Kalo boleh nimbrung..
saya ingin sampaikan pandangan pribadi sebagai orang yang sudah jauh lebih
tua..
memang dimana mana, di instansi manapun, mutasi selalu membawa masalah,
jangankan mutasi.. pindah rumah aja yang masih se kota pun..
pasti selalu diikuti dengan berbagai macam masalah
nah kalo mutasi keluar kota, dan harus pisah dengan orang tua, itu lazim ya,
karena disaat kita berangkat dewasa
tentu mereka maklum dan mahfum. bahkan kadangkala malah bangga
karena salah satu cita cita mereka menyekolahkan anak nya
adalah mengharap agar anak anaknya kelak bisa mandiri..
tidak selalu nggelendoti orang tua.
dan bagi sang anak, tentunya membantu orang tua kan bisa saja dilakukan dari
jauh.
kalo soal pisah dengan istri/suami..
nah ini lho yang saya rasa perlu di cermati lebih dalam
istri dan suami kita harus di beri tahu.. agar mereka juga maklum dengan
status kita
kita sendiri waktu masuk di departemen keuangan kan sudah maklum soal ini..
bahkan kita sudah tanda tangan surat perjanjian bersedia di tempatkan di mana
saja.
apakah sudah berbeda ya.. (kalo saya salah, mohon di koreksi)
apakah sudah beda semangat tempo dulu dengan semangat saat ini..
tapi koq rasanya tidak berbeda..
karena salah seorang yang menanggapi bilang tidak peduli ditempatkan di ACEH
mudah2an semua teman teman yang lain juga sependapat..
dulu karena saya masih muda dan belum menikah,
mumpung masih bujangan, belum ada tanggungan keluarga
saya malah tantang kasubag kepegawaian..
saya minta di tempatkan di tempat yang paling jauh.."kalo bisa di IRIAN
Pak"..
namun tokh akhirnya hanya ditempatkan di ambon.
tapi ingat .. saat itu ambon bukan ibukota propinsi..
hanya ada satu kali penerbangan dari jakarta ke ambon dalam seminggu
Bandara Pattimura, masih sama dengan stasiun purwakarta
ruang tunggu nya masih kayu, belum ada gedung tembok batu seperti saat ini
angkat koper sendiri dari pesawat ke luar bandara
dan cari angkot untuk bisa sampai ke terminal kapal laut
dari situ kita naik perahu sampe POKA yang ada diseberang teluk Ambon.
dari ambon saya pindah kembali ke jkt karena melanjutkan kuliah..
saya pun pernah alami depresi seperti anda sekalian..
mungkin karena hidup di jakarta ya.. di ibukota ini banyak sekali godaan..
lihat kanan kiri.. teman satu SMA, sudah pada jadi semua..
lihat adik adik yang kerja di swasta sudah lebih mapan.
itu semua menggoda saya untuk lari keluar dari departemen keuangan.
ya.. saya pernah alami.. coba lamar sana sini.. gagal..
dan akhirnya saya yakin... seyakin yakin nya
bahwa departemen keuangan adalah tempat saya berkarier.
bakat dan talenta masing masing orang itu berbeda beda
seorang teman saya satu SMA
dulu kami sama sama bersaing mendapatkan nilai tertinggi di kelas
kalo boleh di bilang.. kami ini berimbang, tapi itu dalam kelas..
dalam kenyataan nya dia lebih pandai bergaul.. maka dia berhasil di swasta
kalau saya ikuti dia pindah ke swasta.. tidak mungkin akan berhasil seperti
dia.
sama juga mungkin di zaman sekarang,
banyak pegawai muda yang tergoda ..
akan kehidupan dan kebiasaan hidup di kota besar..
sehingga.. menjadi lebih mudah mengeluh bila di tempatkan di kota kecil
menjadi lebih tidak tahan banting karena tidak semua sarana ada.
sehingga mengungkapkan berbagai alasan
untuk minta ditempatkan dekat dengan orang tua, yang kebetulan hidup di
ibukota propinsi
atau menjadi tidak berani mengajak keluarga ke tempat tugas
dan sebaliknya juga tak mau pisah dengan keluarga,
hanya berangan angan kerja di ibukota propinsi..
dan menjadi lebih cepat terpancing ikut teman keluar dari departemen
keuangan.
satu hal mengenai penempatan (mutasi), yang saya ingin sampaikan..
sebetulnya ditempatkan di mana saja itu sudah suratan kita.
dan camkan, Allah SWT selalu ingat kepada kita umat nya..
anggaplah penempatan ini adalah yg terbaik yang ALLAH pilihkan untuk kita.
pasti ada hikmah nya..
dan kalo soal rezeki.. pasti ada.. dimana saja.
bukankah rezeki itu bukan sesuatu yang hanya berbentuk materi ya..
waktu di pontianak, saya mendapat rezeki bisa baca Al Quran..
