
 
INDAHNYA ISLAM
MEMULIAKAN WANITA
Sebelum Islam datang, bangsa Arab memperlakukan perempuan sebagai manusia 
yang bernilai rendah. Kaum perempuan saat itu dianggap sebagai harta benda 
yang bisa diwarisi. Jika seorang suami meninggal maka walinya berhak 
terhadap istrinya. Wali tersebut berhak menikahi si istri tanpa mahar, 
atau menikahkannya dengan lelaki lain dan maharnya diambil oleh si wali, 
atau bahkan menghalang-halangin ya untuk menikah lagi. 


Bayi perempuan dianggap sebagai aib, sehingga orang Arab Jahiliyyah 
mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang baru lahir. Namun Rasulullah saw. 
datang membawa risalah Islam untuk melenyapkan semua bentuk kezaliman 
tersebut dan mengembalikan hak-hak kaum perempuan. 
Tindakan yang memeras dan mengeksploitasi hak-hak kaum perempuan, semua 
dihapus. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam QS. an-Nisa’ ayat 19: 


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَرِثُواْ
ٱلنِّسَآءَ كَرۡهً۬اۖ وَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ لِتَذۡهَبُواْ بِبَعۡضِ
مَآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ إِلَّآ أَن يَأۡتِينَ بِفَـٰحِشَةٍ۬
مُّبَيِّنَةٍ۬ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن
كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔ۬ا وَيَجۡعَلَ
ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرً۬ا ڪَثِيرً۬ا


“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita 
dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak 
mengambil kembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, 
terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata dan bergaullah 
dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, 
(maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal 
Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” 

Rasulullah saw. juga bersabda: 

“Barangsiapa yang memiliki anak perempuan, dan ia tidak menguburnya 
hidup-hidup, tidak menghinanya, dan tidak cenderung kepada anAk 
laki-lakinya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam sYurga.” 

Islam juga menetapkan bagaimana seorang suami harus memperlakukan 
isterinya, Rasulullah saw. bersabda: 

“Wahai manusia, memang benar kalian memiliki hak atas isteri kalian, tapi 
mereka juga punya hak atas kalian. Ingatlah, bahwa kalian telah mengambil 
mereka sebagai isteri atas kepercayaan dan izin Allah. Jika mereka taat, 
maka mereka berhak diberi nafkah dan pakaian serta kebaikan. Baik-baiklah 
kepada mereka, karena mereka adalah pasangan dan penolong kalian.” 

Penghargaan tinggi atas tugas-tugas perempuan sebagai ibu dan kepala rumah 
tangga juga diberikan Islam. 

Nabi saw. bersabda: 
“Pada masa kehamilan hingga persalinan, dan hingga berakhirnya maasa 
menyusui, seorang perempuan mendapatkan pahala yang setara dengan 
pahalanya orang yang menjaga perbatasan Islam.” (HR. Thabrani) 

Nabi saw. juga pernah bersabda: 
“Ketika seorang perempuan menyusui anaknya, untuk setiap tegukan itu ia 
akan mendapatkan pahala seolah-olah ia baru dilahirkan sebagai seorang 
manusia, dan ketika ia menyapih anaknya, para malaikat menepuk punggungnya 
sambil berkata, ‘Selamat! Semua dosa-dosamu yang telah lalu telah 
diampuni, kini semuanya berjalan dari awal lagi’.” (Raiyadhu as-Salihin)

________________________________
 
From:Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com [mailto: Nongkrong_Bareng2@ 
yahoogroups. com ] On Behalf Of aris dianto
Sent: 12 April 2010 9:14
To: Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com
Subject: Re: -:: Milist NB::-
Apakah Islam Bisa Maju ???
 
  
Diskusi apaan, sumber lu aja kagak jelas mau diskusi,
menarik apanya, tulisan yang lu tulis aja mencerminkan kemunduran bukan
kemajuan, lu bukan cari diskusi tapi cari berdebat, kapan majunya kalo berdebat
terus, hehehehhehehehehehh eehehhehehehhehe , lagi lagi nggak menarik.
mendingan lu ngomongin bagaimana caranya bikin lontong yang enak dan go
international, itu baru ngomong kemajuan, atau bagaimana combro bisa
mengalahkan hamburger di luar negri itu baru kemajuan jadi ya sudahlah,
pokoknya gak menarik.
 
 

________________________________
 
From:muskitawati
<muskitawati@ yahoo.com>
To: Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com
Sent: Mon, April 12, 2010 8:30:22
AM
Subject: -:: Milist NB::- Apakah
Islam Bisa Maju ???

  
Apakah Islam Bisa Maju ???

Jawabnya gampang, pertama jelaskan dulu definisi maju itu apa ??? misalnya,
kalo anda anggap definisi "maju" itu berarti kembali ke cara teladan
hidup Nabi Muhammad dizaman dulu, misalnya membuat api unggun dengan cara
mengadu dua buah batu ber-ulang2 hingga keluar apinya.

Atau, anda definisikan kata "maju" ini berarti kuliah di IAIN hingga
mendapatkan gelar doktor dibidang dakwah, maka cara ini bukan cara Islam
meskipun kuliahnya dibidang agama Islam. Karena tidak pernah ada teladan nabi
Muhammad yang nyatanya tidak pernah sekolah ataupun kuliah. Jadi kalopun anda
kuliah meskpun di jurusan Islam, tetap aja itu bukan cara2 Islam apalagi mau
dianggap sunah nabi.

Jadi, dari contoh2 diatas, yang namanya "maju" atau
"kemajuan" adalah perubahan, dan perubahan itu bisa negative atau
positive. Tapi yang umumnya disebut "maju" atau "kemajuan"
selalu maksudnya perubahan yang positive tentunya. Dan untuk perubahan yang
negative tidak pernah disebut kemajuan tapi sebaliknya dinamakan sebagai 
"kemunduran"
.

Jadi, kalo kita cuma berpegang bahwa "maju" atau "kemajuan"
adalah perubahan, maka akan jadi Jelas, Islam melarang perubahan, bahkan
ditekankan setiap katapun tak boleh berubah. Makin jelaslah, Islam yang tidak
boleh berubah atau diubah memastikan Islam tidak mungkin mencapai kemajuan.
Padahal, nabi Muhammad sendiri suka akan perubahan, bahkan dia sendiri adalah
pengubah dari jahiliah menjadi jahanamiah. Dan akhirnya dia digelari
pedophiliah, karena pedophiliah ini juga artinya mengubah, yaitu mengubah nasib
anak2 gadis yang tadinya punya harapan masa depan malah menjadi tidak
berpengharapan.

Jadi, Sunah nabi itu bukanlah artinya kemajuan, juga bukan status quo,
melainkan artinya mundur kebelakang dengan cara meniru segala kebiadaban dimasa
itu. Karena pedophilia dizaman dulu tidak dilarang dan tidak ada larangan,
barulah dizaman sekarang pedophilia dikutuk sebagai pelanggaran HAM dalam
merusak nasib dan masa depan anak2 gadis dibawah umurnya.

Demiianlah, kalo mau berpihak kepada kemajuan, otomatis pedophilia harus 
dilarang,
tapi kalo mau mempertahankan pedophilia berarti agama Islam mempertahankan
peradaban primitive dimasa lalu yang dikutuk dimasa sekarang.

Topik ini kayaknya cukup menarik untuk dijadikan bahan diskusi.

Ny. Muslim binti Muskitawati.
 
 


      

Kirim email ke