Sekedar ingin curhat,

Saya ke kantor sebetulnya hanya 30 menit pada saat jam biasa, tetapi 
sekarang menjadi 2,5 jam, dimana-mana macet, bahkan saya telah lewat jalan 
tikus, jalan kampung, semua jalan telah saya coba.
Akhirnya saya menemukan jalan baru dan mau tidak mau harus lewat tol, 
pertama byr 2000 kemudian 6000rb, demi menghindari macet padahal jarak 
tempuh hanya 13 km. Sangat menyebalkan sekali. Tapi tidak menjamin, ketika 
mau keluar pintu tol, jalanan sudah sangat macet. Sekarang pergi kekantor 
menjadi 1,5 jam.

Pemerintahan kita telah bejat krn semua program menjadi ajang bisnis agar 
keluarga mereka semakin kaya dengan mengalirnya rupiah ke kantong masing - 
masing krn semakin banyak proyek, membuat mereka semakin kaya. Kita 
sebagai rakyat hanya menjadi korban mereka, terkena macet yg semakin hari 
semakin makin parah. Jumlah mobil mewah dan baru yang semakin banyak tak 
terkendali, jumlah motor sudah seperti lalat hinggap dimakanan.

Busway akan membuat Pondok Indah banjir, masa penghijauan kita korbankan 
demi semen beton demi lewatnya busway dan proyek pemerintah yang ujungnya 
demi uang. Hanya JAKARTA SELATAN yg masih penuh dengan penghijauan 
dibandingkan dengan jakarta lainnya. Kita harus pertahankan dan bukan 
menghancurkannya.

Semakin tidak jelas jakarta ini.........................






"Erwin Arianto" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
11/13/2007 03:40 PM
Please respond to
[email protected]


To

cc

Subject
~Milis NB~ Ketika PEMROP DKI mengatakan busway bukan solusi macet






Begitu parahnya lalu lintas di jakarta saat ini, dan menurut pendapat saya 
tingkat kemacetan dijakarta sudah terlalu akut, apa lagi saat pembangunan 
busway bukan solusi yang ditawarkan tetapi bencana yang di dapat. 
 
            Sebagai pengguna jalan raya, yang saya inginkan, dan pasti 
juga n teman-teman inginkan adalah kenyamanan dalam jalan raya, tetapi 
saat ini yang kita terima kemacetan yang parah, tidak perduli waktu, pagi, 
siang, malam, libur atau hari kerja. 
 
            Saat ini jalanan adalah seperti sekolah, ya sekolah yang 
mengajarkan stress, sekolah stress yang sangat baik, dimana setiap orang 
dilatih untuk tidak sabar, dilatih gontok-gontokan. Penurunan kualitas 
hidup berada disini. 
 
            Saat kenaikan jalan tol, dengan tenang pemerintah mengatakan 
bahwa kenaikan sudah sesuai dengan undang-undang, yang bisa dilakukan oleh 
rakyat hanyalah menerima dengan hati tidak ikhlas dan penuh keterpaksaan, 
mau gimana ya pemerintahnya bela investor terus sih. Padahal jalan tol 
keadaanya tidak memadai, tetap macet, kok pelayanan payah bayarnya naik 
terus ya. Bayar kok macet!!! 
 
            Saat rencana pembangunan monorel, yang merupakan proyek yang 
bisa dianggap solusi, yang terjadi kemacetan semakin parah, dan ternyata 
tidak bisa terselesaikan, karena contraktor kurang dana. Yang terjadi 
sekarang seonggok tiang tidak terpakai… 
 
            Saat pemerintah DKI (gubernur sutiyoso) pertama kali 
mendengungkan program busway, banyak penentangan yang terjadi, dan apa 
yang dilakukan pemerintah, seperti biasa arogansi pemimpin, rakyat tidak 
digubris…. Dengan bangga dia berkata inalah yang dibutuhkan rakyat DKI. 
 
            Seiring dengan berjalannya waktu, busway ternyata tidak 
menjawab solusi kemacetan, dan saat menjelang lengser sutiyoso sebagai 
gubernur DKI terdahulu mengkebut proyek busway yang nota bene telah 
dikecam banyak pihak…adakah satu tanda tanya ada sesuatukah dibalik itu, 
bukan berburuk sangka.. dan telah menjadi rahasia umum ketika suatu proyek 
dapat dilaksanakan pasti terdapat upeti untuk penguasa. 
 
                        Pemerintah DKI boleh bangga bahwa busway telah 
mendapat anugrah menyelamatkan dunia dengan mengurangi polusi. Satu 
pertanyaan saya yang tak berilmu… benarkah hal itu, yang terjadi adalah 
Jarak tempuh sebelum busway dibuat dengan adanya busway mengalami waktu 
yang lebih lama, dan menghabiskan konsumsi BBM yang lebih banyak. Apakah 
ini mengurangi pulusi yang ada, dan saat banyak tanaman di tebang untuk 
proyek busway ironi. 
 
Membaca berita pada surat kabar… gubernur terbaru DKI fauzi bowo, 
mengatakan bahwa busway bukan lah salah satu solusi kemacetan. Betul bang 
fauuzi… karena busway.. kami semakin menderita di jalan. Saya yang 
berkendara dengan motor pun saat ini susah, tidak bisa cari celah jalan 
dan kestukan yang terjadi. 
 
Inikah program yang dibanggakan oleh pemerintah DKI, berikan kami solusi, 
sampai kapan kami akan tua dijalan, benarkah busway itu sebagai solusi, 
bahkan pemerintah DKI tidak bisa menjawab. Sampai kapan rakyat harus 
bersabar menghadapi kemacetan ini, ketika pejabat pemerintah menggunakan 
protokoler yang terasa nyaman dalam berjalan. 
 
Hanya membayangkan bagaimana jika terdapat keadaan urgensi, saat ada yang 
sekarat dalam ambulan, ketika terjebak kemacetan, susahnya menyelamatkan 
nyawa sesorang, ketika mobil pemadam kebakaran terjebak macet, berapa 
rumah yang harus menjadi korban. Ketika kita terdapat urusan bisnis, 
berapa nilai peluang yang hilang. Begitulah akibat kemacetan yang terjadi. 

 
"Hanya berharap mendapat kenyawaman dalam jalan raya. "
 
 
Dalam Perenunganku, Cape di jalan…
Depok 13 November 2007, 12:07
Erwin Arianto
http://blogerwinarianto.blogspot.com

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
えるウィン アリアンと
Internal Auditor 
PT.Sanyo Indonesia
Ejip Industrial Park Plot 1a Cikarang-Bekasi 
--------------------------------------------
See my Article On http://blogerwinarianto.blogspot.com/ 
 
______________________________________________________________________
This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System.
For more information please visit http://www.messagelabs.com/email 
______________________________________________________________________


______________________________________________________________________
This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System.
For more information please visit http://www.messagelabs.com/email 
______________________________________________________________________

Kirim email ke