di Tasik saya mendapat rezeki mengenal komputer, dan di usulkan sekolah ke LN.
mengenai pola mutasi dan pola promosi yang banyak di sorot akhir akhir ini
saya sebetulnya ingin bertanya kepada anda anda yang masih muda
bagaimana sih pola mutasi yang anda sekalian kehendaki?,
bagaimana sih koq anda sekalian bisa bilang bhw pola mutasi yang tidak
manusiawi
coba deh tunjukkan mana pola yang tidak manusiawi.. ceritakan, sebutkan..
saya sendiri sebagai pegawai yang sudah tua
yang sudah banyak makan asam garam soal mutasi berpendapat sbb:
pola mutasi saat ini sudah lebih baik dari pada zaman dulu,
di zaman sekarang ini, (kalo pegawai tsb statusnya normal),
maka para pegawai sudah di perbolehkan mengusulkan (memilih) salah satu dari
2 macam mimpi
a. di tempatkan di satu daerah ttt tak peduli di jabatan apa saja
b. di tempatkan di satu jabatan ttt tak peduli di kota manapun.
coba lah.. ajukan dengan surat
mudah2an mimpi yang anda minta itu dapat di penuhi oleh bagian kepegawaian..
selain itu untuk soal promosi sudah di terapkan
bahwa masuk dalam orbit harus dimulai dari kota yang berada di ujung..
namun demikian, bukan kah memang sudah di akui oleh bpk sekretaris
bahwa setiap kali ada putaran mutasi/promosi,
tidak bisa 100 persen memuaskan semua yg di mutasi
70 - 80 persen memuaskan orang yang di mutasi,
sudah di anggap sebagai mutasi yang baik.
khsusus bagi para Lulusan PRODIP, ada ketentuan lain..
bukan kah sudah di ketahui bahwa lulusan ini
sebetulnya diperuntukkan membantu kantor di daerah..
hanya saja, kemarin waktu baru lulus,
belum secara langsung bisa di tempatkan di daerah kecil,
mengingat dana masih terbatas
sehingga lulusan prodip di titipkan sementara di kota kota besar.
namun "sementara" nya itu, berlangsung cukup lama.. karena ada REORGANISASI..
ada yang di satu tempat sampe 4 tahun..
sudah ke bablasan enak .. sudah ada yang berkeluarga
dan ketika program sudah mulai dapat berjalan,
dan para prodip mulai di tempat kan di kota kecil..
maka meraung raung lah para istri
yang sama sekali tidak tau menau tentang ada nya kontrak
yang sudah di tandatangani oleh para lulusan prodip kepada Departemen
Keuangan.
nah kini saya sampaikan pengalaman saya pribadi waktu masih muda..
di ambon sebagai pelaksana tahun 1975 - 1978
menikah tahun 1977 istri saya kerja di jkt saya di ambon
1978 ikut pendidikan di jkt lulus S1 th 1980
di tempatkan di tasik 4 tahun.. istri berhenti kerja.
sekolah lagi lulus S2 tahun 1991
tempatkan di dumai, 2 tahun istri ikut.
1994 kembali ke jkt , istri kerja lagi..
ada lagi cerita seorang teman saya,
ketika masih muda di tempatkan di padang.
meminang istri seorang gadis sumatera barat,
dan di karuniai 3 orang anak kemudian promosi ke singkawang
ketika di singkawang ternyata anak pertama OTIS..
sebulan sekali suami istri itu mengantar anak berobat ke Pontianak,
tak pernah keliatan putus asa..
kalo tidak persis mengenal mereka
tak bakal tau bahwa mereka sedang di rudung lara
sedang di coba oleh Yang Maha Kuasa
syukur dua tahun saja di singkawang,
mereka kemudian pindah ke semarang, di kota ini lebih mudah berobat.
cukup 2 tahun bergelut di semarang, kini berhasil masuk jakarta.
kemenangan hari ini bukan lah berarti kemenangan esok hari.
kekalahan hari ini bukan lah berarti kekalahan esok hari.
mengutip bluelava "hidup adalah perjuangan tak henti henti" (dewa ya)
nah kesimpulan nya yang ingin saya sampaikan,
1. pola mutasi dan pola promosi yang ada saat ini sudah baik..
2. Mumpung masih muda, minta tempat yang jauh, lambat laun pasti akan
bergeser ketempat yg dekat
3. rezeki itu ada dimana saja.. bukan hanya ada di kota propinsi
4. kalau terlanjur berkeluarga, ajak lah istri dan anak ikut bersama di
tempat tugas (saya setuju pendapat indra zabrik)
5. jangan keluar dari departemen keuangan.. karena itu malah akan menambah
masalah.
6. untuk kasus Nugroho dan Pasaribu.. tentu ada dispensasi, akan saya usulkan
ke kantor pusat agar boleh di tempatkan di kota Propinsi..
demikian lah tanggapan saya..
kalo saya salah meneropong, mohon di koreksi
wassalam
indra_jabrix <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Respon dari teman2 lain di milis tetangga
Re: stapala Fwd: numpang curhat lagi
Aku benar-benar menaruh simpati atas keadaan yang menimpa Pasaribu dan
Nugroho. Salam kenal buat kalian. Hati aku langsung 'connect' saat
membaca rintihan hati kalian, karena aku pernah mengalami dimutasikan
di luar jawa (Kupang). Bagaimana perihnya dipisahkan dari keluarga
(saat aku tinggal, isteriku meraung2 kayak mau ditinggal mati),
bagaimana sesaknya dada saat melihat mainan anak2 di toko, seketika
itu juga ingat anak. sampai2 aku kira aku kena sakit asma atau
jantung. Ternyata apa yang aku alami tidak ada apa2nya dibandingkan
pedihnya Pasaribu dan Nugroho ini.
Aku sementara ini telah mencoba membantu dengan meneruskan cerita
kalian ke Sekretariat Ditjen PB Up. Kabag Kepegawaian via website
perbendaharaan, mudah2an sampai kepada Pak Sis dan Bu Anandi. Dalam
waktu dekat akan aku coba langsung kirim ke email beliau2 langsung.
semoga ini salah satu jalan dan berhasil.
Sebuah pertanyaan telak kepada Allah saat aku 'dibuang' ke Kupang :
Ya Allah, apakah Engkau akan menghancurkan aku. Katanya Engkau Maha
Pengasih dan Penyayang?
Wassalaam
Joko Teguh
Ruarrrr biasa pengorbanan teman2 kita ini .... Saya bisa merasakan
kesedihan, keputusasaan, kekecewaan hidup, rasa bersalah mengambil
keputusan (masuk stan), dan ketidakberdayaan .....
Teman2 seperti ini sangat pantas dibantu .... tapi saya nggak tahu
bagaimana cara membantunya .....
Ossy
simpathy juga aku berikan pada nugroho dan pasaribu, memang banyak
bedanya kalo kita berkeluarga sama sendiri dulu aku gak terlalu peduli
mau ditempatin di manapun karena gak punya beban keluarga, sempat di
zona GAM aceh mau mati entah berapa kali, tapi setelah aku berkeluarga
ada beban untuk memberi kehidupan pada istri dan anak2, Mas Joko aku
mungkin pesimis tapi apa salahnya ya dicoba.karena aku jg pernah
mengajukan surat minta pindah atas biaya sendiri ke bu Anandi ga ada
tanggapan, ke kanwil 26 sampai 3 kali ga ada tanggapan, kayaknya
mereka ga peduli sama sekali ko sama pegawai di daerah..
Hanya pada Alloh saya Mohon Pertolongan...
zamzam
Re: stapala Fwd: numpang curhat lagi
mmhh, crita mas nugroho sm bang pasaribu adalah salah dua skesta hidup
yang mengharu biru peg. djpbn. gue jg ngrasain gmn hidup di daerah
terpencil jauh dr kluarga. sepi, jenuh, stress jd sobat karib.
bedanya, alhamdulillah gue lebih beruntung karna dgn prjuangan yg
ruarr biasa dan iringan doa bisa lulus S1 n dpt istri yg sholeha di
sana :-)
Kadang2 klo mendengar/membaca kisah2 sprt merka gue lsg dumel " pola
mutasi jelek bgt, pejabat buta n tuli apa ya" tapi Kita perlu
menyadari bahwa mengatur pgw di sluruh nusantara adalah hal yg amat
sulit. pasti ada yg mrasa adil dan tidak adil. Syukur2 klo kita punya
kekuatan untuk memperbaiki system kepeg djpbn, klo kta ga bisa apa2
maka kta hrs pinter2 nyari jalan kluar. Menurut Agama yg saya anut,
Allah menebarkan rejeki dmana-mana. wkt gue depresi gue smpt rencana
kabur pengen balik ke jakarta, cuti gue manfaatin buat coba nglamar2
di swasta dgn harapan klo dpt, gue kluar djpbn (DJA wkt itu). Tp Allah
punya rencana yg lebih sempurna dr rencana gue. Allah ga memberi
ksempatan gue kluar dr lingk. depkeu. meskipun gue jg coba ngelamar ke
bank indonesia. dan skrg ini yg gue pahamin bhw depkeu adalah jalan
hidup gue.
benang merah dr crita gue yg mbulet adalah tetap berjuang mas, baik
ngusahain pindah ato kluar dr DJPBN disamping bdoa mohon diberikan yg
tbaik. Saatnya bukan untuk menyesal tapi memandang jauh ke depan.
lepaskan busur asa k arah yg kta yakini benar (sok puitis nih). dan
yang penting jg coba membangun hubungan/network. (beruntung gue punya
sahabat-sahabat)
mengutip lagunya dewa: hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti..
gepenk529
bluelava.cjb.net
Yahoo! Groups Links
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]